Cerita Sange: Sisi Liar Mbak Ani, Pembantuku yang Manis

Cerita Sange Ngewe Dengan Pembantu

Cerita Sange Terbaru
Cerita Sange Terbaru

Catatan: Cerita sange ini merupakan hasil copas dari forum. Sebab, sayang rasanya kalo sebuah ‘Karya cerita sange yang Bagus’ ga dishare atau dinikmati di ‘Tempat yang Bagus’ juga. Mudah-mudahan.. dengan share ini, kalian semua dapat terhibur.

Cerita Sange – Sisi Liar Mbak Ani, Pembantuku yang Manis

Dia sebenarnya bisa dibilang pembantu bisa dibilang setengah pembantu. Namanya Ani, biasa kupanggil Mbak.. karena lebih tua 3 tahunan dari usiaku. Telah bersama dengan keluarga kami selama lebih kurang 15 tahunan, sejak aku berumur 5tahun.

Mbak Ani merupakan sosok wanita yang keibuan, dengan wajah manis –nilai 7–.. rambut sebahu lebih.. kulit agak putih.. badan cukup berisi.. penuh perhatian pada kami yang ber-4 ini. Ukuran-ukuran tubuhnya nantilah aku jelaskan sambil jalan, yaa.. hehe..

Sudah sewajarnya bila kami yang masih kecil-kecil ini dimandikan olehnya. Terkadang Mbak Ani ikut mandi juga.. walau masih berpakaian lengkap. Sempat terpikir juga olehku..
Kenapa Mbak Ani masih pakai baju kalo mandi.. apa gak tambah repot..?
Tapi pikiran itu tak mungkin kusampaikan pada siapapun, bisa dianggap ada apa-apa nanti.

Entah mengapa –menurutku..– perhatian Mbak Ani padaku terasa lebih daripada dengan saudara-saudaraku yang lain.
Semenjak umur 8 tahun Mbak sudah tidak memandikan aku.
Karena rasa maluku mulai ada.. Udah besar kok masih dimandiin..? Begitu kira-kira pikiranku saat itu.

Bila sedang ikut mandi.. jelas tercetak bentuk badannya.. walau masih berpakaian lengkap.
Kadang Ia mengenakan daster.. kadang baby doll.
Dengan telaten dia menyiramku, menyabuni dan mengeringkanku.

Saat memakai daster atau baby doll yang berleher rendah dan sedikit lebar, tentu saja sedikit terlihat belahan dadanya.
Tapi karena saat usia segitu aku masih belum tahu apa-apa.. maka yang terbersit hanyalah ..
Llho.. kethok susune sithik.. –keliatan susunya dikit..– Haha..

Sekian tahun berlalu. Mbak Ani tetap setia dengan keluarga kami.
Hanya saat ia berusia 17.. Ia dikawinkan oleh orangtuanya.
Sayang, pernikahannya cuma bertahan setahun.

Kini.. – kondisi di rumahku.. eh, rumah kedua orangtuaku..– yang sering berada di rumah hanya aku dan adik terakhirku.
Hari itu Mbak Ani memakai daster kuning cerah.

Hanya saja yang membuatku agak surprise adalah panjang dari daster itu.. hanya di atas lutut sedikit..!?
Jadi wajar kalo pikiranku melayang-layang, sebab selama ini belum pernah melihatnya dalam kondisi seperti itu.
Terlebih saat itu aku sudah berumur 17 jalan 18 tahun.

Mbak Ani ternyata tubuhnya oke juga. Atas bawah depan belakang. Berapa ya nomer beha-nya..?
Warna celana dalamnya..?

Beragam pertanyaan nakal mulai hilir-mudik di pikiranku.

Orang rumah tinggal aku.. semua sibuk entah ke mana.
Daripada sumpek aku putuskan menyalakan TV plus VCD XXX.
Kan gak ada orang sama sekali. Mbak Ani sibuk di belakang. Mbak Nur lagi pulang.
Paling sore atau malem pada pulang semua. Gak ada salahnya puter XXX.. hihihi..
begitu pikirku.

Film itu berdurasi 2 jam. Menit-menit awal belum ada adegan panas.
Kupause sejenak untuk bikin es sirup. Mbak Ani kulihat masih cuci bajunya sendiri.
Apa mungkin ya Mbak mau nemenin aku nonton.. nanti dilaporkan ortu.. wahhh.. bisa dirajam aku.
Ahh.. iya atau tidak.. nekat aja..
Pikiran mesum merajam otakku.

Aku langkahkan kaki ke tempat cucian.
Mbak Ani sedang menyampirkan baju-bajunya di kawat biar kering.
Saat menyampirkan.. daster itu terangkat lebih tinggi dari normalnya.
Makin dag-dig-dug hatiku. Kupasrahkan apa yang terjadi.

“Mbak.. mo nemenin aku nonton filem..?”
“Ha.. filem.. boleh.. tak selesain dulu ya Mas..”
Mbak Ani merespon ajakanku sambil tetap menata letak baju-bajunya di kawat jemuran.
Daster itu sedikit mencetak tubuhnya.. di dada.. paha dan pantat.

Aku cepet-cepet bikin es sirup lalu balik ke ruang tv.
Tak berapa lama kudengar langkah kaki Mbak Ani.
Kulirik.. Lho.. masih pake daster itu..? Kan agak basah..

“Mbak gak ganti dulu..? Ntar masuk angin lho..”
“Gak pa-pa Mas.. paling sebentar liat filemnya. Abis itu aku mandi..”

Kulanjutkan filemnya. Kami duduk bersebelahan. Mbak Ani duduk bersila.
Dengan ekor mata.. kulirik pahanya yang makin keliatan.

Filem berjalan lagi. Masih ngobrol ngalor ngidul.
Menginjak pemeran cewek dan cowok mulai berpegangan tangan dan berciuman..
Si Mbak berkata.. ”Lho.. filem apa ini Mas..? Nanti ketauan Bapak Ibu lho..”
“Gak pa-pa Mbak.. kan udah besar. Filemnya juga tak sembunyiin kok.. hihihi..”
Mbak Ani cuma geleng-geleng kepala.

Filem tambah panas..
Pemeran cewek mulai mendesah-desah saat leher dan pantatnya mulai dirangsang.
Akupun mulai gelisah duduknya.
Kubetulkan letak tititku yang mulai bangun. Mbak Ani mulai naik-turun napasnya.

Aku bangkit dari duduk.
“Mas mo ke mana..? Ini belum selesai..”
“Mo ambil es sirup di meja Mbak..”
“Ooo.. tak pikir ke mana..” Es sirup lalu kuletakkan di sebelah kiriku.

Entah mengapa saat itu naluri dan nafsu mulai mengalahkan akal sehatku.
Kuberanikan diri duduk makin mendekat. Mbak Ani tetap dengan posisinya.

Pemeran cewek mulai ditelanjangi. Ukuran dada cukup besar. Vaginanya gundul.. tidak berambut.
Sang cowok masih bercelana dalam. Pelan-pelan tangan si cewek bergrak masuk ke celana dalam cowoknya.
Lantas mulai meremas dan mengocok.

Aku tambah gelisah. Mungkin karena liatnya dengan Mbak Ani yang manis.. ya..? Hehe..
Duduk Mbak Ani mulai tidak teratur. Kadang bersila kadang diluruskan.
Hal-hal yang malah membuat dasternya tambah naik ke arah atas paha.

Mungkin karena dorongan setan yang tambah kenceng.. aku beranikan diri duduk di belakang Mbak Ani.
Seperti yang sudah kubilang.. aku merasa perhatian si Mbak lebih padaku.
Ditambah setan-setan yang mengitari kami.. aku makin mendekatinya dan kulingkarkan dua tanganku di pinggangnya.

“Ohh.. Mas.. ngagetin aja..”
Gubrakk..!
Aku yang kaget, malah.. Kok Mbak gak marah ato langsung pergi pas tak peluk, ya..?
Aku bingung plus seneng sih.
Pertanyaan itu tak henti-hentinya berputar di benakku.

Sambil tangan melingkar di pinggang Mbak Ani.. tapi tak erat.. masih takut kalau-kalau ia marah..
Kenapa ya Mbak gak pergi atau negur aku.. Gimana nih..? Ahhh.. Pikirku kian kalut..
Jarak antara kami sudah dekat.. tapi masih ada sela 2 – 3 cm.
Aku belum berani bener-bener dekat.. apalagi kalo Mbak tau jika tititku makin membesar..
Bisa-bisa aku Tengsin jadinya, ya ga..?

Sekarang si cewek mengajak pasangannya untuk ber-69.
Hatiku makin bergetar.. dan aku yakin si Mbak pun demikian.

Ukuran penisnya standard bule, 17 – 18cm.. lumayan montok.
Vagina si cewek tak berambut.. sedikit merah.. entah masih rapet atau gimana.. dan terlihat mulai basah.
Si cewek mulai menjilati kepala penis, sedang cowoknya membuka sedikit vagina pasangannya dan menjulurkan lidahnya.. menjilati bibir dalam.

Sang cewek mengecup-ecup kepala penis.. cowoknya berusaha mencari klitoris.
Vagina itu makin basah.. sedang kepala penis mulai berkilat.
Dengan kuat, tangan si cewek memegang batangnya dan mulai mengemutnya.
Oouughhhh.. masuk hampir semuanya.

Penisku makin besar dan memanjang pula rasanya.
Mbak Ani seakan kering tenggorokannya.. sebab kulihat beberapakali Ia menelan ludahnya.
Tangannya ditangkupkan di kedua tanganku yang memeluknya.

Duhhh.. si Mbak ngrespon atau cuma karena kita deket aja nih..!?
Benakku berseliweran aneka pertanyaan.

Kulihat dari balik pundaknya.. ketinggian daster itu sekarang tinggal seperempat paha.
Bah.. sido opo gak.. bablas ae..! –biar.. jadi atau gak.. lanjut aja..– Pikirku nekat..

Dudukku sekarang tak berjarak.. alias rapat.
Kupeluk dirinya makin erat.. tapi bukan membekap.
Mbak Ani diam saja.. hanya dua telapakku kini dia digenggam dan sedikit diremasnya.

Koleksi Cerita Sange | Adegan di TV.. Mereka sekarang mulai masuk adegan penentu. Si cewek menaiki cowoknya. Dengan lembut sebelah tangannya menata penis pas di jalurnya. Sedang si cowok membelai lembut rambut.. turun ke dada untuk meremas susu dan pentil-pentilnya. Slebhh.. Kepala penis mulai masuk.
Si cewek menengadahkan kepala.. seakan begitu menikmatinya.. begitu seksi.
Dua tangan si cowok menyusuri punggung.. dan berhenti di pantat seksi si cewek.
Diremasnya.. dan digoyangkan maju-mundur.. walau masih pelan.

Clobb.. Kepala penis itu makin masuk dan hanya disisakan 1cm.. entah mengapa.
Rambut si cewek melambai lembut, ketika ia menundukkan kepala rambutnya pun menyentuh dada bidang.. mencium ganas sang cowok.
Lantas dengan hentakan pelan.. dilesakkannya penis yang tinggal 1 cm.. tak bersisa jarak.
Keduanya makin bergoyang kuat dan kencang.

Begitupun hati kami.
Iseng.. dua tangan Mbak Ani kuletakkan di dua pahaku.
Tangan kananku mencari pusar Mbak Ani. Ketemu. Kulingkari pelan-pelan.
Sedang yang kiri mengusap-usap perut.

Mbak meresponnya dengan meremas serta mengusap pahaku yang bercelana pendek.
Ahh.. Mbak bereaksi nih..! Teriakku senang.. dalam hati.
Buru-buru tangan kiriku membenarkan posisi titit yang masih di sarangnya yang agak miring ke kiri.
Benda itu mengganjal tepat di tengah tulang pantatnya.
Aku yakin kalo Mbak pasti juga merasakannya.

Tak terhirau entah sudah menit keberapa dan mainnya seperti apa filem itu.
Karena kamipun mulai asyik bikin adegan sendiri.
Kutiup lembut belakang lehernya, berulang.
Mbak mendesah dan sedikit menggelengkan kepala.
Kali ini punggungnya yang mulus kutiup.. berulang juga.

“Mas.. ngapain sih tiup-tiup.. geli tau..” Walau protes tapi nadanya manja.
“Mbak.. gimana ya rasanya gituan..?”

“Gituan apa..? Ooh.. yang di filem itu..? Yaaa.. enaklah. Emang Mas belum pernah..?”
“Belum Mbak .. kalo ..”

Jangan lewatkan cerita sange lainnya: Cintaku tak hanya untuk dia.

Belum sempat melanjutkan kata Mbak menyela.. “Aaahhh.. mosokkk.. gak percaya aku..”
“Yahhh.. Mbak.. mana berani aku. Selama ini onani thok.
Kan kalo mau itu jelas ke lokalisasi atau panti pijet. Lha aku belum ada keberanian dan duit yang jelas..” Panjang lebar aku beragumen.

“Hebat dong bisa nahan..”
“Yaa ditahan-tahanin sih.. hehehe..”

“Mbak masih inget rasanya..?”
Entah keberanian menanyakan itu timbul dari mana.

“Eemm.. udah nggak.. kan udah setaun. Dan lagi asyik kerja.. jadi gak mikir itu..”
“Oooo..” hanya itu sahutanku.

“Emang kenapa Mas tanya itu?”
“Gak pa-pa Mbak.. cuma nanya..”

Dengan kenekatan dan keberanian yang makin bertambah.. tangan kananku kegerakkan berjalan ke atas.
Sedikit menyentuh dadanya.
“Eehhmm..”
Mbak Ani bereaksi dengan berdehem pelan.. tapi itu sudah cukup mengagetkanku.

Berhenti.
Kusentuh lagi dadanya. Tidak ada reaksi.
Tangan kiriku menyusuri pinggang dan sedikit menyentuh pantatnya.
“Mas.. mulai nakal yaaa..” Hanya itu yang diucapkan.. tapi tidak ada penolakan tubuh.

Kepalang tanggung.. kuremas sedikit susu kirinya.. walau masih terbungkus daster dan beha.
Mbak Ani mulai menggeliat.. dan desahnya meningkat.
Kali ini aku benar-benar yakin kalo Mbak ingin kembali merasakan kehangatan lelaki.

“Maasss.. kok tambah nakal yaaaaa..”
Dua pahaku makin dicengkeram.
Kali ini kaki dan pahaku kususupkan di pahanya.. seperti memangku tapi masih duduk di lantai.
Mbak mengangkat sedikit tubuhnya agar apa yang kumaksud dimengerti.
Dua pahanya menindih paha kiri kananku.
Yang artinya panjang daster itu tinggal beberapa senti saja.

Kali ini ganti yang kanan kuremas dengan tangan kiriku.
Sedang tangan kananku meremas pinggang dan pantatnya.. yang kutingkatkan kecepatan serta kekuatannya.
Mbak mengusap-usap paha kirinya sendiri.. sedang yang kanan mengusap-usap paha kananku. Kukecup pelan belakang telinganya. Ia makin menggelengkan kepala.

“Masss.. geli kan..”
Kukecup belakang leher dan punggungnya.
Dicubitnya paha kiriku.
“Aduhhh.. atit kan..?”
“Biarin.. dibilang geli juga..”

Sekarang tangan kiriku menyusup ke celah daster dari ketiaknya.
Kuremas dan mulai mencari pentilnya.
“Aaahhh.. Mmmaaass mau ngapain sssiihhhh..?”

Tangan kanannya malah naik ke paha kananku.. dan hanya berjarak 1 cm dari gundukan kebanggaanku.
Mungkin masih malu atau menahan diri. Berhenti di sana.
Kuintensifkan remasan di susunya. Mbak Ani mulai berkeringat banyak.
Kali ini tangan kananku kuberanikan menyusuri paha kanannya.
Terus.. Dan menyentuh pinggiran depan celana dalamnya. Berhenti.. belum berani kuteruskan.

Tak lama kurasakan tangan kanan Mbak Ani mulai disentuhkan ke tengah celanaku.. dan diremas serta dielus-elusnya.
Aku senengnya bukan main. Rencana yang kususun tiba-tiba ternyata berjalan sangat baik.

Tangan kiriku kutarik keluar. Daster sebelah kiri kuturunkan sedikit.
Kutarik tubuhnya agar bisa kukecup pundak kirinya.
Kepalanya miring ke kanan.. digoyangkan lembut.
Jrengg..! Ternyata beha-nya warna hitam.. one of my fave.
Hasratku makin melambung.

Kuturunkan terus daster sebelah kiri.
Mbak membantu dengan melepaskan tangan kanannya dari tonjolanku dan meloloskan daster sebelah kiri.
Kini pundak dan punggung kirinya terlihat. Kukecup-kecup terus area itu.

“Mmmasss.. mau liat Mbak telanjang..?” Aku tak menjawab..
“Heeh..” Tangan kanannya kembali mengusap, meremas penisku.
Sedang tangan kananku sedikit demi sedikit mendekati bagian depan celana dalamnya.

Ketika sampai.. kurasakan lembab.. hangat dan seperti berair.
Penisku makin diremasnya.. walau masih dibungkus celana dan celana dalam.
“Ooohh.. ssshhhtttt.. Mmmaass.. kok gini sihhhhh..?”

Kutarik ke bawah tali beha yang kiri.
Karena belum tau apa-apa, agak kesulitan, aku.

“Daster kanan diturunin juga Masss..”
Lha.. malah Mbak yang kasih komando..? Malu aku.
Tapi lantas diturunin sendiri yang kanan.
Kini seluruh bagian belakang tubuh atasnya telah terbuka.

Kali ini tanpa komandonya.. kucari sendiri kait beha-nya.. ketemu.
Ctess..! Lepas sudah. Mbak melepasnya sendiri. Haha..
Belum kulihat bentuk susunya. Mbak terlihat berkilat karena keringatnya terkena sinar lampu.

“Sekarang Mas mau apa lagi..?” Aku tak menjawabnya.
Kutangkupkan dua tanganku di dadanya.
Mbak Ani menoleh ke belakang dan tersenyum, manis sekali, hanya itu.
Duh.. ternyata susu itu.. apalagi punya Mbak begitu padat dan lembut..

Cerita Sange Terbaru | Kuremas-remas pelan. Mbak makin meremas penisku. Tangan kirinya disusupkan masuk celanaku. Masuk ke celana dalamku. Kurasakan pentil-pentilnya mengeras dan memanjang. Kuputar-putar dan kupencet-pencet lembut. Ia makin mendesah dan menggeliat-geliat.

Karet celanaku mulai diturunkan. Aku membantunya dengan melepas sendiri celanaku.
Tangan kananku kuperintahkan menuju celana dalamnya. Kuusap-usap lembut dan berputar.
“Ooohhhh.. Mmmasss.. kamu nyiksa akkkuuuu..”

Kuselipkan dua jariku ke balik celana dalamnya.
Ternyata rambutnya tidak begitu lebat. Bibir luar mulai kena.

Tangan kirinya masuk ke celana dalamku. Diturun dan naikkan ke batangku.
Tangan kiriku menurunkan daster yang telah di pinggangnya.
Mbak Ani berdiri sedikit.. dan.. blugh..! Lepaslah dasternya.
Celana dalam Mbak Ani satu warna ternyata dengan behanya..

Aku tak mau kalah.. melepas pula celana dalamku. Penisku telah benar-benar tegak. mengacung.
Mbak sedikit membesarkan matanya.. mungkin kagum.

Dari samping terlihat bentuk susunya.
“Mbak.. susunya bagus deh..”
“Ahh.. gombal..”
“Bener Mbak..”
Mbak hanya tersenyum lebar, bangga.

Kami duduk berhadapan sekarang.
“Nah.. Mbak sudah bugil sekarang. Mas mau apalagi..?”
Aku belum menjawab, menelan ludah, fokus pada susunya.
Pentil dan areolanya coklat.

“Mbak.. ukuran berapa ini..?” sambil kusentuh pentilnya.
“34B Mas .. Eh.. belum jawab kok nanya..?”

Kuarahkan mataku ke bawah.
Vaginanya berambut sedikit.. agak tembem.. berwarna sedikit hitam.

“Ajarin cium dong..”
“Hmmm.. bisa juga..”
Mbak memajukan tubuh. Membuka bibir.
Refleks aku pun membuka bibir pula. Hangat.
Nafas kami menyatu. Ciumannya lembut dan penuh penghayatan.
Sedikit-sedikit gigiku mengenainya.. Maklum.. belum pernah.
Tangan kanannya membelai kepalaku. Yang kiri mengusap-usap punggungku.

Aku meresponnya dengan meremas-remas pantat dan mengusap-usap punggungnya.
Makin lama ciuman kami makin ganas. Saling sedot lidah.
Kepalaku ditekannya.
Tangan kiriku mengusap-usap vagina.. sedang yang kanan kembali bermain susu.
Tangan kiri Mbak Ani menaik-turunkan batangku.
Hampir 10 menit kami berciuman.

“Ooohh..”
Mbak Ani melepaskan bibir dan mendesah kencang.
Kutarik kembali kepalanya.

Jari telunjuk kananku memasuki liangnya. Mbak Ani merem.
Genggamannya makin kuat dan kecepatan naik-turunnya makin bertambah.
Tingkat kebasahan vaginanya makin tinggi.

Kukecup lehernya, kadang kugigit.
Tangan kanannya meremas-remas pantatku.

Kutambah satu jari lagi.
“Aadduuhhh Mmmmaaassss.. hhhhmmmm..”
Tak kusangka.. tubuhku lantas didorongnya.. hingga aku telentang di karpet.
Kepalanya langsung menuju penis. Dikecup dan dijilati. Kepala penisku bagai permen baginya.
Aku hanya bisa membelai dan meremas kepalanya.
Anganku terbang tinggi.

Dimasukkannya seluruh batangku.
“Oooohhh.. Mmmbbbaaakk..”
“Rasain.. salah sendiri ngusilin orang..” celotehnya sambil tetap mengemut penis tegangku.

“Habisss.. aku sayang Mbakkkkk..”
Ia tidak menjawab.. hanya melihatku dan tersenyum. Cantiknya Ia saat itu.

Mbak menaikkan tubuhnya.
Rambutnya berjalan pelan di paha.. perut.. dadaku.. so sexy.

“Mas.. jangan bilang siapa-apa ya tentang ini dan .. aku juga sayang Mas sejak lama..”
Aku tersenyum bahagia.

“Sekarang.. kupersembahkan sayangku untukmu Mas..”
Begitu Mbak Ani selesai berkata.. aku diciumnya lembut sekali dan lama.
Aku pegang kepalanya dalam-dalam.

Ternyata.. posisi tubuhnya sudah tepat di tengah batangku.
Tangan kirinya memegang batangku.
Digeser-geser pelan di parit vaginanya.

“Aaddduhhh Mmmbbbaakkk..”
Aku yang belum pernah merasakan gesekan awal.. hanya bisa merintih dengan sekujur tubuh merinding.
Slepph.. Pelan-pelan kepala penisku terselip masuk di lepitan bibir vaginanya.
Mbak sedikit merem sambil menggigit bibir.

Drrtt.. drrtt.. Batangku serasa dialiri listrik lembut tapi menggetarkan hati.
Lalu.. Jleghh.. “Ooouufffffsshhhttt.. mentok Mmmmasss..”
Memang kurasakan penisku menyentuh dinding paling akhir.
Mbak berkata itu sambil merebahkan diri ke tubuhku.

Kubelai rambut dan kepalanya. “Makasih banyak ya Mbak..”
Ia mengangkat kepalanya dan menciumku.. sambil mulai menggoyang pelan tubuh bawahnya.

Clebhh.. clebb.. clubb..clubb.. kecipak lembut tercipta dari pertemuan dua kelamin di sana..
Aku makin tak karuan. Kedua tanganku hanya tergeletak pasrah.
Dua tangan Mbak Ani memegang lembut pipi kiri kananku.

Aku tersadar.
Kalo begini.. aku bisa keluar cepet, nihh.. pikirku galau..

Sambil tangan kanan menarik kepala Mbak, kucium dalam-dalam.
Yang kiri meremas-remas susunya.

Goyangan Mbak makin menjadi.
“Aaahh.. aaahhhh.. Mmmassss.. aakkkhhuuu juga terrriimmaakasssiihhh..”

Kami berciuman dan saling sedot lidah.
Sementara di bawah sana.. kedua kelamin kami tetap bersilaturrahmi dengan mesranya..
Menimbulkan friksi nikmat.. di setiap gesekan yang terjadi ketika batang penisku menjejali liang vagina peret mbak Ani..

“Oughh.. mmasshh..” rintih mbak Ani tiapkali ujung penisku mentok di dasar liang vaginanya..
Kadang Mbak menengadahkan kepala dan merem penuh penghayatan.. saat kusentak sedikit penisku ke atas.
“Ooohh ssshhh.. Mbak makin enak kalo tak begitukan terus, mashh..” bisiknya lagi.. menyuarakan nikmat yang dirasanya.

Setiap 2 menit kulakukan lagi.
“Mmmmassss.. kkkkkammuuu kookkkk ppiintterrr sssiiihhhh..?”
Aku juga mati-matian bertahan agar tidak jebol dulu.

Mbak naik-turun.. maju-mundur makin cepat.
Pentilku digigit pelan dan kadang mencakar dada.
“Aduh.. atit kan Mbak..”
“Sukurin..”

“Ayyyyoooo Mmmmmassss.. aaakkkuuu mau sssammpaiiii..”
“Tunggguuuu Mmmbbbaaakk.. aaakkkkuuu jjjuuugggaa..”
Aku menyentakkan penis makin cepat.. Mbak Ani pun berputar makin liar.

Tiba-tiba ia menegakkan punggung.. menghentakkan pantatnya ke bawah dan dadaku dicakar.
“Ooooohhhh.. Mmmmaaassss..”
Serrr.. serr.. serr.. serr.. Kurasakan ada aliran air hangat dan lembut yang mengaliri batangku.
Inikah orgasme cewek..? analisisku.

Aku tak mau ketinggalan.
Pantat Mbak makin kuremas.. kugerakkan maju-mundur penisku di lorong vaginanya.

Selang 1 menit.. “Mmbbbaakkkkhh.. ooohhhhh..”
Crett.. creett.. crett… crett..
Kusemburkan dalam-dalam cairanku. Mbak Ani memelukku erat.
Akupun demikian. Tubuhku sedikit terhentak-hentak beberapakali.
Kurasakan banyak maniku yang menyembur di kedalaman vaginanya.

Sekitar 5 menit kami berpelukan. Kudengar isak tangis pelan.
“Kenapa Mbak..? Ngg.. maafin aku ya Mbak.. aku bener-bener sayang sama Mbak..” ujarku tulus dan pelan.. dengan nada khawatir.

Mbak Ani tak menjawab. Isak itu makin kuat.
Kubelai-belai rambutnya. Cukup lama.

“Nggak Mas.. aku yang minta maaf. Sudah ngajari yang enggak-enggak dan ngambil perjakamu Mas..”
“Nggak Mbak.. aku seneng Mbak yang ngajari pertamakali. Sudah lama aku menginginkannya..” balasku sungguh-sungguh.

Cerita Sange | Kuangkat kepalanya. Kutatap mata bening dan basah itu. Kukecup lembut sekali bibirnya, hangat dan dalam. Mbak Ani melakukan yang sama. “Aku tau Mas..” Damai sekali saat itu.

“Mbak.. nanti kalo hamil gimana..? Kok nggak dilepas-lepas penisku..?”
“Bentar lagi Mas.. aku masih pingin penismu di dalam. Aku nanti beli obat antinya di apotik depan. Mas sendiri sih yang mulai..”
Sambil menyentil ujung hidungku.
Ia tersenyum manis dan sedikit kelihatan giginya –kalian bisa membayangkannya tho..–
“Hehehe.. Mbak juga ngrespon..”
Aku gak mau kalah debat.. sambil menggigit ujung hidungnya.
Kami serasa pasangan kekasih yang sedang memadu asmara.

“Mandi yok Mas..” ajaknya kemudian.
“Mandiin kayak dulu ya..”
“Iya, Masku sayang..”

Mbak Ani bangkit dan mengelap vaginanya dengan dasternya.
“Banyak sekali mani Mas..”
“Kan artinya sayang..” Penisku dilapnya juga.

Sayangnya kami tak kan bisa bersatu. Walau begitu hingga saat ini rasa itu masih ada.
Entah berapakali kami memadu nafsu.. dan untungnya tidak ada orang rumah yang menciumnya.. (Tamat)

Sekian dulu Cerita Sange ini bray! Semoga selalu terhibur.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*