Cerita Hot Terbaru: Petualagan Birahi Syam (Bagian III)

Koleksi cerita hot terbaru 2018

Cerita Hot Terbaru
Cerita Hot Terbaru

Cerita hot terbaru ini merupakan bagian ke 3 dari cerbung Petualangan Syam. Jika kamu belum membaca bagian seblumnya, silahkan diikuti melalui index ini:

Index Cerita

Petualangan Syam Bagian I

Petualangan Syam Bagian II

Petualangan Syam Bagian III (di halaman ini)

Petualangan Syam Bagian IV

Cerita Hot Terbaru – Petualagan Birahi Syam (Bagian III)

Cerita Hot Terbaru Episode 6 – Pantura dan Madura

Sebagaimana lazimnya layanan tempat hiburan, termasuk massage dan spa tutup sepanjang bulan puasa. Eni pun pulang ke Gantar Indramayu tempat asal dia berasal. Di sana masih ada kedua orang tua, anak perempuan kelas 3 SD yang merupakan kebanggaannya dan kumantan suaminya yang dahulu menghabiskan uang Eni hasil bekerja di Saudi untuk mabok-mabokan, main cewek dan gonta-ganti motor.

Begitu Eni pulang, setelah merantau selama total 4 tahun di Saudi, duit habis, anak perempuannya terlantar dititipkan orang tua Eni yang miskin dan Wanto, nama lelaki itu semakin menyengsarakannya dengan berbagai kelakuan minus lainnya.

Diajak oleh kawan sepermainannya dulu, Eti, untuk bekerja ke Jakarta, uang habis dan derita membuatnya, segera menyetujui ajakan itu. Malam sebelum betangkat, digendongnya Fitria anak perempuan kesayangannya, berjalan menyusuri pematang, melihat bintang sambil menyenanduntkan ungkapan sayang dan mengutuki Wanto lelaki berengsek yang membuatnya penuh dendam.

Janji Eni kepada Fitria sederhana, dia akan menghantarkan Fitria tumbuh besar, sekolah, menikah dengan lelaki baik entah darimana namun tidak dari kampungnya dan tidak akan melewatkan Lebaran tanpa mereka berdua bersama.

Esoknya, Eni berangkat bersama Eti, naik bis Luragung Jaya dari pertigaan Patrol. Sepanjang jalan Eni terdiam meratapi penghianatan suaminya. Perjalanan ke Jakarta sepenuhnya di bawah kendali Eti, dia hanya mengantongi uang 50 ribu, hasil dia menjual berbagai barang hasil bekerja di Saudi yang masih tersisa. Tiket dan biaya perjalanan lainnya ditanggung Eti. Lenggak-lenggok pengamen karaoke, seorang perempuan berdandan menor dengan membawa sekotak amplifier, ada speaker dan pemutar kaset membuatnya semakin ngilu.

Sampai di Terminal Pulo Gadung pukul 15:00, setelah berdua membeli sepotong semangka dari pedagang buah grobak dan minum air mineral kemasan dilanjukanlah perjalanan. Sampailah mereka di sebuah kampung bernama Pademangan, sebuah perkampungan padat terletak di antara Kemayoran dan Mangga Dua. Sebuah rumah petak berisi 3 ruangan, satu depan sebagai ruang tamu, ruang tengah tempat dimana lemari besar dan sebuah tempat tidur terletak, dan paling belakang adalah kamar mandi dan dapur.

Inilah rumah tinggal Eti di Jakarta, banyak barang bagus menurut Eni, ada kipas angin, magic jar, televisi besar dengan pemutar dvd di ruang tamu dan tempat tidur empuk bersprei pink yang tampaknseperti di sinetron.

Setelah mandi dan makan pecel lele, Eni menonton tv sementara Eti pergi entah ke mana. Pukul 22, Eti pulang bersama seorang lelaki kekar yang dipanggilnya Bang Rudi. Lelaki ini naik motor Tiger, gagah sekali, rambutnya pendek rapi, berkalung emas besar dan ketika membuka jaket terselip pistol di pinggangnya. Eti memperkenalkan Bang Rudi kepada Eni, “En, Bang Rudi ini yang akan mencarikan kamu pekerjaan besok” Eni tersenyum sopan, Bang Rudi pun tersenyum dan mengajaknya bersalaman.

Setelah basa-basi sejenak, Eti bilang ke Eni, “En, kamu tidur di depan ya, gelar kasur lipat nanti kursinya di pinggirin aja, malam ini Bang Rudi nginep sini soalnya sudah kangen ….”.
Motor Tiger Bang Rudi dibawa masuk, membuat ruang tamu yang sempit menjadi semakin sempit karena penuh, Eni mematikan lampu ruang tamu, Eti minta Eni ke kamar mandi sekarang, karena nanti mungkin akan sungkan lewat ruang tengah yang terbuka.

Lampu tempat tidur Eti pun berganti redup dengan nuansa biru hangat dari cover lampu dinding berbentuk lumba-lumba berwarna biru.
Eni tidak bisa tidur, semakin gelisah karena suara-suara desah yang tampaknya sengaja diperkeras oleh Eti untuk memprovokasi. Antara tersulut birahi dan takut Eni terduduk di kursi dalam posisi terpojok oleh susunan ruang yang berantakan oleh keberadaan motor besar Bang Rudi. Pikirannya memgembara dan berpetualang menelusuri segala kemungkinan pekerjaan macam apa yang akan dia dapatkan dari Bang Rudi.

Sementara suara kecipak dan dengusan Eti sepertinya sedang mengulun, menghisap dan menjilat kelamin Bang Rudi mengalahkan takut dan menyulut penasaran. Eni berdiri perlahan, mencari posisi yang pas untuk bisa mengintip adegan ruang sebelah. Pas di suatu titik dia bisa melihat pantulan adegan Eti dan Bang Rudi dari spion Tiger yang stangnya serong ke kanan terkunci stang. Tersembunyi dalam gelap ruang tengah, Eni bisa leluasa melihat tahap-demi tahap bagaimana Eti tampak menghamba sekali kepada Bang Rudi.

Cerita Hot Terbaru | Paha bagian dalam hingga selangkangan Bang Rudi diciumi Eti dengan penuh nafsu, dijilat, dihisap dikecup. Bang Rudi tampak terlentang seolah tak peduli, pasif dan matanya terpejam. Sementara Eti melata-lata telanjang seolah menghisap energi dari setiap pori Bang Rudi sambil sesekali mendongakkan kepalanya melihat reaksi mengharap sekedar wajah puas atau tatapan nikmat. Sementara tubuh gempal kekar itu, hanya mengangkang pasrah terserah tidak begitu peduli.

Eni berdiri gemetar perasaannya campur aduk antara gairah liar dan takut, dia berpikir, apakah perkerjaan seperti ini yang akan dia lakukan, pekerjaan menjilati Bang Rudi sampai licin tandas? Ah aku tidak peduli, batin Eni yang penting aku bisa punya uang membalas dendam kepada Wanto dan menyekolahkan Fitria.

Tiba-tiba, suara Bang Rudi terdengar penuh emosi,
“He perempuan kampung! Kamu ngentot sama siapa di Kampung? Sama tua bangka itu lagi? Brengsek! Perempuan tak tahu diri!”
“Ampun Abangku sayang, diriku hanya milikmu baaang!”
“Bohong! Kamu pasti ngentot berkali-kali sama Rusdi! Mentang-mentang dia kaya, juragan padi! Memang kontolnya masih bisa ngaceng?!”
“Nnggak Bang! Cuma dua kali, aku gak terpuaskan kok, Pak Rusdi cepet keluarnya dan kontolnya lembek…. Hu hu hu…” Eti mulai menangis tersedu.
Pak Rusdi memang tuan tanah di kampungku, orang tua Eti bekerja di tempat Pak Rusdi.
“Bangsat kamu ya… ! Rasakan ini!”

Eni melihat ke pantulan spion Tiger, Bang Rudi menjambak rambut Eti, ditarik nya ke belakang, badan Eti disuruhnya nungging, pantatnya mendongak sedang kepalanya juga mendongak akibat dijambak. Kelamin Bang Rudi besar dan tegak mendongak, diarahkannya dengan tangan kiri memasuki memek Eti, disodokkannya dengan kasar, lalu dipompa dengan sekuat-kuatnya, otot-otot Bang Rudi tampak bertonjolan, posenya sungguh lelaki, tangan kanan menjambak rambut, tangan kiri memegang pinggang sementara kedua kakinya setengah jongkok mengimbangi posisi pantat Eti. Pompaan pinggulnya sungguh kuat, wajah Eti dibenam di bantal, ayunan pinggul semakin kuat, tangan kiri Bang Rudi menampari pantat Eti sehingga tercipta kombinasi suara, merdu antara kecipak memek basah dihajar kontol dan pantat ditampar.

Eti tampak meronta, dia seperti kehabisan nafas, Bang Rudi menahannya sambil tetap menggenjot dan tiba-tiba Bang Rudi meraung dalam, “Aaaaaaaaah…. Enak gak sekarang? Enak mana dengan Rusdi?”

Eti kehabisan nafas dan mengalami almost death orgasm yang luar biasa. Keduanya ambruk bermandi peluh, Eti tersenggal-senggal Bang Rudi terkapar dengan nafas-nafas dalam dan panjang.
Eni berpeluh dan wajahnya terasa tebal, dia gak bisa tidur tentu saja, ada hasrat ingin diaetubuhi Bang Rudi yang sangat kuat, ingin menyusul ke tempat tidur dan ikut menjilati kontol besar Bang Rudi, namun dia tidak berani.

Eni berbaring di kasur lipat, tangannya meraba klitoris, permukaan bibir vagina hingga tepi anus. Terasa basah dan nikmat, dicarinya posisi jari yang pas, lalu dengan menggigit bibir dia menggosok kuat-kuat memeknya dengan tangan kiri hingga terasa nikmat dan Eni terlelap.

—-

Di apartemen Eni Kalibata City, apartemen yang kosong membuatku segan berkunjung. Namun pekerjaan dari Mida terkait penelusuran leluhur di Madura membuatku perlu tempat untuk bekerja.

Aku masuk apartemen tempat tinggal Eni dan Citra, ruangan kosong.
Bekerja mempelajari berkas awal, menyeduh kopi dan mendengarkan lagu, keheningan yang jarang aku nikmati.

Malam menjelang, aku sengaja hendak tidur di sini menunggu Citra, hmm terbayang apa yang akan aku lakukan kepadanya. Aku akan ajarkan dia menjadi dewasa.

Citra pun datang, pukul 22:30 an. Namun dia tidak sendiri, ah sungguh menyebalkan. Citra datang bersama seorang kawannya, lelaki gemulai teman kerjanya. Citra mengatakan bahwa temannya dan dirinya baru saja mendapat SP2, karena mereka berdua dituduh lalai dalam menyajikan hidangan hingga tekonya terjatuh di depan tamu. Mereka terancam tidak akan mendapat THR dan mendapat potongan gaji.

Setelah sesi ngobrol usai, laki-laki melambai itu pun pamit sambil nyerocos hebo, ” eh citra kamu ya katanya gak punya lekong… Huuh! Boong!” Sambil keluar pintu.

Citra duduk di seberangku, kepalanya tertunduk, terbawa suasana heboh so lelaki gemulai tadi, dia masih tanpak ceria namun menahan diri. “Sini…” Tegurku sambil merentangkan tangan kode untuk memeluk. Citra mendekat, tersenyum dan menyambut pelukanku.

Dia duduk miring di pangkuanku, tangannya melingkari leherku dan aku memegang kedua pinggulny. Aku kecup bibirnya lalu keningnya. Citra tidak berreaksi. “Sudah sana mandi, nanti kita cari makan sambil ngobrol”

Cerita Hot Terbaru | Aku masih meneruskan menelaah dokumen, Citra selesai mandi dan ketika kuajak makan dia tidak mau. Akhirnya kita minun air putih dingin sambil makan jambu air.
“Citra, kamu keluar saja lah besok, gaji dipotong, gak dapat THR, buat apa diterusin”
“Lalu aku kerja apa Kak? Kini ia memanggilku kakak, hmmm pertanda baik.
“Jadi asistenku aja, aku ada proyek di Madura selama sekitar 10 hari, kamu atur-aturlah, nanti aku ajari.. yang penting nanti lebaran kamu bisa pulang kampung dan bawa uang..”
“Okeee kakaaaak, terimakasiiih” dia mendekat memelukku dan menciumiku.

Baiklah, aku akan membimbingku menjadi asisten sekaligus partner dan tentu saja kuajari kamu untuk menjadi dewasa.
“Kamu WA Kak Eni, bilang kamu dikeluarkan kerja dan mau kerja ke Madura ikut Kak Syam” aku berkata sambil melucuti baju Citra.

Ketika aku menjilati puting kecil pinky Citra, terdengar hpnya berbunyi bahwa ada pesan masuk. Dari Eni katanya, “Ya wis nok, kerja bae nang Mas Syam, kalau dia mau gituan kasih aja… , kamu kan sudah kepengen dari kapan tau”
Citra menyodorkan hpnya untuk kubaca.

Hmmm aku yg bertipe dominan, menjadi sedikit illfeel melihat pesan itu. Tapi ya sudahlah, aku sudahi cumbuanku, aku ajari Citra pesan tiket dan hotel ke Surabaya, lalu membayarnya dan aku pun tidur tanpa menyentuhnya lagi malam ini. Entah besok di Madura.

Cerita Hot Terbaru Episode 7 – Berbantal Ombak

Menapaki Surabaya di terik siang hari menguras energi dan membuatku hanya fokus segera sampai tujuan, kamar hotel yang dingin. Citra yang sedang berperan menjadi asisten pribadi dan baru kali ini naik pesawat tampak canggung, sengaja aku tidak tegur dia, kubiarkan belajar dari melakukan, Learning by doing.
Mobil rental yang dipesan Citra sudah tersedia, pengemudinya Cak Durakim, bapak-bapak asal Sampang Madura kira-kira berusia 65 tahunan. Cak Dur, demikian aku memanggilnya, ramah dan pandai berkelakar, rupanya beliau pensiunan sopir bis AKAP Sumber Kencono yang legendaris, terkenal karena kenekatan dan kecepatannya. Cak Dur berkelakar, kalau sopir madura itu pantang mundur maju terus seperti karapan sapi.

Setelah berhenti sebentar mengisi bahan bakar dan membeli minuman, kami melanjutkan perjalanan menyeberang Jembatan Suramadu. Targetku adalah sampai di kota Bangkalan sebelum maghrib. Dari berkas yang diberikan Mida kepadaku, salah satunya adalah selembar kulit, entah kulit apa, bertuliskan rajah dan semacam ijazah berhuruf arab gundul yang dikenal juga dengan arab pegon atau huruf jawi. Aku akan mencari tahu asal-usul leluhur Mida jalur bapaknya dari secarik rajah itu melalui seorang kenalanku tokoh masyarakat Madura di Bangkalan.
Sampai di rumah kenalanku yang juga pengasuh madrasah dan pesantren sekitar jam 17:00, basa-basi sejenak dan Muhtar kawanku itu mengerling dan berbisik, “Sudah nambah satu lagi istrinya?” sambil kembali mengerling, kali ini ke arah Citra, aku hanya tersenyum dan Citra tampak bingung namun dia menyesuaikan dengan senyuman juga.

Sambil duduk dan basa-basi, kuutarakan maksudku datang ke Madura ini, mencari tahu darimana asal rajah yang kubawa dan siapa tahu ketemu atau mengenali pemiliknya. Muhtar melihat sejenak, lalu bilang, “Nanti aku tanya-tanya saudara-saudaraku, besok pasti sudah ada info, rajah seperti ini khas dan pasti ada tanda siapa yang mengeluarkan, tenang saja…”

Kami pun melanjutkan obrolan, ketawa-ketawa mengenang masa lalu ketika kami pernah terombang-ambing ombak di atas pompong yang mati mesinnya di Selat Malaka antara Port Dickson dan pulau Rupat ketika kami masih menyelundupkan orang dari dan ke Malaysia. Bagaimana pompong kami dikejar speed boat patroli polisi Malaysia dan berhasil lolos dengan mengecoh mereka menggunakan terpal biru dan jerigen kosong yang dilempar ke laut. Kawan berpetualangku ini tiba-tiba memberikan kejutan, “Syam, kamu belum pernah bercinta di atas Mercusuar kan? Aku kasih kamu kesempatan sebagai hadiah … Ha …ha … Ha.!” Ada aja ide Si Muhtar gila yang sekarang sudah insyaf itu.

Cak Dur diminta tidur di kamar tamu dekat mushola keluarga Muhtar, setelah Isya’ Muhtar mengantar aku dan Citra ke sebuah mercusuar di Pantai Sembilangan, tak jauh dari Bangkalan. Sebelumnya Muhtar membelikan bekal minuman dan biskuit untuk di atas katanya.

Cerita Hot Terbaru 2018 | Sebuah mercusuar tegak menjulang, lampunya menyala terang sementara lingkungannya tenang tidak tampak aktifitas orang. Pintu masuk ke dalam mercusuar terkunci dengan gembok besar, Muhtar bercerita bahwa sementara ini mercusuar ditutup untuk umum, alasannya sih karena konstruksinya sudah mulai lapuk, padahal Muhtar membayar penjaga Mercusuar sewa 2 bulan, karena dia sedang senang bercinta di pucuk mercusuar itu. “Dasar orang gila” batinku.

Menara suar itu dibangun pada jaman Belanda, tepatnya tahun 1879, terdiri dari 17 lantai dengan tangga putar untuk naik ke atas. Muhtar membuka pintu, menyerahkan gembok dan lampu senter, “Nanti kalau sudah mau balik ke rumah, telepon aja, gembok lagi pintunya lalu jalan ke arah tempat mobil kita parkir tadi, aku jemput di sana”

Aku dan Citra menaiki menara setinggi 78 meter ini tangga demi tangga dengan bantuan penerangan lampu senter yang aku bawa.

Cukup menguras tenaga dan menghabiskan nafas, namun kami sampai juga di selasar paling atas. Ada segulung tikar dan sebuah bantal di sana, serta sebuah kompor camping serta alat masak, ada mie instan, air mineral, kopi dan STMJ. Kami pun duduk menghela nafas, minum air mineral lalu melihat melalui jendela selat madura yang bertabur cahaya di pinggir-pinggirnya. Kami terlindung dari cahaya mercusuar, namun angin malam terasa sejuk berhembus.

Aku memutar musik dari gadget mengisi dengung lampu dengan nada dan lagu berirama rock-nya Janis Joplin, Piece of My Heart. Citra tampak termangu di jendela, memandang kejauhan, entah apa yang dipikirkannya. Akankah kusetubuhi Citra di atas menara bikinan Belanda ini? Aku tersenyum sendiri, selain Muhtar, adakah orang lain yang cukup gila bercinta di puncak mercusuar? Apakah aku?

Terbersit ide untuk mengerjai Citra, aku akan telanjang bulat dan tiduran di tikar, kira-kira apa yang akan dilakukannya? Kubuka seluruh pakaianku, benar-benar bugil.
“Mas ngapain? Kok telanjang”
“Ini syarat untuk mendapatkan wangsit di mercusuar ini, harus telanjang dan benar-benar konsentrasi memikirkan apa yang dicita-citakan”
“Oh… Gitu ya?”
“Iya, kamu dong sekalian mumpung di sini”
Citra mengikutiku, membuka seluruh pakaiannya, namun dia tidak membuka celana dalamnya.
“Kok gak dibuka cdnya?”
“Aku kan lagi mens Mas.. nanti belepetan!”
Bangsat betul, aku kehilangan selera. Akhirnya aku pun bersemedi telanjang sementara Citra bingung mau ngapain. Pukul 22.00 kami pulang ke rumah Muhtar.

****

Dinihari waktu madura, suasana pesantren Muhtar tidak begitu ramai, santri sebagian besar libur hanya tersisa mereka yang mau terus belajar hingga lebaran menjelang. Kami dijamu makan sahur, aku hanya minum kopi, Citra sambil mengantuk juga hanya minum teh manis secangkir. Sementara Cak Dur dan Muhtar makan Nasi berlauk udang dan bandeng serta sambel tempe penyet dengan porsi besar.

Setelah subuh, Citra diajak istri Muhtar ke pasar sambil jalan-jalan dan akupun duduk di beranda bersama Muhtar menyambut matahari madura yang walau hari masih pagi sudah mulai terasa menyengat.

Muhtar bercerita bahwa berdasarkan informasi yang dia kumpulkan, rajah atau jimat berkulit kijang itu dibuat oleh seorang Kyai di Kalianget, ujung timur Madura, disitu tertera tanda yang merujuk kepada tahun ijazah dari jimat/rajah tersebut, yakni awal tahun 1965. Kiai Soleh Solihun nama pemberi ijazah itu. Informasi tersebut mudaj didapat karena memang pada masa itu banyak sekali Kiai yang mengeluarkan jimat kekebalan dan keselamatan karena situasi politik dan keamanan tahun 65 di Indonesia memang sedang genting.

Aku keluat bersama Cak Dur, membeli beras, minyak goreng, gula dan sejenisnya untuk aku berikan ke Muhtar, selain sebagai tanda terimakasih juga ikut membantu mencukupi kebutuhan madrasah. Menjelang siang kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Kalianget.

Menyusuri pantai selatan Madura, melewati Sampang dan Sumenep, setelah 5 jam perjalanan kami sampai di Kalianget. Kali ini Cak Dur berperan mencarikan alamat Kiai Soleh Solihun, bertanya di beberapa tempat hingga akhirnya diketahui Kiai Soleh telah berpulang 2 tahun lalu, namun kami mendapat alamat tempat tinggalnya, tidak jauh dari pelabuhan Kalianget.

Menurut Cak Dhori, lelaki seusia Cak Dur, cantrik atau asisten Kiai Soleh saat itu, rajah seperti yang aku bawa ini waktu itu dibuat untuk sekelompok pelaut, jumlahnya 5 orang, mereka berniat merantau ke Singapura waktu itu dan memohon bekal jimat kepada Kiai Soleh. Cak Dhori masih ingat nama-nama para pelaut itu, yakni Sardju, Keleng, Odeng, Tarbak dan Sanusi. Sardju dan Keleng meninggal karena sakit tua di kampung halamnnya. Odeng meninggal di tempat anaknya yang bisnis besi tua di Jakarta, Tarbak sekarang menjadi pertapa di Gili Labak, sebuah pulu kecil yang sering diziarahi di timur pulau Madura. Sedangkan Sanusi entah di mana dia berada. Aku tanya asal usul orang per orang, Cak Dhori tidak ingat atau memang tidak ada info tentangnya, yang dia ingat kelima orang itu diantar tentara KKO yang bekerja di Surabaya.

Titik terang nama terduga Bapak Mida sudah aku kantongi, sekarang tinggal mencari asal-usul Pak Sanusi, salah satu jalan adalah melalui Pak Tarbak sang Pertapa.

Setelah Citra memberikan uang dan rokok buat Cak Dhori, kami menuju pelabuhan Kalianget untuk mencari pompong menyeberang ke Gili Labak. Kudapatkan seorang pelaut lokal yang pintar bercerita, bahwa Pak Tabak ada di sisi timur Gili Labak, sekarang jarang sekali muncul mungkin karena sudah tua. Cak Dur mencari penginapan dan aku menyewa pompong lelaki itu untuk menuju pulau bernama Gili Labak yang konon cantik sekali. Ku setting GPS dan sonar kuaktifkan, aku menuju lautan berdua bersama Citra yang pucat ketakutan.

Mengitari Gili Labak mencari sisi Timur dan tempat dimana Pompong bisa buang jangkar atau ditambat dengan aman. Pantai di Gili Labak memang cantik, pasir putih dengan pohon cemara udang di beberapa sisi pulau.

Aku menyandarkan pompong di dekat sebuah pohon di atas karang yang cukup kuat untuk mengikat, sekaligus aku pasang jangkar di buritan agar pompong stabil tidak menghantam batu karang. Air di bawah Pompong biru tua menandakan lautnya cukup dalam. Aku minta Citra tinggal di perahu, sementara aku dengan hanya bercelana pendek terjun ke laut dan menggapai pantai untuk kemudian mengeksplorasi Pulau Labak dari pucuk pohon, melihat kemungkinan lokasi Pak Tabak berada. Aku tidak melihat tanda-tanda, baiklah besok aku akan berkeliling.

Kembali ke pompong, aku berenang-renang di seputar dan Citra tampak tertarik, “Kak Syam, aku ikut berenang yaaa tapi gak bawa baju renang….”
“Udah telanjang aja, gak ada orang ini…”
Citra melucuti bajunya, telanjang bulat nyebur ke laut.
“Katanya lagi mens… Dicaplok hiu nanti memekmu”
“Gak kok, aku tipu…. Soalnya aku takut digituin di atas menara…hihihi” Citra berenang menjauh.

Cerita Hot Terbaru | Gerak tubuhnya yang basah mengkilat oleh air laut jernih sungguh indah, dia berenang gaya katak, dengan kaki yang membuka menutup memuncul hilangkan memek berjembutnya memancingku untuk berreaksi. Aku mengejar dan kupeluk dia dibagian kaki lalu kutenggelamkan. Citra berontak, dan ketika kami muncul bersama di permukaan, mulut mungilnya yang megap-megap kucium lembut. Asin air laut, hangat dan lembut bibir Citra sungguh menggetarkan. Laksana dua ekor lumba-lumba kami saling bercumbu sambil berenang, menyelam menggesekkan tubuh dab berpelukan. Adrenalinku meluap-luap, kami naik ke atas pompong, beralaskan karpet plastik tubuh Citra yang tersucikan oleh air laut tergolek. Aku melepas celana basahku, menaiki tubuhnya, menciumi kening hingga tumit dan menjilati setiap inchi tubuh Citra yang terpejem mendongak-ndongak seakan menyambut energi semesta.

Kami berciuman lama, seolah kami pasangan kekasih, padahal bukan. Aku hanya ingin mengajarinya untuk matang dan dewasa. Sempat aku kuatir, bagaimanapun perempuan itu pengabdi rasa dan selalu membunuhi logika, entah apa jadinya. Yoni yang telah siap, basah oleh cairan pelicin, tanpak merah muda mengkilap. Sementara Linggaku tegak mendongak keras laksana batu. Penyatuan Lingga dan Yoni adalah mantra dan puja awal kehidupan.

Kulebarkan kedua paha Citra dengan lutut tertekuk, perlahan aku gesekkan kepala kelaminku di permukaan memeknya, ketika posisi pas kutekan perlahan. Sungguh seksi wajah pasrah Citra, terpajem, kening terkerut dan menggigit bibir bawah. Sangat perlahan aku melakukan penetrasi, kunikmati setiap mili pergerakan penismu menusuk vaginanya. Citra juga tampak merasakan dengan khusuk.

Tiada desahan, tiada rintihan, hanya hening dan debur perlahan ombak yang berkecipak. Ketika penisku sudah masuk penuh, perlahan kutarik lagi dan kutusukkan lagi dengan ritme pelan nan hikmat, jika ibarat lagu iramnya adalah seperti lagu Padamu Negeri. Aku merubah posisi, kurapatkan kedua kaki Citra, sementara aku mengkangkanginya dan kelaminku masuh tertancap di liang senggama. Sentuhan langsung penis dengan klitoris membuat Citra mulai meracau, dalam posisi bersimpuh, badanku tegaj mebentu sudut 90 drajat, kugesekkan maju mundur pinggulku sambit kujepit erat pinggul Citra.

Aku sesuaikan irana dengan irama goyangan perahu, seakan berbantalkan ombak Citra menggelengkan kepala dan mendesah ketika mencapai titik orgasme dan segera kugenjot lebih cepat ritme goyanganku hingga aku pun ejakukasi bersama dengan orgasme kedua Citra.

Lalu hening lagi sesaat dan tiba-tiba ada suara deburan batu jatuh dua kali di sisi perahu. Byuuur! Byuur! Aku segera meraih Walther andalan dari tas selempang, mencari siapa yang melempar namun tidak kutemukan. Kutembakkan 2 kali ke atas sebagai peringatan bagi siapapun yang menganggu. Lalu aku berpikir mungkin itu pak Tabak.

Cerita Hot Terbaru Episode 7 – Pak Tabak Gili Labak

Sore menjelang, pompong alias kapal kecil yang kami sewa memiliki panel surya dan aki untuk keperluan penerangan, kupersiapkan walau matahari belum tenggelam. Setelah lampu LED di kabin menyala, aku bersiap untuk meninggalkan kapal untuk mencari Pak Tabak yang aku duga telah melempar batu tadi. Pakaian dan peralatan aku masukkan ke dalam dry bag, setelah memberi arahan kepada Citra, aku menyeberang ke darat bertelanjang bulat.

Kukenakan pakaian kering, peralatan secukupnya dan menyelipkan Walther di pinggang aku memanjat tebing batu untuk mencapai tanah landai. Aku berdiam sejenak, menunggu adanya tanda-tanda dari Pak Tabak. Aku duduk sambil memandang terbenamnya matahari dan sesekali menyapu pandangan sekitar siapa tau tampak jejak Pak Tabak.

Ketika gelap kemudian datang, bintang mulai tampak bulan seperempat juga muncul dari timur. Aku bergerak mencari ketinggian untuk bisa melepas pandangan lebih jauh. Di sebuah tebing berjarak sekitar 500 m, tampak pendar cahaya api yang menyala kecil. Hmm di sana rupanya engkau wahai Pak Tabak.
Aku ambil jalan memutar, tidak langsung ke titik sasaran, melewati semak belukar yang cukup lebat, aku berjalan mengendap-endap menghampiri nyala api di sana.

Ketika jarak tinggal 20 meter, aku berhenti mencari tempat berlindung dan berpikir bahwa bisa jadi api tersebut adalah pancingan belaka. Beradu sabar dengan Pak Tua Tabak aku pasti kalah, dia bertahun-tahun berada di pulau ini sendiri, tentu tak sebanding dengan diriku. Aku ambil hp, memang di sini tidak ada sinyal, namun bukan itu yang aku butuhkan. Kupasang tanda dering berupa suara babi sebagai bunyi alarm, aku set 15 menit waktu untuk berbunyi, aku selipkan pada sebuah dahan lalu kutinggal menjauh sekitar sepelemparan batu jaraknya.

Suara babi terdengar jelas dalam kesunyian pulau, babi kecil yang terjepit. “Nguik nguik nguik ….” Aku berdiam waspada menunggu reaksi. Tiba-tiba sesosok manusia berkelebat, membawa senapan laras panjang rakitan, menembakkan ke arah suara babi berasal. “Duaaar! Duaaar!” Dua kali sosok itu menembakkan senapan berlaras ganda rakitan miliknya. Aku keluar dari semak dan berseru, “Pak Tabak! Saya mau bicara! Tahan tembakan!” Aku yang sangat yakin bahwa Pak Tabak tidak akan bisa menembak lagi karena belum mengisi peluru pada kedua laras senapannya. Namun aku tidak memperhitungkan sebuah pisau lempar melesat cepat mengenai bahu kiriku, menancap cukup dalam namun tidak akan membahayakan nyawa, disusul sebuah tendangan menyamping yang sangat kuat membentur ulu hatiku. Aku pun tersungkur pingsan.

Ngilu terasa betul di ulu hati juga di bahu kiri, kurasakan jeratan erat pada kaki dan pergelangan tangan, aku membuka mata mulai tersadar dari pingsanku. Tergeletak di bawah gelap pohon besar, sementara api unggun menyala kecil berjarak sekitar 3 depa dariku. Tak tampak adanya tanda-tanda keberadaan Pak Tabak. Aku mempajari situasi dan berhitung kondisi, badanku sungguh lunglai, mungkin karena racun yang ada di pisau lempar yang mulai beredar mengikuti aliran darah. Aku berusaha setenang mungkin, menurunkan ritme denyut jantung.

Tak berapa lama Pak Tabak datang sambil membawa Citra bersamanya, perempuan itu ketakutan namun dia tidak diikat. Kaos dan celana oendeknya basah, sepertinya dia dipaksa berenang ke darat tadi.
Sambil menahan sakit, aku mencoba mengikuti dengan mataku apa yang dilakukan Pak Tabak, dia menyuruh Citra duduk di dekat api, mengambil dry bag ku lalu membongkarnya, masih ada kaos dan sarung kering di sana, dia memberikan kepada Citra untuk berganti baju kering, Citra bergerak ke balik pepohonan sementara itu Pak Tabak memperhatikan kantong plastik beriso jimat milik Pak Sanusi bapak Midah. Dibolak-balik dan dikeluarkan dari plastik, diciumnya lalu dia tersedu-sedu. Aku pura-pura masih pingsan dan Citra datang dengan sarung dan baju kering, duduk di dekat kepalaku, memperhatikan lukaku dan menyentuhku, “Mas Syam…..”

Aku membuka mata, tersenyum menjawab Citra, “Aku ra popo …”
Pak Tabak sambil mengusap air matanya, memandangiku sambil tangannya memegang rajah kulit milik Pak Sanusi dan bertanya, “Kamu dapat dari mana benda ini? Siapa kamu sebenarnya?”

Aku berupaya duduk dengan susah payah, bahu dan ulu hatiku masih nyeri, “Buka dulu ikatanku Pak Tua….”
Pak Tabak menurutiku membuka ikatan, sikapnya berubah total menjadi sangat baik penuh penyesalan, walau dia masih waspada dengan terus menggenggam belati kecil setelah membuka ikatanku.

Aku pun kemudian menceritakan misiku, asal muasal jimat kulit tersebut, tentang Mida anak Pak Sanusi dan tujuanku mencari Pak Tabak adalah karena amanat yang diberikan oleh anak Pak Sanusi. Pak Tabak menghela napas panjang, mengambil botol bekas minuman energi di kantong tasnya lalu membukanya dan memintaku untuk meminum cairan kental berbau anyir pahit, katanya untuk menawarkan racun bisa ular laut yang dia telah oleskan di pisau lempar yang mengenai bahuku. Aku menurutinya tentu saja walau dia bilang bahwa otot-ototku baru akan pulih sepekan ke depan.
Pak Tabak menggulung sirih setelah diisinya dengan pinang dan kapur lalu dikunyahnya.
“Maafkan aku anak muda, siapapun kamu, dari manapun asalmu, aku salah mengira. Engkau ternyata orang yang aku tunggu selama ini dan ternyata bukan gerombolan maling yang mengincar hartaku”

Cerita Hot Terbaru | Pak Tabak lalu bercerita tentang kenapa dia menyepi di Gili Labak ini bertahun-tahun adalah karena adanya perjanjian dengan Sanusi sahabat dan saudara seperguruannya bahwa suatu saat kelak entah mereka entah anak keturunannya akan bertemu dan berkumpul di makam tua di Pulau kecil Gili Labak ini untuk kembali menjalin kekuatan meraih cita-cita leluhur. Bahwa rajah yang dia pegang harus bertemu dengan racah yang Sanusi bawa agar dapat memecahkan rahasia kuburan tua yang diduga berisi harta karun dari leluhur.
Sebagaimana kata sejarah, Madura selama berabad-abad telah menjadi jalur pelayaran Nusantara, dan sejumlah pelabuhannya di pesisir utara ataupun selatan pulau itu kerap disinggahi pelaut berbagai bangsa.

Sejak abad ke-13, kerajaan-kerajaan terus tumbuh di Madura dan berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Prasasti Kudadu (1294) yang mengisahkan bagaimana Narariya Madura Adipati Wiraraja, Raja Songenep (sekarang bernama Sumenep), membantu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit.
”Pada abad ke-18, datang gelombang besar peranakan Tionghoa yang akhirnya bermukim di Madura, termasuk leluhurku dan Sanusi. Kerasnya alam membentuk persaudaraan yang kuat antar leluhur kami hingga mereka mampu bertahan hidup,” kata Pak Tabak.

Leluhur mereka itu konon mendapat banyak hadiah harta dari Majapahit atas jasa-jasa membantu berbagai hal pada saat masa-masa awal Majapahit. Salah satunya tersimpan di kuburan tua ini dan konon wujudnya adalah guci berisi keping emas yang banyak.
“Dahulu, awal-awal berdirinya Republik Indonesia, yakni awal tahun 65 an aku dan Sanusi berniat mengangkat harta karun itu lalu disumbangkan kepada para pengampu negara sebagai modal pemerintahan menghadapi pemberontakan yang gencar saat itu, namun sebuah kejadian yang memang sudah kami perkirakan pun terjadi, maka aku menunggu di sini”

Kejadian itu adalah hilangnya khabar Sanusi setelah membantu beberapa anggota KKO untuk melakukan sabotase di Singapura.
Kala itu, di tengah malam, tanggal 10 Maret 1965 di saat kota Singapura mulai sepi, kelompok tersebut memutuskan untuk melakukan peledakan di Hotel MacDonald di Orchard Road, letak strategisnya menjadi pertimbangan utama. Mereka memasang bahan peledak seberat 12,5 kg dan akhirnya meledak. Beberapa bangunan rusak dan 3 orang meninggal dunia, sementar 33 lainnya luka-luka.

Setelah itu mereka berpencar, ada yang tertangkap dan dihukum gantung namun ada juga yang lolos namun kemudian menghilang begitu saja seperti Sanusi.
“Baiklah, kita semua beristirahat dulu, besok aku obati lukamu supaya segera sembuh dan kita coba pecahkan kode rajah” Pak Tabak berbicara, lalu memapahku memasuki celah batu untuk masuk ke dalam goa yang cukup luas bagi kami bertiga.

***
Pagi datang, Citra sudah terbangun dia tampak ketakutan, mungkin karena Pak Tabak yang kelihatan tidur dalam posisi aneh, tidak sewajarnya manusia, lututnya tertekuk mengkaitkan diri dengan sebatang bambu, sementara kepalanya terjuntai ke bawah mirip kelelawar tidur.

Tiba-tiba Pak Tabak menjatuhkan diri dari palang bambu, dengan gerakan yang lembut, kedua tangannya menopang berat badan dan mengarahkannya untuk langsung berguling dan kemudian duduk bersila menghadapi kami. Mengambil nafas dalam beberapa kali, sepertinya dia mempraktekkan sejenis Yoga baru setelah itu membuka mata dan tersenyum. “Aku sudah menemukan jawaban atas rahasia kuburan tua, kita akan mulai ritualnya hari ini dan pas nanti malam ketika bulan purnama berada di puncak langit kita lakukan bersama pembukaan lobang harta” Pak Tabak berkata sambil wajahnya berseri-seri sementara aku masih lemas lunglai dan Citra tidak memahami situasi.

Pak Tabak mulai menjelaskan tentang ajaran leluhur kuno katanya, segala sesuatu harus dimulai dengan panyatuan lingga yoni, sebuah penyatuan dua unsur lelaki dan perempuan untuk membuka tabir kelam hingga lahirlah kecerahan dan keseburan. Maka malam ini harus ada ritual saresmi di atas kuburan kuno guna membuka pintu ghaib, dan itu adalah antara dirinya dengan Citra yang menurutnya adalah keturunan selir ke tujuh raja majapahit yang entah siapa namanya yang turun temurun hingga kakek buyut Citra yang merupakan prajurit pasukan Sultan Agung tertinggal di kawasan Dermayu dan kawin mawin dengan orang setempat hingga melahir Citra, aku membatin, “Terserah kau saja pak tua, aku hanya ingin keluar dari situasi ini segera”.

Citra yang tak paham omongan Pak Tabak aku jelaskan sederhana, “Kalau kita ingin keluar hidup-hidup dari pulau ini, kita turuti apa maunya Pak Tua itu, syaratnya nanti malam kamu akan dikawininya, lalu akan diberi harta yang cukup, setelah itu kita akan diperbolehkan keluar pulau”. Citra diam saja, matanya menerawang melamun, “Harta apa maksudnya Mas? Lalu akau jadi istrinya dan tinggal di sini?
“Tidak, hanya malam ini dan setelah itu kamu bebas, kita pergi. Kamu akan diberi harta karun dari ritual yang akan diambil nanti malam”
“Ya udah, gak pa pa yang penting kita selàmat”

Citra pun kemudian menuruti prosesi mandi di sebuah sumur dekat pantai dan kemudian mengenakan selembar kain berwarna putih dan melepas semua perhiasan dan pakaian modern, rambutnya diurai. Citra tampak bercahaya diselimuti aura magis yang kuat. Pak Tabak pun kemudian melakukan ritual yang sama, walau usianya sudah tua, ketika mengenakan kain putih laksana seorang resi, badan kelamnya yang masih berotot walau kulit luarnya sudah mulai kendor tampak kontras dengan kain selembar yang dia kenakan. Dia tampak bersih, bercahaya dan luar biasa.

Aku hanya bisa menyaksikan ritual selanjutnya dalam diam dan takjub, ingin aku merekamnya namun apa daya seluruh gadgetku kehabisan daya. Adegan selanjutnya, Pak Tabak duduk bersila, sementara Citra berada di belakangnya duduk bersimpuh. Sebotol air tawar berada di depan masing-masing. Pak Tabak mulai membaca mantra dan menyalakan dupa, mantra demikian panjang, badannya bergoyang-goyang perlahan ke depan ke belakang. Asap dupa dan ratus menyebar seketika, aku terpengaruh suasana magis, gerakan ritmis dan aroma dupa yang menghipnotis.

Kesadaranku mulai terganggu, begitu pula kulihat Citra mulai mengikuti gerakan Pak Tabak mengayun-ayunkan badannya perlahan dalam gerak ritmis.

Cerita Hot Terbaru | Sepertinya kami memasuki alam gaib, entah karena pengaruh bau-bauan dari sesuatu yang dibakar Pak Tabak, suasana berubah menjadi sedikit horror. Angin berhenti berhembus, matahari mulai condong ke barat nyaris terbenam di ufuk barat. Meremang cahaya perlahan kelam menyelimuti Gili Labak, langit berganti bertabur bintang. Tanah seputar kuburan tua berubah menjadi seperti sebuah aula istana, cahaya api dari sebuah tungku berpendar menerangi apa yang ada.

Sekelompok penari tiba, wajah mereka sama, lali-laki muda dengan kumis tipis dan cambang panjang dan mengenakan kain batik menutupi perut hingga lutut, musik perlahan bergema, musik lembut dengan dominasi denting genta dan kendang besar.

Penari perempuan dengan wajah serupa juga masuk, mereka sungguh cantik dengan rambut panjang terurai yang disampirkan di bahu kanan menutupi dada kanan, rambut itu berhias bunga kamboja. Mereka, para perempuan itu mengenakan kain batik juga dari perut hingga lutut dan bertelanjang dada.

Gerakan tarian mereka adalah melingkar, berjalan dalam irama sambil membuay gerakan-gerakan persembahan. Citra kemudian mengikuti gerakan tari mereka, matanya terpejam dan Citra begitu pantasnya menari seolah dia telah lama berlatih. Tak berapa lama pak tabak ikut berada di pusat lingkaran bersama Citra, menjadi pemimpin gerak tari tahap berikutnya, semua mengikuti dengan sempurna.

Pak Tabak membuka kain putih dan menghamparkannya di tengah arena menutupu simbol lingga yoni, Citra kemudian mengikuti dan membentuk formasi tarian berpasangan dengan Pak Tabak. Sementara para penari lain mengikuti dengan gerakan yang sama.

Tubuh tubuh telanjang meliuk-liuk dalam tarian lembut dengan diiringi suara tetabuhan sakral berdenting-denting. Pemandangan itu menjadi sangat erotis, aku ingin sakali bergabung dan mengambil salah satu penari perempuan untuk menjadi pasanganku namun badanku lemah lunglai hanya kemaluanku yang tegak mengeras.

Pak Tabak dan para penari pria lain saat ini dalam posisi tegak berdiri kedua tangan menjulang ke atas mengatup dalam posisi menyembah, kaki kanan tertekuk, telapaknya bertumpu pada lutut kaki kiri. Penari perempuan bergerak mengikuti gerakan Citra, mengelus seluruh tubuh pasangannya, mengendus, menjilat dan menciumi dalam gerakan indah.

Kemudian mereka besimpuh di hadapannya dan mulai menjilati kelamin para lelaki, ketika semua kemudian kelaminnya tegak gerakan berubah menjadi mengulum dan menjilati sementara para lelaki tetap tegak berdiri satu kaki. Entah berapa lama adegan itu berlangsung hingga kemudian para wanita berada dalam posisi kepaka di bawah badannya tegak menjulang, kedua tangan bertumpu di tanah dan kedua kaki terbuka lebar seperti gerakan split namun di udara.

Para penari pria berganti sekarang melakukan usapan dan kecupan serta jilatan pada kedua kaki para penari perempuan. Dalam gerakan meliuk yang indah mereka berhentu tepat diselangkangan para wanita, menjilati dan menjulur-njulurkan lidah bagai ular, mengusap vagina dan entah mungkin juga anus mereka dengan sapuan basah lidah merah yang menjulur-njulur.

Sebuah adegan muskil kemudian terjadi, para lelaki menancapkan kemaluan mereka sementara kedua kakinya sejajar dengan kedua kaki para perempuan, seluruh berat badan ditumpukan pada kepala para penari perempuan. Badan penari laki-laki tegak menjulang, sementara kelaminnya menancap ke bawah. Kedua tangan para lelaki terbentang lebar dan kemudian para lelaki berputar perlahan dengan bertumpukan pada as berupa kelamin yang menancap pada vagina para perempuan. Berputar perlahan dan semakin cepat.

Setelah beberapa saat, para lelaki mencabut kemaluan dan terlentang denga kepala mengarah kepada lingga yo, Citra dan para perempuan memasukkan penis ke dalam vagina dan kedua tangan berpegang kepada tonggak Yoni dan melakukan gerakan Women on Top secara bersamaan dan menimbulkan getaran energi yang luar biasa.

Setiap hentakan yang dilakukan menimbulkan letupan gelombang energi yang menyesakkan dada. Gerakan itu semakin cepat ritmenya begitu pula energi yang keluar luar biasa besar dan ritmis. Aku tiba-tiba mengalami black out dan tidak ingat apa-apa lagi. (Bersambung)

Sampai disini dulu update hari ini tentang syam dan petualangan birahinya. Baca kelanjutan cerita hot terbaru ini DISINI (episode 9-11).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*