Cerita Seks Pemaksaan: Terdampar di Pulau Terkutuk

Koleksi cerita seks pemaksaan tentang kecelakaan pesawat di pulau terpencil

Cerita Seks Pemaksaan

Desclaimer cerita seks pemaksaan: Mungkin cerita seks pemaksaan ini adalah cerita yang sudah sangat lawas. Sudah hampir 10 tahun ia beredar di dunia maya. Tapi seperti pepatah “old but gold” layak disematkan kepada cerita seks pemaksaan ini. Bagaimana kisahnya, temukan sendiri melalui cerita seks pemaksaan tentang kecelakaan pesawat yang membuat mereka………

Cerita Seks Pemaksaan – Terdampar di Pulau Terkutuk

Ayesh Wulandari duduk di kursi pesawat dengan setenang mungkin, jantung pramugari berusia 24 tahun itu berdebar kencang namun dia meyakinkan dirinya sendiri dengan berdoa dan berharap yang terbaik. Dia tidak ingin terlihat panik di hadapan para penumpang. Dengan tangannya yang berkeringat dingin Ayesh memasang sabuk pengaman.

Febby Dwi Astuti telah lebih dulu duduk di samping Ayesh, saat ia duduk, Febby membantunya mengenakan sabuk pengaman. Wajah gadis yang sebaya dengan Ayesh itu berubah setelah memperhatikan wajah rekannya terlihat berbeda usai kembali dari kokpit. Dengan perlahan dan sesantai mungkin dia mendekatkan diri ke Ayesh.

“Sst…, ada apa?” bisik Febby bertanya.

“Badai.” Jawab Ayesh juga sambil berbisik. “Besar sekali.”

Febby tidak melanjutkan percakapan karena yakin saat ini hal paling baik yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan terus berdoa, karena seandainya ada penumpang yang melihat ke arah mereka dalam keadaan panik maka situasi bisa menjadi tidak terkendali, namun tidak bisa disangkal, jantungnya berdebar kian kencang dan perasaannya menjadi gelisah.

Ayesh menatap ke arah jendela kecil di samping kiri, perutnya langsung terasa mual saat ia melihat keluar. Awan gelap berputar dengan ganas mengitari pesawat mereka, guntur menderu dan kilat menyambar silih berganti. Berulangkali pesawat mereka terguncang dan terasa menumbuk awan pekat. Beberapa orang penumpang yang tadinya bercakap-cakap kini diam sama sekali, suasana sangat hening dan ketegangan mulais terasa.

Cerita Seks Pemaksaan | Tiba-tiba saja terjadi sentakan yang sangat keras. Kantong-kantong oksigen terjatuh dari langit-langit dan getaran kepanikan langsung menyebar di seluruh penjuru lorong pesawat. Teriakan dan jeritan terjadi tanpa bisa dicegah saat badan pesawat berguling-guling di udara. Ayesh tidak bisa melihat apa-apa karena semua menjadi kabur dan badan pesawat bergetar hebat.

Ayesh sempat melirik keluar jendela dan yakin kalau mereka saat ini sedang terbang dalam posisi terbalik. Febby sudah memejamkan mata karena takut dan mengira mereka semua akan mati. Pesawat komersial itu memang sedang dalam bahaya, entah apa yang terjadi di kokpit, tapi sepertinya pilot gagal mengendalikan pesawat. Seperti sebuah pesawat tempur jet, pesawat ini meliuk-liuk dan berputar-putar, langsung menghunjam ke bawah menuju lautan.

Benturan keras dengan permukaan laut tak terhindari, air laut yang menyambut tak ubahnya lantai besi yang menghadang badan pesawat. Suara berderak yang menyakitkan terjadi ketika satu-persatu badan pesawat tercabut dari kerangkanya. Ayesh masih sempat melihat salah satu sayap pesawat hancur berantakan, lalu ia mendengar Febby menjerit dan akhirnya ia sendiri menjerit.

Lalu semuanya menjadi gelap.

###

Sebuah kapal layar menyusuri laut dengan gemulai, kapal itu melaju dengan cepat di bawah terik sinar matahari yang membakar. Warna lembayung langit terpantul ke permukaan air yang tenang. Beberapa orang laki-laki duduk di geladak kapal sambil bersenda gurau. Namun canda itu terhenti ketika salah seorang di antara mereka naik ke atas dan memandang kejauhan dengan raut wajah masam.

“Kok wajahnya kusut, bang? Ada masalah?” tanya Rustam pada Wakidi yang baru saja naik.

Asep, Wariyun dan Bagong yang mendengar pertanyaan Rustam melirik ke arah Wakidi dengan pandangan bertanya-tanya. Memang ada yang aneh pada rekan mereka itu. Beberapa saat yang lalu dia masih gembira karena bisa melarikan diri dari penjara, tapi entah kenapa tiba-tiba saja raut wajahnya berubah.

Memang benar, kelima orang ini (dan satu orang lagi yang berada di kabin bawah) adalah sekelompok residivis yang sudah hampir sebulan melarikan diri dari penjara. Dengan lihai mereka menghindari kejaran polisi di darat dan sementara ini menyamar sebagai pelaut, kebetulan salah satu di antara mereka dulunya adalah seorang nelayan jagoan sebelum dijebloskan ke bui.

Nelayan jagoan itu bernama Wakidi, teman-temannya yang lain memanggilnya ‘Abang’ karena memang usianya yang paling tua. Pria berkulit gelap, berkepala plontos dan berwajah burik sangar ini sudah berusia 48 tahun tapi tubuhnya masih seperti anak muda, kekar dan gagah. Konon Wakidi dijebloskan ke penjara karena pernah membunuh istri dan orang yang meniduri istrinya saat mereka tertangkap basah sedang bersenggama di rumah Wakidi, pria itu kalap dan membunuh keduanya. Dibanding yang lain, Wakidi memiliki beraneka ragam kemampuan, dia juga dianggap paling bijak, karena itu Wakidi diangkat sebagai pimpinan kelompok kecil ini.

“Warna langitnya aneh.” Kata Wakidi sambil memperhatikan arah barat.

Keempat residivis lain langsung menengok ke arah barat seperti Wakidi. “Iya, warnanya coklat buram, kayak tembaga. Aneh.” Kata Rustam sambil menganggukkan kepala tanda setuju.

“Siap-siap kalian semua. Bentar lagi bakal ada badai.” Kata Wakidi lagi sambil mendengus-dengus seperti seekor anjing pelacak. “Aku bisa mencium baunya.”

Rustam, Asep, Wariyun dan Bagong sudah sangat kenal dan tahu pengalaman Wakidi di laut, jadi mereka percaya saja ketika Wakidi mengatakan badai akan segera tiba. Dengan penuh rasa khawatir mereka menatap ke arah barat.

“Apa bisa kita sampai di tujuan sebelum badai itu datang?” tanya Wariyun. “Aku gak kabur dari rutan cuma buat berlayar terus dihantam badai.”

Setelah sebulan berpindah-pindah lokasi dari pantai ke pantai, para residivis itu merencanakan berlabuh di sebuah tempat untuk kemudian meneruskan pelarian lewat darat, malam ini seharusnya mereka sampai di tujuan.

“Mudah-mudahan.” Sahut Wakidi. “Kapal kita sudah melaju dengan kecepatan tertinggi, kita gak bisa memaksanya lebih cepat lagi,” Wakidi melirik ke arah layar yang terkembang, “anginnya keras sekali, layarnya seperti mau sobek.”

Bagong marah-marah. “Sial! Kenapa kita memilih kapal layar seperti ini? Kita bisa mengambil kapal motor milik orang yang jauh lebih cepat!”

“Dasar goblok!” maki Rustam. “Kalau kita mencuri kapal, polisi bisa melacak keberadaan kita. Udah untung teman Abang bantuin ngasih kapal gratis, masih juga gak terima kasih. Mau kamu apa sih?”

“Kapal ini memang bukan kapal motor boat yang bisa berlayar dengan kecepatan tinggi, ini cuma kapal layar nelayan biasa.” Kata Wakidi. “Seandainya ada patroli laut yang berpapasan, penampilan seperti nelayan akan mengurangi kecurigaan polisi kepada kita.”

Tiba-tiba saja warna air laut berubah menjadi biru kecoklatan, terpengaruh oleh warna langit yang juga tidak seperti lazimnya. Angin yang sedari tadi bertiup kencang, tiba-tiba saja menjadi tenang, tidak terasa oleh para napi yang melarikan diri dari tahanan itu sedikit hembusan anginpun. Sejak tadi angin yang kencang meniup rambut mereka hingga tersibak ke segala arah, namun kini tidak ada sedikitpun angin bertiup. Air menjadi tenang dan kapal layar yang mereka naiki berhenti di tengah laut.

“Wah, gak ada angin sama sekali! Beneran apes!” maki Bagong. “Gimana sekarang? Apa kita harus mendayung sampai ke tepi?”

“Gak perlu.” Wakidi mencengkeram pinggiran kapal dengan geram. Wajahnya menjadi sangat tegang. “Siap-siap! Gak lama lagi angin akan bertiup kencang sekali! Turunkan layar! Wariyun, Bagong! Kalian berdua bantu aku menurunkan layar! Rustam, kamu jaga kemudi tetep lurus. Asep, mendingan kamu cepat panggil si Marjuki, bajingan itu cuma tidur aja yang dipikirin! Gak lama lagi badai datang, gunturnya udah kedengeran.”

Langit berubah menjadi gelap saat terdengar deru gemuruh bersahut-sahutan, gumpalan awan gelap saling tumpah tindih terlihat di langit berlari-lari dari arah barat. Awan gelap yang menumpuk menyembunyikan sinar matahari dan pagi yang cerah berubah menjadi segelap malam. Butiran air hujan mulai turun sedikit demi sedikit dan sekejap, hujan deras mengguyur kapal layar yang ditumpangi oleh para napi.

“Tarik! Cepat tarik!!” perintah Wakidi.

Wariyun, Wakidi dan Bagong berusaha menurunkan layar, tapi sebelum mereka berhasil, badai sudah menghantam. Gemuruh petir menggelegar berulang-ulang, kilatnya menyambar-nyambar tanpa kenal henti seakan membelah langit. Angin bertiup dengan sangat kencang, sekeras apapun para napi itu berteriak memanggil kawannya, suara mereka hilang ditelan angin.

“Masuk ke kabin!” Wakidi menunjuk-nunjuk ke arah bawah pada Bagong. “Cepat! Tutup pintunya dan diam di dalam situ! Suruh Asep sama Juki waspada kalau ada bocor di kabin!”

Tanpa perlu disuruh lagi, Bagong masuk ke dalam meninggalkan Wariyun, Rustam dan Wakidi di luar, Bagong menutup pintu rapat-rapat dari dalam. Deru angin kian kencang, kapal layar kecil itu terombang-ambing terbawa ombak. Barang-barang yang berada di dalam kabin mulai berjatuhan ke bawah. Bagong baru saja memindah-mindahkan barang ke tempat yang lebih aman ketika Asep dan Juki datang dari dalam.

“Bagaimana di luar sana? Mana abang?” tanya Juki yang masih terlihat mengantuk.

Bagong menggelengkan kepala sambil mengumpat. “Badai! Parah banget, abang masih di luar.”

Koleksi Cerita Seks Pemaksaan | Di atas dek, Wakidi, Wariyun dan Rustam berjuang sekuat tenaga menahan serangan angin dan ombak yang makin menggila. Tubuh mereka menggigil kedinginan karena ombak berkali-kali menghantam tubuh dan angin berhembus tanpa belas kasihan. Dek perahu menjadi makin basah dan sangat licin. Kapal layar kecil yang mereka naiki terlempar ke atas dan ke bawah mengikuti arus gelombang yang tidak menentu. Wakidi masih terus berusaha menurunkan layar yang makin lama makin terasa susah.

“Bang! Udah bang! Kita masuk aja!” ajak Rustam.

“Gak bisa! Kalau begini terus kita bisa celaka!” seru Wakidi. “layarnya harus diturunin!”

“Aku bantu, bang!” teriak Wariyun sambil mendekati layar yang terikat.

Tapi mendadak layar itu terkoyak dan lepas dari tiang pengikatnya, mengepak-ngepak sesaat sebelum akhirnya terbang jauh ke langit diterbangkan angin. Wariyun yang kaget tidak sempat mengelak dan terhantam oleh tiang layar. Tubuhnya terlempar jauh ke laut dan langsung tenggelam tanpa bisa ditolong lagi. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolongnya, kemungkinan besar tulangnya sudah remuk saat terhantam tiang layar.

Wakidi terdiam tak berdaya memandang ke arah tenggelamnya Wariyun. Tak ada waktu untuk bersedih, pria gagah itu bergegas membantu Rustam memegang kemudi. Kedua orang itu tidak saling berbincang karena sibuk menghadang badai, mereka berusaha tidak mengingat apa yang baru saja terjadi pada rekan mereka. Gelegar guruh terdengar bagai genderang perang yang ditabuh berulang, kilat mencabik-cabik awan tak kenal henti, hujan turun seakan menumpahkan air laut dari atas.

Wakidi dan Rustam yang basah kuyup diterjang ombak berpegangan erat pada kemudi sambil berkali-kali memejamkan mata, berulang kali angin kencang menghantam mencoba menghempaskan tubuh mereka ke laut menyusul Wariyun.

“Apa kita gak bisa pulang ke pantai lagi?” tanya Rustam sambil berteriak. “Atau mungkin mendarat di tempat lain?”

“Gak tahu… aku sudah gak tahu lagi arah yang mesti dituju, lokasi tujuan kita udah terlewati sedari tadi!” sahut Wakidi keras-keras.

Rustam memejamkan mata dengan pedih. Tujuan sudah lewat, badai menerjang tiada henti, layar mereka hilang, Wariyun jatuh ke laut dan bisa dipastikan sudah mati. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Berjam-jam kapal itu diombang-ambingkan gelombang yang buas menerjang, Rustam dan Wakidi saling berpelukan memegang erat kemudi kehabisan tenaga yang terkuras terus menerus. Entah sudah berapa lama badai yang tidak ada habisnya menghantam mereka, benar-benar cuaca yang sangat buruk.

Di tengah badai yang menghantam dan petir yang menyambar tiada henti, tiba-tiba saja terdengar suara yang keras di atas langit, bunyi itu begitu kerasnya hingga mengagetkan kedua orang yang berpegangan pada kemudi. Hampir bersamaan, kedua orang itu mendongak ke atas.

Tiba-tiba saja di langit nampak cahaya terang turun ke bawah. Begitu terangnya, sehingga kedua orang itu seakan menyaksikan kembang api yang turun dari langit. Karena terang yang muncul dari langit, mereka berdua bisa melihat sebuah pulau di kejauhan. Rustam mencoba memicingkan mata dan memastikan apa yang sebenarnya dia lihat di langit yang masih diamuk badai. Susah sekali untuk melihat, tapi Rustam langsung membelalakkan mata melihat apa yang tengah terjadi.

Sebuah pesawat komersial jatuh dari langit.

Untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu bengong tanpa tahu harus berkata apa.

“Daratan.” Desis Wakidi kemudian.

Susah payah Rustam dan Wakidi mempertahankan arah kemudi pada pulau yang berada di depan mereka dengan mengikuti nyala api dan terkadang diterangi petir yang menyambar. Hanya itulah harapan mereka satu-satunya untuk selamat dari badai yang mengerikan ini.

Walaupun di bawah hujan yang deras mendera dari langit, sepertinya keberuntungan menyertai mereka, kapal itu terombang-ambing dan terseret ombak menuju pulau.

###

Ayesh terbangun dengan rasa sakit luar biasa yang menyengat di bagian belakang kepalanya, gerakan tubuh yang tiba-tiba membuatnya pusing dan kehilangan keseimbangan, karenanya gadis muda itu bergerak dengan lebih hati-hati. Sinar matahari yang bersinar menyakiti mata yang perlahan ia buka, saat itulah Ayesh baru teringat dan sadar apa yang telah terjadi.

“Ya Tuhan…” suara Ayesh bergetar. “Ya Tuhan, aku selamat! Aku selamat!”

Gadis cantik itu bangkit dari posisi terlentang dan mulai memperhatikan daerah di sekitarnya, dia pingsan beralaskan plastik yang terhampar di atas pantai di bawah sebuah pohon dengan sebuah kain sebagai atap, sebatas pandangan yang terlihat hanyalah pantai yang berpasir putih dengan ratusan pohon kelapa dan lautan luas tanpa ujung, sementara di belakang terdapat pepohonan rimbun dan hutan lebat, tidak ada tanda-tanda kalau dia berada di tempat yang berpenghuni. Dimanakah dia saat ini? Ayesh memperhatikan pakaiannya sendiri, kotor dan sobek tapi masih cukup pantas pakai dan cukup kering.

“Di mana kita?” desah Ayesh lirih.

“Sayangnya, aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Aku tidak tahu di mana kita saat ini, bisa saja kita jatuh di salah satu kepulauan Indonesia, tapi bisa juga sebuah pulau terpencil yang asing dan tidak tertera di peta.”

Terdengar jawaban dari seorang laki-laki bertubuh tegap yang mengenakan kemeja yang cukup bersih, rambutnya yang pendek terpotong rapi dan wajahnya cukup simpatik. Ayesh terkejut dengan kehadiran seseorang yang secara tiba-tiba berada cukup dekat dengannya, tapi pramugari muda itu mengenali sang pria sebagai salah satu penumpang pesawat yang bernasib naas.

“Ba-bagaimana pesawatnya?”

“Hancur berkeping-keping.” Pria itu mengangkat bahu dengan pasrah, “hanya ada segelintir orang yang selamat dan sampai ke pulau ini, kamu salah satunya. Ada seorang temanmu yang juga selamat, dia ada di sana.”

Orang itu berdiri dan menunjuk ke sebuah arah, saat itulah Ayesh melihat Febby sedang membantu seorang korban selamat yang terluka. Ayesh buru-buru bangkit karena hendak memanggil Febby, tapi tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas dan ia kembali ambruk, untung saja pria di dekatnya itu cekatan dan berhasil menangkap tubuhnya. Saat berdekatan barulah Ayesh menyadari kalau pria ini ternyata cukup tampan, buru-buru Ayesh berterima kasih padanya.

“Hati-hati, kamu sudah pingsan hampir selama satu hari penuh. Sepertinya belum cukup kuat berdiri tegak.” Lelaki itu memperhatikan lingkar kepala Ayesh. “Mungkin pada saat kecelakaan terjadi kamu membentur sesuatu. Apakah terasa pusing?”

“Sedikit…” Ayesh perlahan meraih keseimbangan dan duduk kembali untuk menenangkan diri, “terima kasih.”

“Sama-sama. Berhati-hatilah, kita tidak tahu berapa lama lagi bantuan akan datang, jadi sebaiknya perhatikan kondisi badan kita sendiri.”

“Sudah seharian aku pingsan?” tanya Ayesh lagi.

Pria itu mengangguk. “Sejak tadi malam saat kecelakaan. Sebagian besar dari kita yang terbawa ombak sampai ke pulau ini berada dalam keadaan pingsan. Kita beruntung bisa selamat dari kecelakaan mengerikan itu, entah bagaimana nasib puluhan penumpang yang lain.” Pria itu mengajukan tangan mengajak berkenalan. “Namaku Cundoko.”

“Ayesh.” Ayesh bersalaman dengan Cundoko. “Belum ada bantuan datang? Seharusnya tim SAR sudah datang untuk menolong seandainya ada pesawat komersial yang hilang tanpa jejak. Apalagi kita sudah sehari menghilang, bandara dan maskapai pasti juga berusaha mencari.”

“Mungkin terhalang badai. Cuaca memang sudah membaik, tapi sepertinya badai besar mengelilingi pulau terkutuk ini sehingga tidak ada tim SAR yang bisa masuk untuk mengevakuasi kita. Skenario terparah, mungkin mereka bahkan tidak tahu kemana harus mencari kita.”

Ayesh mendesah, “kalau begitu yang bisa kita lakukan hanya menunggu.”

Cundoko mengangguk.

“AYESH!”

Saat menyadari kawannya sudah siuman, Febby segera berlari menghampiri Ayesh yang duduk di sebelah Cundoko. Mereka berdua berpelukan dengan erat dan menangis bersamaan.

“Ba-bagaimana teman-teman yang lain?” tanya Ayesh kemudian sambil menghapus airmata yang leleh menuruni pipinya. “Pilot? Ko-pilot?”

Febby menggeleng. “Hanya kita kru yang selamat dengan beberapa orang penumpang. Mungkin hanya ada sekitar 12 orang selamat yang ada di pantai ini, entah di tempat lain. Sudah ada sekitar 9 mayat penumpang yang berhasil kami temukan, sedang dibuatkan lubang untuk dikuburkan secara layak karena takut busuk kalau dibiarkan terlalu lama.”

“Mungkin ada baiknya kau ajak temanmu ini berganti pakaian dulu.” Kata Cundoko pada Febby, “ajak juga dia istirahat dan makan seadanya. Hari sudah hampir siang, kita harus mencari tempat berteduh yang lebih baik. Aku khawatir badai akan datang kembali ke pulau ini.”

“A-ada baju ganti?” tanya Ayesh pada Febby, dia masih belum bisa menguasai diri sendiri yang shock setelah mengetahui jumlah orang yang selamat hanya sedikit.

Cerita Seks Pemaksaan Seru | Febby mengangguk, “Ajaibnya ombak yang menyelamatkan kita juga membawa beberapa tas penumpang sampai ke pantai. Sebagian besar tas itu berisi pakaian, tapi ada juga yang berisikan beberapa peralatan yang bisa digunakan seperti pemantik dan lain sebagainya. Memang sebagian besar pakaian yang ditermukan masih basah dan harus dikeringkan, tapi aku rasa ada beberapa helai baju yang cukup kau pakai. Mas Cundoko dan kawan-kawan yang lain juga telah memetik beberapa buah yang tumbuh di sekitar pantai, termasuk kelapa dan pisang untuk sekedar mengisi perut agar tidak kelaparan.”

Cundoko tiba-tiba berdiri sambil menatap ke arah laut, “sepertinya ada beberapa tas yang terapung-apung di sana. Aku ambil dulu.”

Pria bertubuh gagah itu langsung bergerak cepat dan menyusur pantai, dia menceburkan diri ke air dan berenang mengambil beberapa barang yang terapung-apung, beberapa orang muncul dan membantu Cundoko. Saat itulah Ayesh baru menyadari keberadaan orang-orang lain yang selamat. Febby dengan hati-hati menggandeng Ayesh ke arah sebuah tenda darurat yang dibuat dari kain seadanya, hanya lembaran kain yang dibentangkan diantara pohon kelapa yang jaraknya tidak berjauhan.

“Siapa saja yang selamat, Feb?” tanya Ayesh.

Febby menunjuk-nunjuk ke arah satu persatu kawan mereka dan menceritakan satu-persatu kawan senasib yang selamat dari musibah. “Kamu sudah kenal Mas Cundoko, dia itu wartawan yang pengetahuannya sangat luas. Bisa dibilang saat ini dialah yang memimpin kita karena dia mengerti betul bagaimana caranya bertahan hidup di tempat ini, kita semua sangat bergantung padanya.

“Lalu yang sedang membantu Mas Cundoko itu namanya Mas Gatot. Pria yang tadi aku rawat, lukanya dimana-mana tapi masih cukup sigap, jauh lebih kuat dibanding Mas Cundoko dan juga sangat mahir memanjat pohon kelapa. Kepalanya terantuk benda keras saat kecelakaan dan menimbulkan luka memar yang kelihatannya cukup serius, dia sering tiba-tiba saja jatuh pingsan mendadak. Aku khawatir kalau-kalau dia jatuh pingsan saat memanjat pohon, kesehatannya masih belum pulih betul.

“Ada juga Pak Harsono yang di sedang duduk sebelah sana, katanya dia seorang dosen. Gak tahu beneran atau nggak tapi dia sepertinya juga mengerti pengobatan tradisional. Seharian dia mengumpulkan daun-daunan yang katanya bisa digunakan untuk mengobati luka.

“Lalu ada pasangan suami istri Mas Farid dan Mbak Vina, pasangan serasi ya? Sang suami ganteng dan istrinya cantik sekali. Mereka pemilik perusahaan furniture yang cukup mapan, baru saja pulang berlibur dari Eropa dan hendak menjemput dua anak mereka yang dititipkan ke saudara Mas Farid. Keduanya sangat ramah dan baik, mereka berdua yang menarikku sampai ke pantai ketika kecelakaan terjadi. Mbak Vina ternyata sedang hamil empat bulan, tadinya Mas Farid takut kalau istrinya sampai keguguran, tapi untunglah kata Pak Harsono tidak ada masalah dengan kehamilannya, mudah-mudahan saja bantuan segera datang dan Mbak Vina bisa dirawat lebih lanjut lagi.

“Pasangan pengantin baru Ramon dan Shinta, sebenarnya mereka dalam perjalanan hendak berbulan madu setelah resmi menikah sebulan yang lalu. Ramon baru saja diterima di sebuah perusahaan asing sebagai staff keuangan dan Shinta bekerja sebagai model freelance yang lumayan terkenal. Sering lihat wajahnya kan di cover majalah? Karena kesibukan, baru sekarang mereka bisa berbulan madu, sayang semua rencana mereka berantakan karena bencana ini. Sebagai pasangan baru, mereka tentunya lebih senang menyendiri, mereka sering menjauh dari kita dan mengambil tempat di sisi jauh pantai yang terhalang dari pandangan, tentu alasannya tidak perlu aku ceritakan panjang lebar.

“Tiga cewek yang sedang ngobrol di sana itu anak-anak kuliahan yang juga baru saja pulang berlibur, tadinya mereka berlima, sayang dua teman cowok mereka tidak selamat. Fitria, Rasty dan Reva. Mereka masih sangat muda dan sangat shock dengan kejadian ini, apalagi harus kehilangan dua orang teman seperjalanan.”

Ayesh dan Febby sampai di tenda darurat tempat para korban selamat meletakkan tas-tas berisi pakaian yang masih bisa digunakan, seorang wanita cantik sedang tertidur lelap di dalam tenda. Melihat perutnya yang menggelembung kecil Ayesh langsung mengenali sosok ini sebagai Vina yang diceritakan Febby sedang hamil. Di dekat mereka terdapat sebuah tas besar yang berisikan beberapa lembar baju.

“Pilih ukuran yang cocok, lalu bergantilah di balik batu di sana itu. Tidak apa-apa, tidak akan ada yang mengintip. Sayangnya, hanya terdapat beberapa lembar pakaian dalam saja untuk kita semua, mudah-mudahan ada ukuranmu, kalau tidak ada, apa yang kamu pakai sekarang sebaiknya dijemur dulu.” Kata Febby. “Ada sebuah danau kecil yang terdapat di timur laut lokasi kita ini, tidak terlalu jauh walaupun jalan untuk mencapai tempat itu agak susah karena harus menaiki tanah menanjak. Kalau badanmu sudah gatal dan ingin mandi, ambil handuk yang kering dan pergilah membersihkan badan di tempat itu. Airnya sangat jernih dan bening, juga tidak ada binatang berbahaya seperti ular yang berkeliaran. Selain untuk mandi, ada mata air di dekat danau yang bisa digunakan untuk minum.”

Ayesh segera memilih sehelai kaos longgar dan sebuah celana pendek.

###

Wakidi mengelap keringat yang menetes deras membasahi keningnya. Sudah beberapa jam lamanya dia hilir mudik memindahkan barang-barang yang masih bisa digunakan dari kapal layar yang karam menuju ke gua kecil yang terdapat di pegunungan karang yang menjulang di tepi pantai. Gua itu cukup tinggi sehingga terlindung seandainya pulau ini nanti diterjang gelombang pasang. Bersama dengan Rustam, Wakidi menarik beberapa barang yang sekiranya diperlukan untuk bertahan hidup.

Bagong dan Marjuki membantu menata barang-barang yang dibawa Rustam dan Wakidi dari kapal ke dalam gua.

“Gimana kapal kita, bang?” tanya Bagong.

“Kejepit karang di pantai, mungkin ada lubang di bagian dasar. Udah gak mungkin bisa dipakai lagi kecuali kita bisa menambal lubangnya.” kata Wakidi sambil menggelengkan kepala dan duduk di sebuah batu. “Untung semalam kita bisa langsung nemu gua ini, kalau udah pasang nanti air laut bakal naik lumayan tinggi, apalagi badai sialan kemarin bisa datang lagi kapan saja, cuaca buruk belum reda.”

Wakidi memandang ke arah jauh, pantai pasir berwarna putih membentang jauh mengelilingi hutan nyiur di tepiannya, pulau ini cukup besar bahkan ada gunung yang menjulang di kejauhan. Mungkinkah ada penduduk asli yang tinggal di pedalaman ataukah ini sebuah pulau tak berpenghuni? Sepertinya pulau ini belum terjamah dunia modern karena tidak nampak jalan raya ataupun perkampungan. Di pulau manakah sebenarnya mereka terdampar? Wakidi juga bertanya-tanya soal kecelakaan pesawat yang terjadi, berapa banyak korban selamat? Adakah korban yang selamat? Wakidi tidak berani berspekulasi menggabungkan diri dengan kelompok korban pesawat yang jatuh seandainya ada karena status mereka yang buron akan sangat mengundang resiko, tapi dia yakin pasti akan ada Tim SAR yang akan melakukan evakuasi, saat itulah mereka bisa mencari ‘tumpangan’!

“Mana si Asep? Kok belum pulang-pulang?” tanya Rustam menyadari ketidakhadiran salah seorang teman mereka.

“Gak tau juga deh, bang. Udah pergi dari tadi sih.” Kata Juki lagi. “Sebelum pergi tadi dia nemuin mata air kecil di ujung gua, jadi kita gak bakal repot ngurusin air bersih. Abis itu dia pergi katanya mau cari buah-buahan di tengah hutan, tapi sampai sekarang kok belum pulang juga. Apa mungkin dia sedang memeriksa lokasi pesawat yang jatuh itu?”

“Wah, aneh-aneh aja, dasar goblok! Kan udah aku bilang jangan pergi ke sana sebelum yakin situasinya aman betul!” gerutu Wakidi, wajahnya memerah karena emosi. “Bagong, Marjuki! Kalian cari deh si Asep! Jangan sampai ketahuan orang lain kalau kita juga terdampar di sini!”

“Siap, bang!” serempak Bagong dan Juki menjawab dan berangkat mencari kawan mereka yang menghilang.

###

“Capek, Mas?” tanya Shinta pada suaminya yang tergolek lemah hanya mengenakan celana pendek. Ramon tidur berhamparkan pasir pantai yang berwarna putih.

Pasangan pengantin baru itu berada jauh dan terlindung dari kawan-kawan yang lain, Ramon dan Shinta memang lebih suka menyendiri, walaupun situasinya sangat tidak menguntungkan, tapi sebisa mungkin mereka ingin merasakan suasana bulan madu. Mereka tahu kemungkinan regu penyelamat akan datang, sekecil apapun kesempatan itu. Karenanya mereka berusaha mensyukuri keselamatan jiwa mereka.

“Cukup capek.” Jawab Ramon tanpa membuka mata. “Seharian aku mengumpulkan barang-barang yang terapung-apung, memanjat pohon dan mengambil buah-buahan.”

Shinta duduk di samping suaminya dan memandang ke arah batas langit dengan pandangan sendu. Mata Ramon perlahan membuka dan menatap garis wajah sang istri yang dibiaskan sinar matahari, sangat mempesona ditimpa cahaya.

Senyum pria itu kembali melebar, “pernahkah kukatakan kalau kau sangat cantik?”

“Sering sekali.” Mata Shinta mengedip-kedip genit dan terbuka lebar, wajahnya berseri dengan manja. “tapi tetaplah mengatakan itu, aku menyukainya.”

Tangan Shinta nakal menjelajah ke celana pendek yang dikenakan suaminya, masuk ke dalam dengan nekat tanpa mempedulikan seandainya ada orang yang melihat mereka. Kemaluan Ramon masih lemas, tapi sentuhan lembut sang istri membuatnya perlahan menegang, elusannya membuat Ramon terangsang.

“Cewek nakal.” Bisik Ramon mendengus sambil tersenyum lebar. “Bagaimana kalau ada yang melihat?”

“Tidak ada. Mereka semua sudah tidur, aku baru saja dari sana kok, hanya Mas Farid dan Mas Cundoko yang berjaga. Kita sendirian, sayang.”

Ramon melepas celana pendek yang ia kenakan sehingga pria itu telanjang bulat tepat di hadapan Shinta. “Silahkan saja kalau begitu.” Ramon mengedip pada Shinta.

Jari jemari Shinta melingkar di batang kemaluan Ramon, dengan lembut dia menyentuh dan mengelus lembut penis suaminya. Dengan mantap kontol Ramon menegang seiring sentuhan mesra Shinta, penis Ramon bagaikan seekor ular yang tiba-tiba saja hidup dan bergerak sendiri, menegang dan membesar. Tak berhenti begitu saja, tangan Shinta mencari-cari ke selangkangan Ramon dan meraih kantung kemaluannya.

“Aku selalu menyukai sentuhanmu yang nakal,” Ramon tersenyum mesra pada istrinya yang jelita, jari jemari Shinta bermain-main dan berputar di kantung kemaluan suaminya.

“Aku sendiri juga suka.” Bisik Shinta menggoda, lidahnya keluar dan menjilat bibir sendiri dengan binal, matanya kembali tertuntun pada batang kemaluan Ramon yang menegang dengan cepat. “Omong-omong, aku hanya mengenakan kemeja dan celana jeans tanpa pakaian dalam. Tapi itu jika kamu tertarik, Mas.”

Ramon tersenyum. “Cewek nakal.”

Ramon membiarkan Shinta bermain-main dengan kantung kemaluannya, tiap sentuhan istrinya terasa sampai ke tulang sungsum, Ramon mendengus penuh gairah. Shinta memainkan kantung kemaluan Ramon dengan penuh perasaan, ditimang dan dielus lembut, jemarinya yan lentik bergerak menyusuri bentuk bulat kantung itu dan meremasnya pelan.

Lalu jemari Shinta kembali menyusur ke batang penis sang suami. Digenggamnya erat batang kemaluan Ramon bagaikan hendak memeras saripatinya sampai habis, genggaman jari-jari Shinta bergerak naik turun menyentak-nyentak batang kemaluan Ramon sampai pria itu mengerang kalah.

Tapi Ramon tak mau menyerah begitu saja, dengan sigap ia meraih kemeja longgar yang dikenakan oleh istrinya. Perlahan, ia meloloskan satu persatu kancing baju yang terkait di bagian depan kemeja yang dipakai Shinta lalu beralih ke celana yang dikenakannya, tak perlu waktu lama untuk melepaskannya. Mata Ramon buas menatap keindahan tubuh sang istri yang kemudian telanjang di hadapannya.

Buah dada yang menakjubkan, besar, bulat dan kencang dengan pentil susu yang menonjol ke depan seakan menantang. Saat Shinta bangkit gairahnya dan mulai menuntut rangsangan tangan-tangan nakal Ramon, payudara sentosa itu bergerak naik turun dan berguncang dengan indahnya. Puting payudara mungil berwarna merah muda yang dikelilingi oleh lingkaran berkarang lembut yang berada di puncak gundukan daging yang sangat menawan. Saat pandangannya tertuju pada buah dada Shinta, puting itu perlahan mengeras dan membesar, seakan sang istri sudah bersiap akan serangan yang akan segera dilancarkan oleh Ramon.

“Indah.” Bisik Ramon.

Shinta tersenyum menggoda, Ramonpun ambruk ke dalam pelukan sang istri. Jemari Ramon membelai lembut pipi dan rambut si cantik yang memeluknya erat. Pandangan mereka saling terkait dan akhirnya bibir mereka saling terpagut. Lidah saling bertautan, saling menggilas dan saling menjilat.

Ketika akhirnya mereka saling melepas bibir, Ramon segera menyerang telinga dan menjilat daun telinga Shinta. Tubuh wanita cantik yang kini telah resmi menjadi istrinya itu bergetar keenakan dan merinding luar dalam. Ramon meneruskan ciumannya dan menjelajah ke bawah menuju leher istrinya yang panjang. Tangan pria itu juga tak tinggal diam dan menjelajah ke seluruh tubuh Shinta. Jemari Ramon perlahan mengelus dan meremas pantat sang istri yang bulat dan kencang.

Akhirnya tangan Ramon mendarat di bulat buah dada Shinta, mengelusnya dan melingkarinya lembut. Tangan Shinta yang masih berada di batang penis sang suami kembali bergerak naik turun. Tiba-tiba saja mulut Ramon turun ke bawah dan menyerang payudara Shinta, mencium dan menjilat sesuka hatinya. Si cantik itu langsung megap-megap tak berdaya dan merasakan nikmatnya rangsangan yang diberikan suaminya. Bibir Ramon yang menghisap pentil susunya membuat tangan Shinta yang masih berada di batang penis Ramon tersentak-sentak tak tentu.

Bibir dan mulut Ramon bergerak lincah menikmati lezatnya puncak payudara Shinta yang kian menonjol. Tubuh wanita cantik itu melengkung dan menyuguhkan balon payudaranya tepat di mulut sang suami. Shinta terus saja merintih keenakan saat lidah Ramon kian menggila dan menjilat kesana kemari. Tubuh Shinta makin merinding kala tangan Ramon nakal menelurusi buah dada dan turun ke perut lalu makin turun lagi hingga sampai di gundukan manis di selangkangannya.

Satu jari Ramon dengan mudah melesak masuk ke dalam memek Shinta yang sudah basah dan hangat. Wanita molek itu menggeliat tak terkendali dan memutar bibir vaginanya, mencoba menikmati tusukan jari sang suami yang menjelajah masuk ke dalam bagian terlarangnya. Ramon mengocok kemaluan Shinta dengan jari jemarinya, cairan cintapun tak pelak lagi membanjir deras dan melumasi dinding vaginanya. Shinta makin tak berdaya dan terus menggeliat karena serangan ganda yang merangsang liang cinta dan buah dadanya yang ranum. Jari jemari si molek itu kian kencang menuntut batang kemaluan Ramon agar terus membesar dan bisa segera dimasukkan ke dalam memeknya.

“Sekarang!” desis Shinta sambil memejamkan mata terbakar nafsu birahi. “Berikan padaku sekarang, mas! Sekarang!”

Ramon melepaskan pagutannya dari buah dada Shinta, mulutnya sekali lagi mencumbu bibir sang istri dan lidahnya menjelajah masuk ke dalam rongga mulutnya. Kaki Shinta merenggang kian lebar, terbuka hanya untuk sang suami. Tangan Ramon meraih gundukan lembut di dada sang istri dan meremasnya dengan gemas. Shinta meringis kesakitan bercampur nikmat, dia menggeliat sambil membimbing batang kemaluan Ramon ke arah bibir vagina yang kian terbuka. Batang penis Ramon yang besar dan keras membuka bibir memek Shinta dengan mudah, melesak masuk perlahan-lahan melebarkan liang yang tadinya rapat dan basah.

Shinta melenguh keras dan tubuhnya gemetar saat Ramon melesakkan penis ke dalam vaginanya. Penis suaminya itu terasa besar, keras dan menyesaki liang cintanya yang rapat dan mungil. Ramon menyentak kemaluannya yang terasa sangat nyaman berada di dalam liang vagina sang istri. Jari jemari Shinta berpindah dari selangkangan Ramon dan meremas pantat suaminya yang keras dan kencang.

“Terusss, mas!” desah Shinta setengah berbisik, “lebih dalam, lebih dalaaammm!!”

Ramon melepaskan remasannya pada payudara Shinta, dia lalu bersangga pada siku tangannya sambil tersenyum penuh kepuasan pada sang istri yang berada di bawahnya mengembik manja. Ramon masih bisa merasakan puting payudara Shinta mengeras di bawah desakan dadanya sendiri, tubuh indah Shinta menggeliat erotis saat Ramon makin giat melesakkan penisnya dalam-dalam.

Melihat istrinya mulai panas, Ramon menarik pinggulnya ke belakang, batang pelir Ramon tertarik hingga menyisakan ujung gundulnya saja yang terkunci di dalam hisapan memek sang istri. Lalu dengan kecepatan penuh Ramon menghentakkan badan ke depan dan mendorong seluruh batang masuk kembali ke dalam liang cinta Shinta dengan sekuat tenaga.

Shinta melenguh lagi dan menggerakkan kepalanya dengan liar saat penis milik sang suami mulai masuk dan melesak ke dalam kemaluannya. Ketika Ramon menarik kontolnya keluar, Shinta hampir-hampir menjerit karena dinding vaginanya yang didesak melebar oleh kontol Ramon menjepit erat tak mau lepas. Ramon menusuk vagina istrinya lagi dalam-dalam.

Invasi perlahan kemaluan sang suami membuat Shinta mengeluarkan pekikan gembira yang lirih. Liang vaginanya yang rapat meremas-remas kemaluan Ramon dengan geliat yang membuat batang penis itu makin mengeras sempurna. Pinggul Ramon disentakkan ke dalam, lalu diluruhkan keluar, kemudian dilesakkannya lagi batang kemaluan itu ke dalam memek sang istri yang sudah pasrah. Begitu terus berulang-ulang. Tangan mungil Shinta meremas pantat Ramon yang keras, ia menancapkan kukunya dengan liar karena terangsang hebat. Tiap kali batang penis Ramon dipompa keluar masuk, jari jemari Shinta mendesaknya agar bergerak lebih cepat dan menusuk lebih dalam. Kaki wanita cantik yang jenjang itu mengunci pinggang Ramon dengan rapat seakan tak mau lepas dari persetubuhan yang membuatnya terangsang hebat.

Besar, panjang dan keras kontol yang dilesakkan Ramon ke dalam liang rahim Shinta. Si molek itu mengerang dan menggelinjang di bawah desakan bertubi-tubi batang kemaluan yang membuka dan menutup vaginanya dengan penuh rangsangan yang nikmat, tanpa malu-malu wanita cantik itu menjepit pinggang Ramon dan meminta lebih dari sang suami. Penis Ramon menggali lebih dalam lagi ke dalam memek Shinta, mencoba memaku tubuh indah istrinya ke tanah. Shinta terus menggeliat dan menggigil di bawah tubuh Ramon, buah dadanya yang mulus terus mengelus dada Ramon dan puting susunya yang tegang seakan ingin menancap ke atas.

Pantat Shinta bergerak seiring dengan gerakan menusuk yang dilakukan oleh Ramon, tiap kali penis itu menancap ke bawah, pantat wanita cantik itu membumbung ke atas menyambut tiap lesakan agar masuk lebih dalam. Shinta tidak lagi merintih, dia kini mendengkur tiap kali tubuh mereka bertumbukan, tubuh indahnya melejit-lejit dengan binal tiap kali Ramon mendesak ke dalam.

Tiba-tiba saja Ramon ambruk menimpa tubuh Shinta, dadanya menumbuk payudara Shinta dan menggepengkan balon buah dada Shinta. Tangan Ramon bergerak ke bawah, menarik pantatnya agar naik dan meningkatkan gerakan penisnya ke dalam memek Shinta. Si molek itu mendengkur semakin keras, tubuhnya makin liar seakan hendak menelan seluruh kemaluan Ramon berikut kantung pelirnya. Bersama-sama mereka menanjak ke arah kepuasan maksimal.

Akhirnya, Ramon tidak mampu lagi menahan siksaan kenikmatan di ujung gundul kontolnya. Air mani yang kental dari ujung kemaluan Ramon melejit masuk ke dalam liang rahim Shinta, banjir sperma di dalam vagina sang istri menghangatkan sepasang kekasih yang tengah dipadu rindu dan asmara itu. Mereka sudah lupa keberadaan mereka yang kini tengah terdampar di sebuah pulau terasing dan tidak tahu kapan mereka bisa pulang dengan selamat. Saat ini, mereka hanya ingin bersama dan mereka saling mencinta. Shinta memeluk suaminya erat dan tak ingin melepaskannya, Ramon mencium bibir mungil Shinta dan kedua orang ini terlelap karena kelelahan tanpa sehelai benang pun di bawah bintang yang bersinar di langit.

###

Wajah Marjuki dan Bagong memerah. Mereka sama sekali tidak menyangka, di tengah situasi kacau dan ngeri akibat bencana kecelakaan pesawat terbang yang menimpa, ada juga pasangan yang berani bermain cinta di pinggir pantai. Kedua narapidana buron ini sedang mencari Asep, kawan mereka yang menghilang ketika tanpa sengaja mengintip pasangan Ramon dan Shinta tengah asyik bersenggama.

“Wah wah, tubuh tu cewek bener-bener seksi, Juk! Aku gak bakal nolak kalau dikasih!” Kata Bagong tanpa berkedip menatap keindahan tubuh Shinta. “Ck ck ck, mulus banget. Putih, kenceng pula. Kita musti dapetin tu cewek! Udah kelamaan kita puasa, takutnya kontolku udah gak bisa ngaceng lagi, kelamaan nganggur di penjara!”

“Bukan kamu saja yang mau! Kalau liat yang mulus-mulus gitu, aku juga jadi ngiler. Aku juga pengen cicipin cewek itu, tapi kita mesti lihat situasi dulu. Kebanyakan orang-orang yang selamat di sini cewek, tapi tetap saja jumlah mereka lebih banyak.” Kata Marjuki. “Sebaiknya kita tunggu waktu yang tepat. Kita ngobrol dulu sama Abang apa yang sebaiknya dilakukan, sekarang mendingan kita cari si Asep.”

Bagong mengangguk. Kedua pengintip itu meninggalkan tempat persembunyian mereka.

Malam pun menggelayut di pulau itu.

###

Matahari bersinar lebih terang dari biasanya, sinarnya tajam menusuk dan membakar kulit. Bunyi burung-burung berkicau di bawah langit biru terang dan hembusan daun yang ditiup angin membangunkan Ayesh dari tidurnya yang lelap. Seluruh badannya terasa sakit dan kaku karena tidur di tempat yang seadanya, tapi ia tetap bangkit karena ingin segera beraktivitas. Ayesh adalah gadis yang rajin, ia tidak mau bermalas-malasan sampai siang, apalagi mereka bukan sedang berwisata.

“Pagi, Ayesh.” Sapa seorang wanita cantik yang duduk di samping Ayesh.

Pramugari jelita itu sempat terkejut karena masih belum sadar benar dari tidurnya, ia tidak menyangka ada orang yang duduk di sebelahnya. Gadis jelita itupun menjawab dengan sedikit terbata-bata, “pa-pagi…”

Ayesh mencoba membuka matanya lebih lebar, pandangannya masih sedikit kabur karena mengantuk, setelah memicingkan mata barulah ia sadar siapa yang berada di sebelahnya.

“Pagi, Mbak Vina.” Ulang Ayesh menyapa. “Ungh, badanku remuk semua…”

“Iya nih, aku juga pegal-pegal.” Vina merenggangkan tangannya. “Rasanya aku harus komplain dengan penyedia resort ini. Pelayanannya kurang memuaskan, makanannya tidak enak, minumannya terbatas, tidak menyediakan gelas dan piring, banyak nyamuk dan semut, ranjangnya pun keras.” Tambah wanita cantik yang sedang hamil itu sambil mengedipkan mata. “Aku tidak akan kembali lagi kemari. Resort payah.”

Ayesh tertawa. “Betul sekali, kalau bisa kita harus komplain langsung ke general managernya, Mbak Vina.”

Vina tertawa.

“Pagi Mbak Vina, pagi Mbak Ayesh.” Sapa Rasty. Seperti biasa, gadis itu tidak sendirian, dua temannya Fitria dan Reva ikut serta di belakang. “Kami mau mandi nih, ada yang mau ikut? Mbak Febby sama Mbak Shinta katanya mau menyusul.”

“Aku tadi sudah cuci muka, Ayesh mungkin?” angguk Vina pada Ayesh.

“Nanti aja deh, aku mau bantuin Mas Cundoko dulu mengumpulkan barang-barang yang berserakan di sana.” Kata Ayesh sambil menunjuk ke pantai. “Kalian duluan aja, jangan pergi terlalu jauh.”

“Iya, Mbak. Duluan ya…” Fitria, Rasty dan Reva mengangguk hampir bersamaan dan melambaikan tangan meninggalkan Ayesh dan Vina.

###

Sama seperti Ayesh, Febby juga baru berusia 24 tahun, walaupun usianya masih terbilang muda, dia termasuk pramugari yang sudah banyak memiliki pengalaman terbang. Febby berwajah cantik menarik dengan bentuk tubuh yang sangat seksi, rambutnya yang indah panjang sebahu dibiarkan tergerai, kulitnya putih mulus, buah dadanya kencang berukuran 36C dan tubuhnya tinggi semampai 172 cm. Perangainya yang ramah dan mudah bergaul sangat disukai baik oleh teman sekerja maupun pelanggan maskapai penerbangannya.

Febby sedang mengikat kain pada luka di lengan Gatot. Pria yang dirawat Febby ini masih muda, mungkin sekitar 30-an dan pakaiannya rapi seperti seorang eksekutif, walaupun sekarang sudah compang-camping, dia menolak mengenakan baju yang ditemukan di pantai. Wajah Gatot mengernyit kesakitan saat kain yang mengikat dikencangkan. Febby menatapnya iba, pria ini cukup tampan dan dari cincin emas yang dikenakan di jari dia tahu pria ini sudah berkeluarga.

Setelah dua hari berlalu tanpa bantuan datang, para korban yang selamat langsung berbagi tugas, sementara para wanita sebagian menyiapkan makanan seadanya dan merawat yang terluka, para pria menyisihkan mayat teman-teman mereka yang tidak selamat dan menyiapkan tempat berlindung seandainya badai datang kembali. Mereka masih belum berani menjelajah pulau karena berharap bantuan segera datang. Mereka yang selamat hanya bisa bertahan.

Sekali lagi pria yang sedang dirawat Febby melenguh kesakitan. Dengan hati-hati sekali Febby merapikan posisi tidur Gatot yang beralaskan plastik seadanya. Saat kecelakaan, kepala pria ini terantuk benda keras yang menyebabkan kepalanya terluka dan beberapa bagian tubuhnya memar. Walaupun tidak sampai menimbulkan luka retak atau patah tulang, trauma yang menghajar kepala sepertinya menimbulkan gegar otak ringan yang membuatnya sangat pusing. Sejak kecelakaan terjadi, pria ini sudah berulang kali pingsan. Hari ini dia baru saja terbangun setelah beberapa jam tak sadarkan diri.

“Bagaimana keadaannya, Mbak Febby?” tanya seorang pria berusia sekitar 60 tahun yang mendekati mereka berdua. Pria bernama Harsono itu mendekati Febby sambil membawa kain dan daun yang sudah ditumbuk, mirip jamu. “Oleskan ini di lukanya agar cepat mengering.”

Gatot mengernyit kesakitan ketika Febby mengoleskan daun-daun itu dilukanya.

“Dia sudah sadar, tapi belum sepenuhnya bisa bekerja keras lagi, Pak Har.” Jawab Febby sambil mengusap dahi Gatot yang berkeringat.

Harsono mengangguk, “Untunglah Mbak Febby merawatnya dengan sangat baik. Saya lihat seandainya tidak ada luka dalam, Mas Gatot pasti bisa selamat. Luka di bagian keningnya juga tidak terlalu parah, tidak perlu dijahit. Tapi saya cukup khawatir seandainya dia mengalami gegar otak ringan.”

Febby mengangguk lembut sambil menatap Gatot tanpa kata-kata.

###

Fitria, Rasty, dan Reva tiba di telaga kecil yang letaknya cukup berjauhan dari tempat yang lain berkumpul tepat ketika waktu di jam tangan mereka menunjukkan pukul tujuh pagi. Mereka harus menyusur jalan setapak yang menanjak untuk mencapai tempat itu. Ketiganya merasa tidak nyaman karena sudah seharian tidak mandi sehingga mereka memutuskan untuk mandi di tempat yang ditunjukkan oleh pramugari Febby ini.

“Ty, kamu yakin disini gak ada siapa-siapa lagi ?” tanya Fitria sambil melihat sekeliling.

“Iya, rasanya sih gak ada, liat aja dari tadi kita jalan kesini ketemunya cuma sama monyet atau burung. Kalau ada yang ngintip, paling banter ya binatang-binatang hutan itu deh” jawab Rasty, “pokoknya aku mau mandi supaya seger, duh udah gatel banget nih badan.”

Rasty yang paling awal melepaskan pakaiannya satu demi satu, terakhir dipelorotinya celana dalamnya. Tubuh telanjang gadis berambut pendek sebahu itu kini merasakan terpaan udara pagi pulau itu. Setelah merapikan pakaiannya dan meletakkan di atas batu, ia menurunkan kaki kirinya ke air, dilanjutkan kaki kanannya. Gemericik air menerpa kakinya dan menyejukkan seluruh tubuh.

“Ayo dong, kok kalian malah bengong di situ? Airnya emang dingin, tapi seger banget.” Rasty memanggil dua temannya.

“Kamu yakin gak ada piranhanya ?” goda Reva sambil tertawa.

“Piranha itu adanya di Amerika Latin, dodol !” balas Rasty sambil memercikan air ke arah Reva dan Fitria.

Mereka tertawa-tawa lalu mulai melepaskan pakaian masing-masing dan ikut turun ke air. Segarnya air dan suasana eksotis alam di pulau itu membuat mereka rileks sejenak dan mulai hilang dari rasa shock akibat kecelakaan yang mereka alami. Ketiganya berendam dan membasuh tubuh dengan air telaga yang segar. Telaga itu tidak dalam, bila berdiri hanya merendam sebatas dada mereka saja.

Tanpa mereka sadar sepasang mata memperhatikan mereka.

Pengintip itu menelan ludah menyaksikan tubuh mulus ketiga mahasiswi bermain di air. Para gadis itu membilas tubuhnya dan sesekali menyelam, mereka juga ngobrol-ngobrol dan tertawa. Sang pengintip membayangkan dirinya seperti Jaka Tarub yang sedang mengintip para bidadari mandi.

Seperempat jam kemudian Reva naik ke tepi dan duduk di atas sebuah batu besar sambil mengelap tubuhnya yang basah. Si pengintip makin bernafsu melihat tubuh Reva yang polos itu, payudaranya sepertinya paling besar diantara mereka, kira-kira 34C, belum lagi perutnya yang rata dan pahanya yang jenjang sangat menggiurkan. Pengintip itu diam-diam meraih belalai di selangkangannya lalu mulai mengocok penisnya.

Setelah tubuhnya kering, Reva mengambil pakaiannya lalu mulai memakainya kembali.

“Udahan yuk, rasanya udah cukup, pengen balik ke pantai cari makanan, perutku udah keroncongan lagi” katanya pada kedua temannya yang masih di air.

“Iya deh, aku juga udahan ah” sahut Rasty sambil menepi, semakin menepi semakin terlihatlah ketelanjangan tubuhnya.

Hal itu membuat si pengintip semakin melotot dan terangsang, seandainya ini cerita komik Jepang mungkin dari hidungnya sudah muncrat darah. Tangannya kini masuk ke balik celananya dan makin cepat mengocok penisnya. Tubuh Rasty tidak kalah menantang dari Reva, dengan wajahnya yang Indo (karena dia memang blasteran Australia-Indonesia), walaupun payudaranya sedikit lebih kecil dari Reva namun bentuknya pas, membusung dan kencang dengan puting berwarna pink. Rambut panjang coklatnya yang basah menambah pesonanya bak bidadari khayangan yang turun untuk mandi di bumi.

“Yah, kalian gimana sih? Tunggu dong, aku kan belum selesai. Suasana di sini enak banget, lagian aku males jalan turun lagi, masih capek. Aku pengen tidur dulu di sini.” kata Fitria yang sedang duduk berendam di daerah dangkal dengan menyandarkan punggungnya ke sebuah batu besar, matanya terpejam seolah dia terhanyut dalam suasana alam yang menyegarkan itu.

“Eee… dasar pemalas, tidur melulu kerjanya nih anak !” sahut Reva sambil mencipratkan air ke arah Fitria.

“Yah, kalian kan tahu semalam tidur di atas pasir gitu, gak enak banget rasanya, badanku pegel-pegel semua. Kalau di sini kan nyaman, bisa rileks.” balasnya dengan mata tetap terpejam.

“Ya udah, kan abis ini Mbak Febby sama Mbak Shinta katanya juga mau mandi, kamu di sini aja dulu.” kata Rasty yang baru selesai berpakaian dan menyisir rambutnya.

“Va, kalau bisa, tolong suruh mereka bawain makan kesini juga yah!” pesan Fitria sebelum kedua temannya meninggalkannya.

“Iya-iya, Tuan Putri!” jawab mereka sambil berlalu.

Kini tinggallah Fitria sendiri di telaga itu, oh…tidak, bukan sendiri mungkin, lebih tepat berdua, yaitu dengan si pengintip. Tanpa menyadari ada orang lain di situ, Fitria enak saja memercikkan air ke tubuhnya sambil menggosoknya dengan santai menciptakan tontonan yang super hot bagi sang pengintip misterius. Buaian angin yang sepoi-sepoi begitu nyaman hingga membuatnya mengantuk, dibenamkannya tubuhnya hingga sebatas bahu agar tidak terlalu kedinginan dan masuk angin. Perlahan-lahan ia mulai terlelap bagaikan domba lugu yang tidak menyadari dirinya sedang tertidur di bawah incaran serigala pemangsa.

###

Ayesh mengelap keringat yang menetes deras membasahi keningnya. Hampir dua jam lebih dia mengumpulkan barang-barang bekas pesawat yang terseret ke pantai, barang-barang yang sekiranya masih bisa digunakan dimasukkan ke dalam sebuah kotak kardus. Pramugari berusia 24 tahun itu berusaha keras mencari makanan atau bahan makanan yang bisa digunakan untuk bertahan di pulau ini.

Jangan lewatkan cerita seks pemaksaan yang tak kalah seru lainnya: Petualangan di Tanah Papua

Ayesh berwajah sangat cantik dan berkulit putih mulus, rambutnya yang panjang sebahu disanggul ke atas supaya memudahkannya bekerja. Penampilannya yang kalem dan feminin membuatnya terlihat lebih dewasa dari seharusnya. Tubuh langsing Ayesh hampir sama tinggi dengan Febby, 170cm dengan buah dada membusung yang sempurna.

Dulu sebelum putus dengan pacarnya, Ayesh sering merelakan payudaranya dijadikan lahapan oleh sang kekasih, tapi ketika pacarnya itu meminta lebih dan menghendaki keperawanannya, Ayesh dengan tegas menolak. Dia hanya ingin memberikan keperawanan pada pria yang menjadi suaminya di malam pernikahan nanti, kini mereka telah putus dan Ayesh mensyukuri keputusannya menjaga keperawanan. Ayesh juga bersyukur dia diberi umur panjang karena telah selamat dari malapetaka kecelakaan yang menimpanya.

Air mata wanita cantik ini perlahan mulai mengering setelah sepanjang hari menetes membasahi pipi, sebagai seorang pramugari yang menjadi panutan penumpang pesawat, mereka diharapkan untuk tidak menangis karena akan terlihat lemah dan membuat khawatir para penumpang. Tapi menyaksikan rekan-rekannya gugur dan mayat bergelimpangan tanpa bisa diselamatkan membuatnya menangis, hatinya sangat pedih, hanya ada sekitar belasan orang yang selamat dari total 115 orang yang menaiki pesawat. Bencana yang tak terelakkan terjadi karena cuaca yang sangat buruk. Ayesh berharap bantuan tim SAR segera datang.

Ayesh terduduk dan menatap horizon dengan perasaan kacau, dia masih berharap ada helikopter, pesawat atau kapal yang akan melihat mereka dan menolong.

“Kok melamun terus?”

Terdengar suara lembut namun tegas menyapa. Ayesh berbalik dan menemui Cundoko yang berdiri di belakang.

“Eh, Mas Cundoko.” Ayesh berdiri dan membersihkan pasir yang menempel di celana. “A-aku cuma istirahat kok, baru saja selesai mengumpulkan barang-barang yang terseret sampai ke pantai.”

Cundoko tersenyum dan mengayunkan tangannya ke arah gang kecil yang terbentuk oleh celah rimbun pepohonan yang masuk ke tengah pulau, “mau ikut?”

“Kemana?” Ayesh mengernyitkan dahi terheran.

“Mencari tempat berteduh yang lebih baik. Kita tidak bisa tetap tinggal di pantai, badai bisa datang sewaktu-waktu dan kita butuh tempat tinggal yang lebih tinggi seandainya air pasang naik.” Kata Cundoko. “Aku berharap bisa menemukan gua atau tempat yang cocok untuk membangun gubuk-gubuk kecil sederhana. Bagaimana? Mau ikut? Daripada melamun di sini?”

Memang bukan ajakan untuk jalan-jalan ke mall, tapi ide itu lebih baik dari sekedar bengong menunggu bantuan. Mereka harus berusaha untuk bertahan hidup dan tidak sekedar pasrah.

Ayesh mengangguk dan mengikuti Cundoko.

###

Mata Fitria masih terlelap, suasana tenang di telaga menghanyutkannya, ia merasa berada di sebuah resort ketika tiba-tiba saja…

HEPP!!

Satu tangan besar membekap mulutnya dengan sangat kencang!

Secara refleks gadis cantik itu terlonjak dan meronta, namun dia segera terdiam ketakutan begitu merasakan sebuah benda dingin ditempelkan pada lehernya.

“Sshhtt… kalem aja manis, kalau terus bergerak ini pisau bisa melukai leher kamu, ok?!” kata orang yang menyergapnya dari belakang, “sekarang berdiri pelan-pelan dan jangan coba macam-macam, sayang sekali rasanya kalau telaga bening ini dicemari darah kamu.”

Dengan gemetar ketakutan Fitria berdiri, ketakutan melanda dirinya. Dia tidak tahu siapa orang itu, yang jelas pasti orang itu berniat tidak baik terhadapnya. Setelah dia berdiri tiba-tiba sebuah pukulan menghantam tengkuknya, membuatnya tak sadarkan diri.

###

Fitria mulai siuman dari pingsannya.

Pandangan gadis itu masih sedikit kabur, tapi perlahan ia bisa melihat kembali dengan jelas suasana hutan yang sepi. Hanya saja entah kenapa ia merasa tubuhnya sangat berat, seperti ditindih benda yang sangat besar. Eh… tidak itu saja! Payudara kanannya juga sedang dilumati seseorang! Fitria membelalakkan mata dan mendapati dirinya sedang berada dalam pelukan seorang lelaki tak dikenal berwajah menyeramkan!

“Aahhh…bajingan! Lepasin ! Tolong…!!” Fitria mendorong kepala orang itu, meronta dan berteriak.

Dengan sigap orang itu segera memegangi lengan gadis itu dan membekap mulutnya.

“Heh!! Dasar lonthe!! Kalau gak mau diam, aku gorok leher kamu! Aku cuma pengen ngentotin memek seger, tahu! Tapi kalau itu gak dapet, meki cewek yang udah mati juga terpaksa doyan, jadi jangan coba macam-macam!” bentak si wajah seram.

Fitria kini dapat melihat dengan jelas orang itu, seorang pria gemuk berambut cepak dengan codet pada pipi kanannya serta kumis yang jarang. Wajah itu dekat sekali dengan wajahnya sehingga ia dapat melihat tatapan matanya yang penuh nafsu. Orang itu tidak lain adalah Bagong, salah satu residivis yang juga terdampar di pulau itu.

Ketika hendak mencari makanan dan air bersih secara tidak sengaja ia menjumpai Fitria dan kedua temannya sedang mandi di telaga yang bening. Terangsang dengan ‘pemandangan indah’ itu dia menunggu kesempatan agar dapat menikmati tubuh mereka. Rupanya keputusan Fitria untuk meneruskan berendam disana berakibat fatal, kesempatan itulah yang dipakai Bagong untuk menyergap dan menculiknya. Setelah melumpuhkannya Bagong membopong tubuh bugil Fitria di bahunya dan dibawanya ke tempat yang dirasanya aman untuk dinikmati. Mereka berada di sebuah gua yang pinggirnya terdapat aliran air sungai.

“Huehehehe…ayu banget, saya udah lama gak main perempuan, hari ini hoki banget dapet yang cantik kaya Non.” ujar Bagong sambil mengelus-elus wajah Fitria dan mengagumi kecantikannya.

Fitria merasa jijik dan takut dengan tingkah Bagong, meskipun Bagong telah melepaskan tangannya namun ia tidak berani melawan lagi di bawah ancamannya, ia tahu orang seperti Bagong bukan tidak mungkin mencelakainya, apalagi di tempat liar yang berlaku hukum rimba seperti ini, dia hanya bisa menangis dan memohon agar pria itu menghentikan aksinya yang justru malah membuat Bagong makin gemas. Ia pasrah membiarkan tangan kasar pria itu mulai bergerilya di pelosok tubuhnya. Bagong juga sudah bugil dan Fitria merasakan penisnya yang telah mengeras itu menyentuh pahanya.

“Aahh…jangan” desah Fitria ketika tangan Bagong menyentuh kemaluannya yang berbulu lebat.

Jari-jari gemuknya mulai memasuki vagina itu dan mengorek-ngoreknya sehingga Fitria makin mendesah, tangan gadis itu menahan pergelangan tangannya seolah minta berhenti tapi pegangannya tanpa tenaga sehingga tidak berpengaruh bagi Bagong. Bagong menyeringai melihat wajah Fitria yang sedang terangsang oleh suatu gairah yang tak bisa ditahannya. Dilumatnya mulut gadis itu yang sedang membuka mengap-mengap, lidahnya langsung menyapu rongga mulut Fitria. Beberapa menit lamanya Bagong mencumbu Fitria, walau merasa tidak nyaman dengan bau mulut pria itu, namun entah mengapa ia juga mulai menikmatinya, lidahnya ikut bermain dengan lidah kasap Bagong, naluri seksnya mulai bekerja dan akal sehatnya mulai kabur tanpa bisa ditahan. Ia sangat menyesal, kalau saja tadi segera pulang bersama teman-temannya tentu hal ini tidak akan terjadi padanya. Kini pria itu akan memperkosanya habis-habisan.

Sebenarnya Fitria bisa saja meraih sebuah batu kali yang bertebaran di lantai gua itu dan menghantamkannya ke kepala Bagong, tapi dia terlalu takut untuk itu, tenaganya pun sudah lumayan terkuras ketika meronta barusan, ditambah lagi kini birahi sudah mulai menguasainya sehingga secara tak sadar dia mulai menikmati perkosaan ini. Rasa takut dan rangsangan membuatnya pasrah membiarkan pria itu menjarahi tubuhnya. Ciuman Bagong mulai turun melumat lehernya, di saat yang sama Fitria merasakan benda tumpul menekan vaginanya.

“Akkh…sakit, hentikan Pak, aahh!” erang Fitria lirih ketika penis Bagong memasuki vaginanya.

Fitria baru saja kehilangan keperawanannya tiga hari yang lalu di hotel ketika menikmati liburan bersama pacarnya yang bernasib naas. Vaginanya terlalu sempit untuk penis Bagong yang besar dan berurat itu, apalagi Bagong cukup kasar dalam melakukan penetrasi. Airmata meleleh dari mata Fitria menahan rasa sakit itu. Ketika diperawani Hendy, tiga hari lalu saja dia merasa kesakitan, apalagi sekarang oleh Bagong yang penisnya lebih besar dari Hendy dan lebih kasar dalam penetrasi.

“Wuih…seret banget, baru sekali ini ngerasain yang kaya gini!” kata Bagong di dekat telinganya.

Fitria hanya dapat menangisi dirinya yang telah ternoda tanpa bisa berbuat apapun. Tak lama kemudian Bagong mulai memacu pinggulnya. Penis itu bergerak keluar-masuk vaginanya, setelah beberapa kali Fitria sudah mulai terbiasa. Rasa sakit itu berangsur-angsur berubah menjadi rasa nikmat

“Oohhh…oohh…aahh!” desahan Fitria mulai berubah menjadi desahan nikmat.

Selain menggenjoti vaginanya, Bagong juga menggerayangi payudara Fitria, mulutnya berpindah-pindah, sebentar menciumi bibirnya, sebentar mencupangi lehernya atau dan mengulum telinganya. Tubuh Fitria menggelinjang tak karuan, tangannya memeluk tubuh Bagong tanpa sadar. Desahan gadis itu memenuhi gua kecil itu. Bebatuan,air yang mengalir, lumut di batu, dan binatang-binatang kecil disitu menjadi saksi pernah atas pemerkosaan yang dilakukan seorang residivis terhadap mahasiswi korban kecelakaan pesawat itu. Fitria mencapai orgasme pertamanya setelah seperempat jam disetubuhi dengan brutal oleh Bagong.

“Waahh…enak banget Non, udah lama ga ngerasain seperti ini !” kata Bagong merasakan cairan hangat meliputi penisnya yang sedang keluar masuk, kontraksi dinding vagina gadis itu ketika orgasme semakin meremas benda itu sehingga menambah kenikmatannya.

Bagong memang sangat perkasa, dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan orgasme dan masih saja bersemangat menggenjoti Fitria. Tanpa melepaskan penisnya ia merubah posisi, dimiringkannya tubuh gadis itu hingga berbaring menyamping dan satu kakinya dinaikkank ke bahunya yang lebar. Setelah itu mulailah ia melanjutkan genjotannya, dengan posisi demikian penisnya meniusuk lebih dalam dan dapat merasakan kemulusan pahanya ketika bergesekkan dengan pahanya. Payudara Fitria yang berukuran 34A bergoncang-goncang mengikuti irama genjotan Bagong, gunung kembar itu memang tidak besar, namun bentuknya padat dan berisi, mirip punya bintang JAV era 90’an, Chisato Kawamura. Tak lama kemudian Bagong semakin mempercepat genjotannya dan payudara gadis itu diremasnya makin keras sampai membuat pemiliknya meringis kesakitan. Dilihat dari reaksinya pria itu akan segera orgasme.

Ditengah sodokan-sodokan yang makin keras itu tiba-tiba Bagong mencabut penisnya.

“Uuhhh…ayo sini, buka mulutnya, cepat!” perintahnya sambil menjenggut rambut gadis itu yang digulung hingga posisinya berlutut.

“Jangan!” Fitria memalingkan wajah ketika Bagong menyodorkan senjatanya di depan wajahnya. Dia merasa jijik dengan penis hitam bersunat yang kepalanya kemerahan itu, ajakan pacarnya untuk melakukan oral seks saja ditolaknya.

Bagong menjenggut rambut gadis itu lebih keras sehingga ia merintih dan mulutnya terbuka. Saat itulah Bagong dengan sigap menjejali penis itu ke mulut mungil gadis itu. “Ayo emut, isep! Tapi awas, jangan macem-macem! Berani gigit, aku gorok lehermu!” bentaknya.

Dengan sangat terpaksa Fitria membiarkan penis itu memasuki mulutnya hingga menyentuh kerongkongannya, itupun belum seluruhnya masuk karena benda itu begitu panjang dan besar. Air mata gadis itu meleleh membasahi pipinya sementara Bagong mulai memompa mulutnya dengan penis itu.

“Lidahnya main Non, jangan diem aja, cepetan!” suruh pria menyeramkan itu.

Susah payah Fitria mulai menggerakkan lidahnya mengitari penis itu, mulutnya terasa sesak sekali. Tangannya memegang penis itu dan mulai mengulumnya seperti yang pernah dilihatnya di film-film porno. Setidaknya dengan begini rasanya lebih lega daripada tersiksa dengan sodokan-sodokan penis pria itu pada mulutnya. Bagong mengerang keenakan merasakan hal itu, dia meremas-remas rambut gadis itu dan menarik lepas jepit rambutnya sehingga rambut kemerahannya yang panjang hingga ke bawah dada itu terurai.

“Uuu…mmm…asoy, sepongan bidadari ini namanya, mmm, terussshh !” desahnya.

Entah mengapa Fitria sepertinya sudah terbiasa dengan tugas oral seks pertamanya, ia makin terbiasa dengan bau penis Bagong yang tak sedap, memang karena faktor ancaman namun sebenarnya dirinya pun mulai menikmatinya.

Dalam waktu kurang dari lima menit dia merasakan penis di dalam mulutnya makin berdenyut-denyut dan pemiliknya makin mengerang nikmat. Bagong lalu membenamkan penisnya sambil menahan kepala gadis itu. Mata Fitria membelakak merasakan cairan hangat dan kental memenuhi mulut dan kerongkongannya. Cairan itu berbau tajam dan rasanya aneh, ingin rasanya memuntahkan cairan menjijikkan itu tapi kepalanya dipegangi dengan kuat sehingga mau tidak mau cairan itu harus ditelannya.

“Iyah…bagus gitu…uuuhhh…uuhh!” desah Bagong.

Sperma yang disemburkan Bagong banyak sekali sehingga Fitria tidak sanggup menelan semuanya, sebagian meleleh keluar dari pinggir mulutnya. Setelah tidak mengucur lagi, Bagong memerintahkannya untuk menjilati hingga bersih yang dilakukannya dengan terpaksa.

“Ahhh… puas banget! Gila! Gak nyangka di tempat kaya gini bisa nemuin cewek secakep Non! Ha ha ha…” kata Bagong sambil mencabut penisnya.

Fitria langsung terbatuk-batuk dan mengambil udara segar begitu dilepaskan. Dia menggeser tubuhnya ke aliran air dan menciduknya untuk berkumur-kumur. Aroma cairan menjijikkan itu masih terasa di mulutnya dan membuatnya mual.

“Hehehe…kenapa Non? Belum pernah nenggak pejuh yah? Lama-lama juga biasa kok, ketagihan malah.” kata Bagong melihat reaksi gadis itu.

Setelah berpakaian Bagong mengikat kedua pergelangan tangan Fitria dengan sulur pohon dan menariknya seperti tahanan.

“Aduh, mau dibawa kemana saya, Pak?” tanya gadis cantik itu dengan wajah cemas.
“Udah ikut aja, jangan banyak bacot!” bentak Bagong, “berani macem-macem, mampus!”

Cerita Seks Pemaksaan 2017 | Bagong menggiring Fitria keluar dari gua itu seperti menggiring ternak. Gadis itu ketakutan sekali, dia tidak tahu mau dibawa kemana dirinya. Dia sama sekali tidak mengenal daerah itu, sepertinya letaknya semakin menjauh dari tempat teman-temannya. Kalaupun kabur, dia juga tidak tahu harus kemana, apalagi di tubuhnya tidak ada selembar benangpun menempel, bisa-bisa malah mati kelaparan atau menjadi mangsa binatang buas.

“Aduh kita kemana sih? jangan cepet-cepet dong, Pak, saya kan gak pake alas kaki!” keluh Fitria memohon belas kasihan.

“Jangan bawel! Sekali lagi mengomel, aku lempar kau ke sungai!” jawab Bagong galak.

Bagong terus menggiringnya tanpa diketahui kemana tujuan mereka. Ketika melewati pesisir pantai, nafsu Bagong bangkit lagi. Disetubuhinya Fitria sekali lagi di sebatang pohon kelapa. Fitria bertumpu pada batang pohon dengan kedua tangannya yang terikat dengan berdiri agak nungging.

“Sialan, bikin gak tahan aja…uuhhh…uuhh!” ceracaunya sambil menggenjot.

Bagong menyodok-nyodok vagina gadis itu dengan ganas, tangannya bergerilya menggerayangi tubuhnya terutama kedua payudara yang ranum itu. Jeritan Fitria bercampur baur dengan desiran angin pantai dan bunyi ombak. Sekitar lima belas menit penisnya meledak di dalam vagina Fitria yang juga mencapai klimaksnya.

“Ayo jalan lagi.” perintahnya setelah beristirahat sebentar. “Kita udah mau sampe kok.”

Fitria mencoba berdiri dengan tenaganya yang baru pulih. Tak lama kemudian mereka memasuki daerah pantai yang penuh batu karang.

“Nah disana, Non! Itu arah yang kita tuju.” kata Bagong sambil menunjuk, “Ayo saya kenalin sama yang lain, Non pasti suka sama mereka.”

Tubuh Fitria langsung lemas dan wajahnya pucat mendengar kalimat terakhir Bagong. Penderitaannya kini belum juga berakhir, bahkan sudah datang yang lebih berat. Fitria berharap semua ini hanya mimpi buruk dan ia ingin segera terbangun dari tidur.

###

Ayesh dan Cundoko sudah melangkah jauh memasuki hutan yang makin lama ternyata makin lebat. Beberapa kali mereka menemui mata air dan telaga biru kecil yang jernih, tapi mereka belum menemukan gua atau tempat berlindung yang baik. Karena kelelahan, kedua orang itu memutuskan untuk beristirahat di sebuah tempat terbuka yang bergelimang sinar matahari. Seandainya bukan sedang tertimpa musibah, tempat ini sebenarnya indah sekali.

Cundoko mengeluarkan botol berisi air untuk mereka minum berdua. Entah dari mana Cundoko memperoleh botol plastik yang masih utuh seperti itu, berkali-kali pria ini membuat Ayesh kagum. Masih muda, gagah, tampan dan sepertinya sangat dewasa dalam bertindak.

Saat Ayesh menghilangkan dahaga, tiba-tiba Cundoko mengendus-endus dengan aneh.

“Ada apa, mas?” tanya Ayesh heran.

“Bau amis,” Cundoko berdiri dan mengendus lagi dan menunjuk, “dari arah sana.”

Cundoko menyibakkan dedaunan yang lebat dan menjumpai sebatang kayu besar yang sangat aneh berada di tengah tanah lapang melingkar. Tanah lapang itu tidak begitu luas, bergaris tengah sekitar tujuh meter, dengan kayu raksasa berukir di tengahnya.

“Astaga!” Ayesh menutup mulutnya dengan takjub. “A-apa itu, Mas?”

Cundoko terdiam dan mengamati lebih dekat. Kayu besar itu rupanya sebuah patung yang berdiri tegak dan memiliki empat wajah yang saling tumpang. Sekilas patung kayu itu mengingatkan pada totem Indian yang ada di Amerika, hanya saja patung ini memiliki satu perbedaan yang cukup mencolok, di bawah masing-masing keempat wajah itu terdapat tonjolan berbentuk kemaluan lelaki yang menjorok ke depan dengan perkasa, makin ke bawah ukurannya makin besar.

Yang lebih mengagetkan lagi adalah adanya persembahan di bawah patung itu, sebuah bingkisan tertutup daun pisang dihiasi karangan buah dan bunga yang dikelilingi oleh semut dan lalat. Ada bau amis yang aneh dari persembahan itu.

Ayesh dan Cundoko saling berpandangan.

Dengan hati-hati Cundoko membungkuk mendekati bingkisan persembahan yang tertutup daun pisang.

“Apa sih itu, Mas? Baunya menyengat, siapa yang meletakkannya di sini?” tanya Ayesh menyerocos, walaupun tak mau mengakui, tapi rasa takut mulai menggelayut di benak Ayesh. Dia memegang erat kaos Cundoko.

Cundoko menyibakkan daun, dan…

“WAAAAAAAAAA!!!”

Ayesh berteriak kencang setelah melihat isi persembahan. Cundoko juga turut terpental karena kaget, jantungnya berdegup kencang. Tanpa aba-aba, kedua orang itu langsung lari.

Isi persembahan itu adalah potongan kepala manusia yang masih belepotan darah.

Ayesh menjerit-jerit ketakutan dan berlari kembali ke arah pantai sambil berlari tunggang langgang, beberapa kali dia tersedak dan akhirnya muntah karena mual. Cundoko yang ikut berlari di belakang Ayesh berkali-kali menengok ke belakang dengan tersengal-sengal. Setelah gadis itu muntah, tangan Cundoko menggandeng Ayesh yang panik dan segera berlari sekuat tenaga.

Cerita Seks Pemaksaan | Ayesh dan Cundoko tidak mengenal sosok pria yang kepalanya terpenggal dan dijadikan persembahan, tapi sebenarnya dia adalah Asep, salah satu dari kawanan buron yang menghilang dan dicari oleh kawan-kawannya. Nasib buruk apakah yang sebenarnya menimpa Asep?

Setelah berlari jauh sampai ke pantai, Ayesh dan Cundoko langsung disambut Pak Harsono, Vina dan Gatot dengan terheran-heran, apa sebenarnya yang membuat kedua orang ini ketakutan dan pucat pasi? Pak Harsono maju dan menepuk bahu Cundoko dengan lembut.

“Apa yang terjadi? Kalian tidak apa-apa, kan? Tarik nafas panjang lalu keluarkan pelan-pelan.” Kata Pak Harsono. “Kalian kenapa? Apa yang kalian lihat?”

“Ki-kita tidak sendirian di pulau ini.” Kata Cundoko sambil mengatur nafas yang kembang kempis. “Ka-kami menemukan…”

Belum sempat Cundoko menjelaskan lebih lanjut, Febby dan Shinta sudah datang sambil berlari-lari kecil ke arah mereka, kedua wanita itu baru saja kembali dari telaga hendak mandi. Wajah mereka nampak tegang dan basah oleh keringat.

“Fitria… kalian lihat Fitria? Dia menghilang! Kata Reva dan Rasty dia tadi berendam di telaga, tapi sewaktu kami ke sana, hanya pakaiannya saja yang tersisa!” kata Febby dengan wajah bingung sambil menunjukkan sehelai pakaian yang biasa dipakai Fitria.

Kelompok kecil itu bertambah panik, sesuatu yang tidak beres terjadi di pulau ini, tempat ini ternyata bukan tempat yang aman.

###

Bagaimana kisah cerita seks pemaksaan mereka selanjutnya?

BAGIAN SATU
TAMAT

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*