Cerita Panas Terbaik: Petualangan Syam (Bagian II)

Cerita Panas Terbaik dan Terbaru 2018

Cerita Panas Terbaik
Cerita Panas Terbaik

Penting: Cerita panas terbaik ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya. Berbeda dengan sebelumnya, di halaman ini terdapat 3 buah episode sekaligus yaitu episode 3 sampai 5. Kamu bisa mengikutinya melalui index cerita dibawah ini:

Episode 1 dan 2

Episode 3, 4 dan 5 (di halaman ini)

Episode 6, 7 dan 8

Episode 9, 10 dan 11

Cerita Panas Terbaik – Petualangan Syam (Bagian II)

Cerita Panas Terbaik Episode 3 : Mami

Aku memutuskan kembali ke Apartemen Eni untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Aku berjalan kaki kambali ke Kalibata City. Di depan pintu kamar aku masih mendengar televisi menyala, artinya Eni masih belum berangkat kerja. “Yuhuuu! Masih ada oraaang?” Teriakku. Eni berteriak, “ya masiiih, tapi sudah mau pergiii’.

Aku masuk, melihat Eni yang tengah bersiap-siap hendak berangkat ke Spa tempatnya bekerja. Kali ini dia berdandan layaknya ibu muda yang sedang berolahraga. Setelan training Adidas warna biru pastel, dengan topi pet berwarna biru tua, rambutnya dikuncir satu. Eni sedang mengenakan sepatu lari warna putih dengan kombinasi biru pada logo lengkung sepatu itu.
“Mas mau kerja di sini ya?” Eni bertanya sambil duduk di pangkuanku. “Aku kerja dulu ya, hari terakhir ini besok kan sudah off semua sampai hari Raya, hari ini pun gak ada tamu kok, cuma urusan administrasi dan ambil fee, ok! ok!” Tambahnya manja.

Walau aku tak pernah suka dia berangkat ke spa, aku mengiyakan. Eni mencium keningku lalu berangkat. Dan aku mulai menyalakan beberapa nomor lamaku, check pesan dan berkoordinasi terkait proyek yang sedang aku kerjakan. Tidak ada kesulitan berarti pekerjaan maupun obyekan dari Mida terdelivery ke orang-orang kepercayaanku yang masing-masing sudah ahli di bidangnya. Aku kirim kode via email kepada bossku, “Wijaya Kusuma Mekar di Tengah Gulita”.

Aku kembali mengechek pesan, ada WA dari istriku, si Mami. Dia menanyakan apakah aku akan makan sahur di rumah awal puasa ini, anak kami, Surya menanyakan terus katanya. Mami adalah istriku ke dua, kami tinggal di Kota Wisata, mami adalah teman satu kantor di perusahaan kontraktor di mana aku sempat bekerja walau tidak lama. Ketika kunikahi, dia adalah seorang janda satu anak berumur 8 tahun waktu itu, ayah Surya meninggal OD Narkoba. Sekarang Surya berumur 17 tahun.

Sementara istri pertamaku adalah seorang putri Kiai terpandang pengasuh Pondok Pesantren di sebuah kota di selatan Jawa Timur, aku memanggilnya Umi, sengaja agar tidak ada salah panggil antara Mami dan Umi, sama-sama mi.

Cerita Panas Terbaik | Pekerjaanku saat ini yang menjadikan aku sering bepergian, menyamar, mematikan alat komunikasi telah membiasakan Umi dan Mami sehingga tidak pernah mencari tahu secara detail. Mami sibuk juga dengan pekerjaannya sedangkan Umi sibuk mengasuh santriwati. Bahkan ketika pernah ada sepasang stocking panjang tertinggal di mobilku dan ditemukan oleh Mami, aku dengan gampang menjawab, “Itu untuk cover muka mi, ketika ada penyerbuan”. Mami percaya dan aku masih suka tertawa kalau mengingat peristiwa itu. Itulah keluargaku yang bisa dikatakan remuk redam terutama dari sudut pandangku. Aku jarang berada di antara mereka dan lebih banyak bersama wanita-wanita lain yang kadang baru aku jumpa.

Sambil termenung-menung aku duduk di kursi malas, terdengar ketukan pintu takut-takut. “Siapa?!” Tegurku, sambil tanganku merogoh Walther andalan di sling bag kulit coklatku.

“Citra oom, disuruh teh Eni antar makan siang” Citra menjawab sambil membuka pintu.

Citra masuk membawa tentengan nasi capjay masakan Bakmi Naga. Hanya 1 porsi tampaknya, aku berpikir mungkin Citra tidak rela uangnya dipakai makan di Rumah Makan yang harganya dua kali lipat menu biasanya. Bisa jadi juga dia tidak makan untuk membelikan aku makan, berapalah gaji waitress.

“Taruh di piring dong”, pintaku. Citra datang mendekat, di tangannya ada nasi Cap Jay hangat yang tampak segar. “Pakai sambel gak Om?”
“Kamu doyan pedes gak Citra?”
“Wah itu hobbyku pedes-pedes” dia tersenyum.

Aku minta Citra duduk di karpet, aku pun juga duduk, “kita makan sepiring berdua!”
“Ah Om aja, aku sudah makan!” Dia mengelak.
“Sudah jangan banyak alasan, sini piringnya!”

Aku makan sesuap cap jay yang sudah pedas setelah ditambah sambel sebungkua oleh Citra. Aku kemudian menyuapkan sesendok ke mulut mungil Citra, dia malu-malu tapi dikunyah juga. Beberapa suap aku mulai kepedesan, bibir dan mulutku panas, hidung dan mata berair. Citra tampak biasa-biasa saja. “Kamu gak panas bibirnya Citra?”
“Panas sih dikit oom”, Citra tersenyum manis sekali. Nasi tinggal beberapa suap lagi, aku letakkan piring dan mendekati Citra, “Coba aku rasakan bibirmu pedes apa gak?”
“Bener kan om nakal, tadi aku sudah takut-takut ke sini sendiri, tapi takun teh eni marah nanti kalau tidak datang”

Aku gak peduli, kutempelkan bibirku ke bibirnya, mulai kukulum bibir bawahnya, kusapu dengan bibir atas serta lidahnya yang teryata juga panas dan pedas.
Citra lambat meresponse, tapi layaknya mesin diesel lama kelamaan dia terbawa irama ciuman kami. Ciuman pedas dan panas, Citra mulai berani merengkih kepalaku, sementara kerigat kami berdua mulai menetes membasahi kening, leher dan dada.
“Udah ah oom, aku harus balik kerja, juga nanti kalau tau teh Eni gak enak nih…” Gumam Citra.

Aku yang juga ingin segera pulang ke Kowis dan juga sudah capek badan bercinta denga Eni mengiyakan. Aku ambil tisue, kuseka kening, hidung dan wajah Citra, lalu kuambil tisu baru untuk melap lehernya, sengaja aku masukkan ke balik bajunya merogoh dada sintalnya, “Jangan ah Om” keluhnya. Kukecup sekali lagi dan kulepaskan dia pergi.

Aku memesan taxi online, bergerak menuju Kowis setelah semua urusan berada pada jalurnya. Ada text dari Mida masuk, “Aman bro?” Aku jawab, “On Track!”.
“Hormat Grak!” Saut Mida.
Mida pun kemudian menelpon, dia bilang akan ke Madura dulu, dia minta aku update setiap perkembangan sehingga dia bisa update ke lady bossnya di Singapore. Aku tentu menyanggupi. Mida akan mencari keluarga bapaknya di Socah, Madura. Aku ucapkan kepadanya selamat mencari dan semoga ketemu.

Memasuki cluster tinggalku dengan Mami, satpam memeriksa kendaraan dan menanyakan ada keperluan apa, begitu kaca dibuka lebar, melihatku Satpam itu tertawa, “Wah pak boss, silahkan pak!” . Satpam-satpam di cluster ini memang seperti kawan bagiku aku sering nongkrong bersama mereka setiap pulang.

Sampai di rumah suasana sepi, aku melihat jam dinding melalui kaca jendela menunjukkan angka 4:15 sore hari, aku balik ke pos satpam di depan cluster, ngobrol dengan para satpam. “Tadi ibu pergi pak, dijemput temannya, pakai mobil Innova B sekian sekian … Kalau Mas Surya tadi keluar naik motor bersama Mbak Lis” Redi, satpam termuda menjelaskan. “Oh ok, ya sudah aku tunggu di sini, ada yang punya rokok?” Aku meresponse. Kami pun bercanda-canda hingga menjelang pukul 5:30 ketika Surya datang berboncengan sama Lis pembantuku.

Aku menyusul mereka berdua pulang ke rumah selang 5 menit setelah mereka kembali. Aku masuk, pintu tidak terkunci dan setengah terbuka. Dari ruang tengah terdengar suara-sara canda tawa antara Lis dan Surya, namun ada yang aneh dari bercandaan mereka, candaanya cenderung menjurus ke urusan selangkangan.

“Mbak Lis, ayo buka celananya, sudah gak sabar nih ingin coba” suara Surya terdengar
“Malu ah Mas Surya, serem pakai gituan, mendingan pakai titit ganteng mas Surya aja, udah pasti enak” jawab Lis malu-malu.

Aku sungguh penasaran apa yang mereka lakukan, mengendap aku mencari posisi melihat perbuatan mereka tanpa ketahuan.

Aku tiarap di dekat balik sudut tembok, terlindung guci tempat payung di sisi sebelahnya. Tampak Lis duduk di kursi makan, kakinya mengangkang sementara Surya berjongkok di depan selangkangan Lis, tangannya sibuk membuka sesuatu berwarna ungu. Sementara kantong plastik mini market tampak terserak di sampingnya. Aku amati seksama, ternyata Surya memegang Durex Play Vibration Ring yang baru dibukanya dari kemasan.

Ring itu dipasangnya di jari ibu jari tangan kanannya, ah bodoh sekali Surya, mestinya dipasang di tititnya kan.
Posisi vibratornya menghadap ke atas, disentuhkannya vibrator ke klitoris Lis, dan itu menimbulkan kejutan dan pekikan perlahan Lis.
“Enak gak mbak?”
“Geli mas Surya, tapi enak juga sih…hi hi hi”
“Bentar, ganti posisi ya”

Surya memasang ring itu di jari tengah tangan kanannya, vibrator menghadap ke atas, searah telapak tangan. Dilumurinya tangan dan vibrator dengan lubricants, lalu dia masukkan jari tangan kanan itu ke memek Lis dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lis terpekik-pekik dan Surya yang sudah delam posisi berdiri semakin semangat menekan dan mengkobel-kobel jari tengahnya di memek Lis.

Terbayang vibrator menggetarkan itil Lis dan ujung jari tengah Surya menyundul-nyundul G-Spot yang memicu sensasi gila. Lis menggelinjang di atas kursi makan, terpekik-pekik dan mendesah-ndesah mengalahkan suara perempuan jepang pada film JAV.

Tangan lis mencari titit Surya yang menonjol di balik celana pendeknya, merogoh dan kemudian mengocok dan meremas-remas. “Enak gak mbak?”
“Enak mas Suryaaa, enak bangeet… Hmmmmmm aaaaaah”
Lis mencapai orgasme, tangannya yang memegang titit Surya terdiam mencengkeram, pahanya merapat, sementara Surya menekan kuat tangannya di memek Lis.
“Udah ah mas.. Mas Surya mau dikeluarin gak?”
“Mau lah!

Surya menyodorkan kelaminnya ke mulut Lis, vibrator berpindah tangan, sekarang lis yang memegang vibrator durex tersebut. Sambil mengulum kelamin Surya, lis menggerak-gerakkan vibrator di pangkal batang dan kantong zakar Surya.

Cerita Panas Terbaik 2018 | Surya bertolak pinggang sambil sedikit mengangkang ketika vibrator diselipkan lis di titik antara ujung kantong zakar dan anus. Badannya terlonjak-lonjak pelan sambil mulutnya melenguh-lenguh. Sementara Lis semakin cepat mengulum dan mengocok batang kelamin Surya. Tidak bertahan lama, tampak Surya mencapai Ejakulasi dengan menekan kepala Lis agar lebih dalam tititnya masuk ke mulut. “Aah aah aaah….enaaak banget!”

Sialan, batinku, aku jadi konak! Aku keluar rumah, menunggu sekitar 10 menit lalu mengetuk pintu…
“Assalamualaikum !”

Tidak ada yang menjawab salam, Surya muncul dari ruang tengah, mukanya masih merah padam, “Eh .. Ayah datang! Kok gak bilang-bilang” Surya menyambutku, mengangsurkan tangannya yang masih agak lengket dan mencium tanganku. “Sialaaaaan betul” batinku sebal.

Surya pamit mandi, Lis yang sudah berganti baju membawakan aku minum. Aku pandangi wajahnya, manis juga pembantu kami ini, usianya mungkin sekitar 27 tahun, berasal dari Trenggalek Jawa Timur, di dapat dari agen PRT sekitar 1 tahun yang lalu.

Aku menelpon Mami, “Di mana mi? Aku di rumah ini”
“Eh iya yah sebentar pulang, lagi belanja sebentar”
“Kamu pergi sama siapa?”
“Eh..tadi naik taxi yah”
“Oh ok! Ya sudah aku di rumah ya”
Aku penasaran, kenapa si Mami berbohong mengatakan naik Taxi, padahal tadi jelas-jelas satpam bilang dijemput Innova Hitam.

“Mas Surya, mami pergi ke mana tadi? Kata pak Redi dijemput Innova hitam? Siapa itu mas?”
“Eeem ke Ciputra Mall yah, tadi dijemput Om Banu, teman kantor Mami, katanya sekalian ada reuni”
“Oh ya sudah”

Aku penasaran, aku minta kawan check posisi hp Mami. Memang ada kawanku yang stand by di mesin Check Pos untuk mendukung kinerja kami dalam bisnis keamanan.

Dikirimnya koordinat posisi terakhir hp Mami, tampak terdiam di satu titik yang ketika aku masukkan ke aplikasi adalah parkiran ruko sentra eropa. Sudah lebih 3 menit di situ padahal sudah dekat rumah. Aku semakin penasaran.

“Mas Surya, pinjam motor!”
“Pakai aja yah!”

Kunci masih menempel di motor, aku menuju titik posisi Mami berada. Di pos satpam aku menukar motor Surya dengan motor Redi, juga aku meminjam helem dan jaket.

Menuju lokasi dan segera kutemukan mobil Innova hitam parkir dengan mesin menyala dan berkaca gelap pekat. Ah, Mami pasti berada dalam mobil itu.

Aku ambil smartphone, aku foto mobilnya lengkap dengan plat nomor terlihat. Aku mendekat, parkir motor di balik mobil box yang berada di samping innova hitam.

Aku buka kunci mobil Grand Max Box yang juga berkaca gelap 60% dengan mudah dengan tool yang aku bawa.

Cerita Panas Terbaik | Masuk ke dalam, bergeser mendekat sisi mobil Innova hitam, kupasang filter CPL di depan lensa gadget, kubuka aplikasi Night vision, kupancarkan cahaya Infra red dari senter IR dan yang terlihat sungguh menyentakkan jantungku.

Mami tampak menduduki seseorang di jok kiri, badannya naik turun. Aku merekamnya dalam video IR beberapa saat, mengumpat dalam hati, “Anjing sialan”.

Antara marah dan konak bercampur saat itu, aku keluar dari mobil box, kembali ke motor dan mencari posisi untuk memantau lebih lanjut.

Lima menit kemudian, mami dan laki-laki yang disebut namanya Banu oleh Surya turun. Mami tampak berpamitan, melambaikan tangan dan berjalan menuju pangkalan taxi di depan parkiran. Banu masuk mobil Innova, lantas pergi keluar parkiran. Tidak memperdulikan Mami yang naik Taxi, aku menguntit Banu.

Banu memasuki sebuah Cluster bernama Alaska, gerbangnya dijaga security juga seperti cluster tempatku tinggal. Aku menunggu sesaat, kemudian mendekat ke security masuk ke Cluster Alaska. “Mau ke Pak Banu pak, mohon ijin” aku membuka helm. Ada seorang satpam yang mengenali motor Redi, “Wah motor Redi ya pak?”
“Iya, tadi aku pinjam mau antar kunci ketinggalan ke Pak Banu”
“Silahkan pak, langsung aja”

Aku masuk Cluster, mengikuti arah Innova hitam tadi, kudapati parkir di sebuah rumah, tampak Banu sedang menurunkan belanjaan, seorang perempuan cantik berjilbab mungkin istrinya sedang membantunya, lalau gadis manis usia kuliahan berleher jenjang tampak keluar sambil menggendong kucing persia.

Aku kembali ke rumah dengan membawa amarah terpendam terhadap Mami dan berbagai rencana yang mengikuti amarah itu.

Cerita Panas Terbaik Episode 4 : Rahasia Sofia

Ketika aku memasuki cluster tempatku tinggal, aku berhenti di pos satpam untuk mengembalikan motor Redi dan mengambil motor Surya. Sesaat sebelum aku meniki motor Surya anak tiriku aku membuka smartphone melihat pesan-pesan yang masuk. Pesan dari jaringanku yang aku minta mencari tahu tentang Sofi berisikan laporan awal, alamat rumah lengkap meliputi Cluster, Blok dan Nomor rumah, foto dari copy KTP yang digunakan untuk lapor kepala keamanan, siapa saja yang tinggal di rumah itu. Lumayan kinerja jaringanku ini, dalam waktu kurang dari setengah hari telah berhasil mendapat info dasar, memang tidak sulit dilakukan jika sudah terbiasa dan terlatih. Aku akan menindaklanjutinya besok.

Satu pesan lagi yang cukup penting berisi detail proyek yang aku dapatkan dari Big Boss. Ini terkait dengan order dari klien untuk memuluskan binisnya di Indonesia. Klien ini adalah klien utama, salah satu klien yang turut menjadi alasan perusahaan ini berdiri. Aku baca spintas akan kudalami nanti kemudian aku menuju rumah.

Masuk rumah, televisi menyala, tiada orang di ruang tamu, hanya ada Lis di dapur mengerjakan sesuatu, Surya mungkin di kamarnya dan Mami sepertinya mandi di kamar mandi dalam kamar. Ada dorongan untuk segera melabrak Mami dengan semua bukti yang aku punya, ada pemakluman bahwa kelakuannya adalah akibat dari kelakuanku juga. Aku ingat sebuah ajaran, lelaki baik-baik adalah pasangan dari perempuan baik-baik, begitu pula lelaki bejat akan berpasangan dengan sesamanya yakni perempuan bejat. Berperanglah dua pengaruh yang bertolak belakang dalam benakku. Baiklah kali ini akan kupendam marah ini, dalam pikiranku aku akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih keji dengan persiapan yang teliti atau justru memanfaatkan bukti-bukti ini sebagai kartu truf nanti.

Murkaku sedikit mereda, kudengar suara Mami bersenandung sambil entah menggosok memeknya dengan sabun untuk mencuci jejak perselingkuhannya atau menyapu susu dan lehernya dengan busa agar hilang segala aroma.

Aku membuka seluruh pakaianku, telanjang bulat aku buka pintu tak berkunci kamar mandi. Tampak badan Mami penuh busa, membalut tubuh sintalnya hingga tampak licin sekali, rambutnya sebahunya tampak basah membuatnya terlihat lebih legam, ketika menengok terkejut, dahi dan wajahnya sebagian tertutup gumpalan helai rambut membuatnya nampak seperti pelacur murahan yang disiram air sebaskom.

Matanya terbelalak mulutnya nganga, “Ayaaah! Bikin kaget aja!” Dia memeluk tubuh telanjangku, licin busa sabun menular ke tubuhku. Susu kenyalnya menempel di dadaku, dingin bercampur hangat. Mami menyalakan shower, tersiram air dingin, sedikit meredakan amarahku. Dalam guyuran air Mendongak sedikit, karena memang dia lebih pendek dariku, mencari bibirku untuk dikulumnya. Rasa pasta gigi kucecap, ah dia habis gosok gigi, lumayanlah bekas liur Banu sedikit hilang tentu saja. Aku membalasnya, dendam dan nafsu membuatku meladeninya dengan liar, penuh emosi. Mami menganggapnya karena aku kangen dia, kangen ngewe dengannya. Padahal tidak, aku cemburu marah dan hanya sedikit nafsu sebenarnya.

Tubuhku disabuninya rata, selangkangan dan kelaminku dengan teliti digosoknya, kembari Shower dinyalakan. Mami bersimpuh di depanku, mulutnya menjilati batang kontol dari ujung kepala hingga pangkalnya, kantung zakar tidak lupa mendapat hisapan-hisapan kecil yang memicu sensasi enak yang luar biasa.
Dalam hatiku aku berkata, “Ayo hisap…hisap sampai muncrat! Aku tidak akan menyentuh memek najismu dengan kontolku!”
Emosi terpendam ini membuatku sedemikian kasar, kucengkeram kepala mami kutahan tidak bergerak, kuayun pinggulku sehingga batang kelamin keluar masuk dengan ritme cepat, kdang Mami tersedak-sedak tapi peduli setan ini hukumanku padamu.

Keliaranku diimbanginya, entah karena merasa bersalah atau memang nafsunya memuncak. Akhirnya aku muncrat di dalam mulut Mami, tidak banyak namun melegakan emosi dan keteganganku. Aku sama sekali tidak menyentuh vaginanya, biar tau rasa.

Setelah kami mandi, berpakaian lalu layaknya keluarga kami makan bersama, ada Surya tentu saja. Meja makan kami berkursi empat, tersedia 3 piring di sana, hmmm saatnya mengirim pesan ke Surya. Aku minta Lis menambahkan satu set piring lagi di samping Surya, lalu ku suruh duduk dia di sana untuk makan bersama, “Nah, gini kan enak, seperti sebuah keluarga sempurna, Ayah, Mami, Anak dan Mantu ” aku terkekeh. Mami tersenyum, Surya dan Lis saling pandang. Mampus! Pikirku, kalian pikir enak penasaran itu… Hahahahah.

Selesai makan aku ingin merokok, walau aku sangat jarang merokok namun sekali waktu keinginan itu muncul juga, kucari di tasku dan kutemukan sisa 3 batang dalam wadahnya. Aku masuk kamar mandi untuk merokok sambil duduk di closet. Merokok hanya diijinkan di luar rumah atau di wc yang ada exhaustnya.

Cerita Panas Terbaik | Duduk di closet sambil menghembuskan asap Djarum MLD yang berasa pahit-pahit manis dan wangi, aku melihat-lihat isi kamar mandi dengan seksama. Ada sesuatu yang tidak biasa, ada sebuah travel pouch tergantung di gantungan baju, ini tidak lazim, milik siapakah? Kuambil dan kubuka, ada sikat gigi, odol dan sabun cair, namun masih ada benda kotak tersembunyi di balik selipan kantong itu, ada lobang juga di bagian luar, kurasakan hangat. Hmmm hidden camera kah? Aku menemukan jalan masuk kamera itu diselipan kantong, kuambil, terlihat masih dalam posisi record.

Kumatikan dan kuambil micro sd card untuk kemudan kulihat melalui laptopku. Isinya, file terbaru adalah rekaman Mami mandi dan kemudian menghisap kelaminku. Folder lain berisi Mami mandi, folder lain lagi berisi Banu bertamu yang dilanjut berciuman dan ngewek di karpet ruang tamu, folder lainnya adalah Surya ngewek dengan Lis di kamar Surya. Wajah tengil Surya tampak di awal rekaman, hmmm dia punya kerja ini. Semua file aku copy, aku format microSDnya kukembalikan pada posisi semula. Bocah laknat, batinku.

Lalu malam hingga pagi berjalan seperti keluarga biasa, dini hari Mami berupaya mengajakku bercinta namun aku menolak, aku bilang capek. Lalu kami makan sahur bersama.

Menjelang siang, setelah kami bersepeda keliling komplek, aku mulai kerja. Pertama aku cari tahu tentang Sofia, dari info yang sudah kudapat kukembangkan hingga kemudian aku bisa mengetahui riwayat pendidikannya, kawan-kawannya di medsos, hmm ternyata kami memiliki 3 mutual friends. Robert, seorang lawyer lalu Catherine atlet berkuda dan Iwan seorang Komisaris Besar Polisi. Aku add friend di facebook.

Dari namanya kemudian aku mendapatkan kelompok pengajian sosialita yang diikutinya, tempat sekolah anaknya dan beberapa foto dari kawan akunnya yang menandai Sofia. Info dasar kurasa lengkap, kemudian aku mencoba check data pajaknya, melalui jaringan di kantor pajak aku bisa dapat NPWP dan besaran pajak yang dia bayar terakhir, nilainya fantastis, setelah melalui proses amnesty pajak dia mesti harus membayar 128 Milyar pajak tahun 2016 yang lalu.

Aku semakin penasaran, aku cari data bank melalui jaringan juga tentu saja, kudapati 3 rekening yang berisi saldo total hampir 3 Trilyun. Dari jaringan di Commontwealth Bank, aku mendapat info bahwa Sofia memiliki 3 safe deposit box di banknya dan itu aktif, namun dia tidak bisa tahu apa isinya.

Aku membuat laporan untuk Mida, rekening, pajak dan deposit box aku tidak laporkan. Email terkirim, tinggal menunggu reaponse.

Kemudian aku duduk di kursi malas, memutar lagunya Payung Teduh album Dunia Batas. Aku terpejam memikirkan kelakuan Surya, Mami, diriku sendiri dan terakhir mereka-reka siapakah Sofia. Setelah itu aku pulas tertidur.

Cerita Panas Terbaik Episode 5 : Tarian Mida

Hari ke dua aku di rumah muak sudah kurasa, Surya sering pamit keluar dengan alasan ngantar belanja Lis lah, ambil laundry lah dan semua selalu bersama Lis lama-lama bunting itu anak orang. Mami berangkat pagi sekali dan pulang hampir tengah malam, entah kerja benar entah kerja sama Banu aku tidak lagi penasaran. Sebuah pesan dari Mida menggerakkanku untuk keluar rumah dan menemuinya.

Perempuan bernama Mida ini walau kulitnya tidaklah putih, namun bersih mulus layaknya orang Indonesia Timur, manis enak dipandang. Kami bertemu di sebuah Kedai Juice di Melawai, lokasinya ada di pojokan blok, cukup ramai namun di lantai 2 memungkinkan untuk leluasa berbicara.

Laporan tentang Sofia aku paparkan tentu tidak semua, hal-hal yang kurasa belum saatnya aku simpan. Mida mengagumi cara kerjaku dan berkata bahwa kinerjaku beyond expectation menurutnya. Aku menjawab bahwa ada tim yang mendukungku.

Pembayaran diselesaikannya dengan uang cash, ditambahkannya segepok rupiah berwarna biru, aku perkirakan berjumlah 5 juta rupiah, untuk bonus katanya. Berkat hasil kerjaku yang cepat dia bisa melakukan misi pribadi, mencari keluarga Ayahnya di Madura.

“Syam, sebelum misi Sofia tahap 2 aku jalankan, aku akan melapor dulu ke Bos, nah sementara menunggu maukah kamu menjalankan misi pribadiku, mencari silsilah keluarga bapakku di Madura? Kemaren aku mencari ke sana semuanya buntu. Fee nya terserah, kamu WA aja quotationnya ya…?”

“Berikan aku data awal, nanti aku kembangkan sendiri.”

Mida menyerahkan file beberapa lembar berisi data-data ayahnya dan kakeknya, kubaca sekilas, hmm pekerjaan yang mudah dengan fee terserah, cocoklah bisa buat mengisi tabungan.

Aku coba menggali latar belakang bossnya Mida ingin mencari tahu perihal Sofia, siapakah boss Mida ini? Apa hubungannya dengan Sofia? Namun Mida masih berputar-putar tidak menjawab langsung. Secara umum adalah Bossnya adalah istri seorang pengusaha besar kelas dunia, istrinya itu curiga ada hubungan antara suaminya dengan Sofia, karena beberapa kali ada log video call di hp suaminya. Aku berpikir, “okelah fine! Aku akan mencari sendiri”.

Pembicaraan berlanjut ke hal-hal tak penting lainnya, aku memperhatikan wajah Mida lekat-lekat, giginya sungguh putih kontras dengan bibirnya yang disapu warna merah maroon lembut, jika dia berbicara atau tersenyum seakan ada cahaya keluar dari rongga mulutnya itu.

Kulitnya bersih mulus berwarna ebony muda, mirip orang Flores atau Maluku namun seperti ada unsur India di sana. Memamau blues putih yang tampak mahal dipadu celana panjang coklat muda membuatnya tampak sigap dan pintar.

Aku membayangkan menelanjanginya di atas sprei putih, menjilat dan mengecup leher dada dan susunya, membayangkan menggelitik putingnya yang pasti legam, seperti biji kelengkeng ketika mengeras, dengan lidahku. Hmm seperti apa rongga vaginanya? Merah tua kah? Merah muda kah? Hitam kah? Aku menjadi bergairah feromonmu berpendar mencoba menarik perhatian Mida.

Ada nafsu dan gairah namun hormat dan seganku masih dominan. Bagaimanapun Mida adalah klienku, klien potensial aku harus menjaga hubungan agar tetap profesional.

“Syam, aku bisa membaca pikiranmu! Tidak akan kau dapatkan itu, tidak sekarang, entah nanti!”

Sialan, dia bisa menebak apa yang kupikirkan dan aku dijeratnya dengan pesona dan gertakannya yang menjanjikan. Namun aku paham, apa yang dikatakan Mida benar adanya. Tidak sekarang, entah besok. Seperti penari erotis yang memancing birahi namun tidak akan terjangkau untuk menuntaskan.

Kami berpisah, aku menuju Grand Wijaya, ingin aku berendam dan bersauna sambil berkoordinasi dengan jaringan dan rekan kerja. Aku masuk sebuah spa paling besar di sana, mengikuti alur loker, ganti piyama, duduk di lounge, kirim dan terima pesan sambil minum juice lalu menuju room untuk pijat.

Di dalam ruangan, Santi nama therapisnya, entah benar entah tidak, mulai mengurut kaki dan betisku. Aku sengaja diam menikmati tidak membuka pembicaraan. Hingga Santi mulai mengakrabkan diri,

“Kakak siapa namanya?”
“Namaku Syam”
“Syamsuddin ya kak? Hihihi sama dengan nama pacarku dulu di kampung”
“Oh ya? Waduh CLBK dong ini”

Penasaranku terhadap Mida aku lampiaskan kepada Santi, aku sudah sangat berpengalaman menaklukkkan therapist agar mau mengikuti kemauanku, dengan teknis dasar mirroring, aku mengikuti pembicaraanya, menyamakan thema, pilihan kata dan gaya bahasa. Hingga mereka merasa setara, tidak dalam hamba dan tuan namun punya kuasa untuk bertindak atas kemauannya.

Aku menghentikan pijatan Santi, “Udah berhenti dulu, sini berbaring di sebelahku, peluk aku sini”
Ketika dia berbaring, dia memeluk dengan canggung, aku membalas memeluk lembut dan kadang terlelap sejenak. “Enak ya kak tidurnya”
“Iya nyaman banget, lebih enak dipeluk daripada dipijit”

Aku memijat lembut bahu Santi, kupijat kepalanya seperti tukang cukur memijat kepala pasiennya. Dia terpejam keenakan, bibirnya tersenyum sedikit. Aku mengecup bibirnya, dia melengos namun tersenyum. Aku kecup lagi, dia menghindar lagi dan yang ketiga dia tidak lagi menolak, aku mengulum pelaaan sekali, memperlakukan Santi seolah dia kekasih jaman SMA, menciumnya dengan ragu dan takut.

Cerita Panas Terbaik | Santi mengikuti irama ciumanku, sambil kuraba punggung hingga pantatnya. Di saku belakang terasa benda kenyal melingkar, hmm ada kondom rupanya, okay dia bisa memang diajak bersenggama, namun aku tidak dengan cara biasa, tidak dengan tawar menawar harga atas jasa, aku mau bercinta bukan jual beli. Soal nanti aku kasih uang untuk dia belanja itu lain cerita.

Ciuman dan rabaan terus berlanjut, Santi di atasku, aku terlentang telanjang, dia masih memakai baju. Santi menciumiku dengan mata terpejam, dia tampak sungguh menikmati, aku berusaha meresponse dengan seminim mungkin, kubiarkan dia memegang kendali, kubiarkan dia menjadi superior.

Nafas Santi mulai memburu, matanya terpejam sambil lidahnya menggelitik puting kecilku. Entah siapa yang dia bayangkan namun aku benar-benar menjadi obyek. Aku bahkan tidak berupaya membuka baju, bra ataupun rok pendeknya. Aku berada dalam posisi menyerah.

Santi sendiri yang membuka baju, namun masih pakai bra, ketika dia mau membuka bra, aku berkata, ” eh mau ngapain? Wani Piro? ” Santi tertawa geli, sebuah kalimat yang seharusnya keluar dari mulutnya. Dia tetep membuka bra, sambil membungkuk mengarah ke kelaminku dia berujar, “bodo amat, pokoknya aku perkosa!” Dan dikulumnya kelaminku dengan gaya profesional yang membuatku ngilu-ngilu enak.

Kedua susunya digesek-gesek menjepit kelaminku, menjadikannya tegak keras mengacung, Santi mengambil condom membuka rok pendek yang juga sekaligus celana itu, laku menyarungkan memeknya ke kelaminku dan langsung dihajarnya dengan goyangan beritme tinggi.

Tanpa jeda dia memaju mundurkan pinggulnya dengan kecepatan dan tekanan yang cukup tinggi. Aku menahan otot jalur sperma agar tidak segera keluar, kutahan hingga santi tiba-tiba mendesis laksana ular betina raksasa, mengeliat bertumpu ke belakang dengan kedua tangannya dan mengurut kelaminku dengan memeknya, aku juga melepas jepitan otot kelamin sehingga ejakulasi pun terjadi. Kami bersama mencapai orgasme. Aku tergeletak lemas, Santi berpindah posisi meniduriku, mengecup bibirku sambil berkata, “Makasih ya kakak, sudah lama tidak merasa seenak ini” dan denyut-denyut otot vaginanya terasa di kelaminku yang melemas. (Bersambung)

Silahkan baca kelanjutan cerita panas terbaik ini DISINI. (Episode 6-7)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*