Cerita Sex Hot: Petualangan Birahi Diatas Gunung

Salah Satu Cerita Sex Paling Hot yang Wajib Kamu Baca

Cerita Sex Paling Hot
Cerita Sex Paling Hot

Cerita sex dengan bumbu petualangan tentu merupakan salah satu ide yang bagus. Sama halnya dengan cerita sex karya seorang penulis jenius yang akan kamu baca dibawah ini.

Cerita Sex Paling Hot – Petualangan Birahi Diatas Gunung

Kriiiiinngg……
Suara jam weker berbunyi nyaring pagi ini. Aku terbangun dari tidurku yang memang kurasakan tidak nyenyak. Kuraih jam weker itu untuk mematikannya.
Udara pagi terasa sangat dingin. Kaca jendela kulihat buram karena embun pagi yang menetes. Kuingat jelas hujan tadi malam, dengan suara petir silih berganti. Meninggalkan genangan air di jalan depan rumahku yang berlubang.
Embun di rerumputan setia bergelayut. Seakan tak ingin berpisah dengan tempatnya berpijak. Aroma angin yang lembab begitu kurasakan ketika aku menarik napas panjang untuk menggugah kesadaranku.
Mataku yang masih memerah kuusap dengan ujung jemariku. Berat sekali kurasakan kelopak mata ini ketika berusaha membuka mata. Bagaikan terbius oleh dinginnya udara pagi, aku kembali menarik selimutku dan meringkuk dibawahnya.

Namaku Tomi, 22 tahun. Aku baru saja lulus dari sebuah universitas swasta di jakarta. Setelah lulus aku belum juga mendapatkan pekerjaan. Jadi aku hanya bisa duduk termenung dan membantu pekerjaan rumah.

Mama mengetuk pintu kamarku.
“Tom… udah bangun belum? Katanya ada janji sama teman-teman mau naik gunung?” ucap mama dari balik pintu kayu itu.
Mataku terbelalak ketika aku mendengar suara langkah kaki mama menjauh.
Gawat, aku lupa.

Cerita Sex | Spontan aku melompat dari ranjangku. Tas carel yang teronggok di samping lemari baju langsung kusambar. Kubuka resletingnya, wajahku pucat saat kulihat tak ada barang apapun di dalam tas itu. Aku menggaruk kepalaku dengan gusar, kutengok jam weker yang belum sempat kulihat tadi. Jam itu menunjukkan pukul 08:12. Aku mulai kehabisan waktu. Kubuka lebar kedua pintu lemari cokelat itu. Untunglah cukup banyak baju yang masih tersisa. Kuambil setumpuk baju dengan tergesa-gesa dan segera memasukkannya ke dalam tas. Kini aku beralih kelaci mejaku. Kubuka laci paling bawah diantara empat susun laci disana. Disinilah aku menaruh semua peralatan travelku.

Tak berpikir lama segera kuambil barang-barang yang kubutuhkan, kotak p3k, senter, powerbank, segulung tali tambang, kompas, dan masih banyak lagi.

Kujejalkan semua itu dalam tas carel besar berwana hitam itu.

Aku bergegas mandi. Seadanya saja yang penting mandi, begitu pikirku. Jam kini menunjukkan pukul 08:34. Waktuku semakin menipis, karena jadwal pendakian yang telah aku sepakati bersama teman-temanku adalah jam 10 pagi. Aku segera menggendong ranselku. Ransel itu tingginya kira-kira separuh tinggiku yang kini telah mencapai 178cm. cukup berat sekali, pikirku. Tampaknya aku terlalu banyak membawa barang tak berguna. Ahh sudahlah.. nanti saja kupilah lagi setibanya disana. Aku segera bergegas menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan.
Kulihat mama sudah menungguku disana.

Ia sedang mengoleskan selai pada dua lembar roti yang langsung kusambar.
“ehhh… itu belum selesai…..” kata mama.
“gapapa mah… Tomi berangkat dulu ya…” kataku seraya kucium pipi ibuku.
“yaudah hati-hati ya…. Jaga diri….” Kata mama.
Aku yang sekarang ini sedang menggigit roti di mulutku hanya bisa melambai pada mama.
Kubuka pintu mobil lalu kuhempaskan tas carel di kursi belakang. Tak berlama-lama langsung saja kunyalakan mobilku dan bergegas pergi. Mobil yang tak kupanaskan dahulu itu langsung kugeber menuju pintu tol kebon jeruk. Berharap pagi ini jalan tidak terlalu macet.
Syukurlah tol sepi. Aku segera memacu mobilku di jalur tol yang tidak seberapa ramai itu.
Namun harapanku pupus seketika, ketika aku sampai di pintu tol cawang. Padatnya kendaraan saat itu hampir sama padatnya dengan tumpukan sampah di bantar gebang, pikirku.
Aku menghela nafas dan mulai memacu mobilku perlahan. Harapanku untuk hiking dengan teman-temanku sirna sudah. Aku hanya berharap keajaiban datang.

Seminggu yang lalu…
Aku dan teman-temanku satu sekolah, ketika kami masih duduk dibangku SMA sedang berkumpul untuk reuni kecil. Aku, Andi, David, Rendy, dan Samuel, kami berlima sudah seperti saudara jika bertemu, tak ada rasa canggung ataupun malu. Sampai hal-hal detail yang memalukan pun kami ceritakan satu sama lain. Sampai pada suatu saat Andi mengajak kami untuk hiking bersama. Sebuah aktivitas yang memang cukup sering kami lakukan jika tiba waktunya libur sekolah.
“bray… hiking lagi lah…” kata Andi.
“nah…… ini nih… ayo dong kapan, bikin jadwal..” David menyahut.
Aku yang sedang menyeruput kopi panas hanya bisa mengacungkan jari telunjukku ke arah mereka tanda setuju.
“nah…. Gini kan enak… jadi kemana kita?” tanya Andi.
“asal jangan semeru aja bray… kejauhan…” kata Rendy.
“yoi bro…. gw juga ga enak sama nyokap gw kalo gw pergi lama-lama… sendirian dirumah dia..” kataku.
“udah-udah…. Kegunung gede aja si….. yang deket,tracknya juga ga seberapa berat…” kata Samuel.
“ahhhh…… lo kadang-kadang cemerlang juga Sam… kadang-kadang si…. Boleh tu..” kata David.
“jadi……….. ayo kapan” tanyaku.
“kalo gw bisanya minggu depan…“ kata Rendy.
“gimana? Minggu depan….. gw si oke” Samuel menimpali
Kami saling mengadu gelas tanda setuju. Pembicaraan malam itu sangat membuatku antusias. Sudah cukup lama kami tidak menjajal kemampuan kami menjelajah alam. Mungkin sudah dua tahun semenjak terakhir kali kami naik gunung.

Tapi kini yang kulihat bukanlah bentangan alam yang indah. Melainkan beratus mobil aneka warna yang merayap disepanjang tol jagorawi.

“sial….. bisa-bisanya lupa…” gumamku.
Jam di mobil telah menunjukkan pukul 10:15.
Mereka pasti sudah tidak sabar menungguku. Namun, anehnya tidak ada kabar dari mereka.

Pukul 11:30 aku sampai di pintu masuk taman nasional gunung gede pangrango.
Aku mengurus ijin pendakian. Sambil menengok kanan kiri mencari tanda-tanda keberadaan mereka. Sms yang kukirim setengah jam lalu pun belum juga mereka balas, aku mulai gusar.
Kini ijin pendakian telah aku kantongi. Aku berjalan meninggalkan mobil yang kuparkir menuju titik awal pendakian yang cukup jauh.

Cerita Sex Terbaru | Waktu berlalu, kini matahari sudah hampir berada di ubun-ubun kepalaku. Cahayanya yang terik mengundang keringat didahi untuk meluncur ke pipiku. Sekali lagi, tak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Kuhempaskan tas carelku di akar sebuah pohon rindang yang kurasa usianya cukup tua. Aku duduk di rerumputan sambil meneguk air yang kubawa di dalam tas. Kulirik handphoneku yang kini lampu indikatornya berkedip merah. Kuraih handphone itu dan kubaca pesan singkat di kotak masuk.
Ternyata dari Andi.

‘bray…. Lu dimana, anak-anak ga jadi berangkat. Si Rendy sakit, Sam ada panggilan tugas mendadak dari kantor. Jadi gw juga ga datang.’
Bibirku mulai mengkerut membaca sms itu. Sial, hariku yang berawal buruk, kini semakin buruk.
Terlintas dalam benakku untuk mengurungkan niat mendaki hari ini.
Kini aku duduk bersandar di pohon tempatku menaruh ranselku.
Aku memandang ke atas. Rimbunan dedaunan hijau itu mengusir rasa kecewaku. Tak apa-apa lah pikirku. Kunikmati saja pemandangan yang jarang kulihat di jakarta. Sehari-hari aku hanya bisa menikmati udara jakarta yang telah tercemar oleh pekatnya asap kendaraan bermotor. Kunikmati saja udara sejuk disini sebelum pulang, pikirku.
Kulihat kerumunan demi kerumunan melintas memasuki gerbang pendakian. Tampaknya hari ini cukup ramai orang yang mendaki, mungkin karena hari libur.
Waktu berlalu, aku yang menikmati suasana asri nan hijau, kini dikejutkan oleh kehadiran seseorang.

“misi kak…. Bawa powerbank ga?” sapa seorang gadis.
Aku terhentak dari lamunanku. Tampak di depan mataku kini ada seorang perempuan. Cantik sekali, kulitnya putih dan badannya angsing. Ia membawa tas carel sepertiku, tampaknya ia juga seorang pendaki.
“ohh… iya ada….” Kataku sambil merogoh isi tasku yang berantakan.
“maaf ya kak, ngerepotin… aku kepisah dari rombongan…” katanya.
“ohh iya gapapa… lagi nyantai kok… nih” kataku sambil menyodorkan powerbank yang aku temukan dengan susah payah.
“hehe.. makasi ya kak.. aku pinjem dulu…” ucapnya.
“kamu mau naik?” tanyaku. Ia mengangguk.
“tapi temen-temenku pada ngak tau dimana… aku udah standby dari dua jam yang lalu…”
“emang mau naik sama siapa?” tanyaku.
“temen-temen kampus… tapi gak tau nih mereka udah naik apa belum…”
Ia menekan keypad handphonenya, berusaha menelepon rekannya seperjalanan. Nomor demi nomor ia coba, namun nihil. Tampaknya teman-temannya sudah naik terlebih dahulu.
“aduh…. Pada ga bisa dihubungi lagi… pada dimana mereka…” wajahnya mulai cemas.
“kalo menurut aku sih udah pada naik… mungkin handphonenya ga ada signal.”
“aduh… aku pulang gimana nih….. uangku ada sama mereka…”
“apa mau disusul?” tanyaku.
“emank kakak mau naik?” ia balas bertanya.
“sebenernya sih ngak… temen-temenku pada gak jadi datang… tapi kalo mau naik gpp nanti aku antar…” kataku.
“yaudah kak ayo… keburu mereka jauh…. Maaf ni kak jadi ngerepotin… oh iya, kenalin.. Reni..” katanya sambil mengulurkan tangan padaku.
“Tomi….” Kataku.

Kami berkenalan dan segera bergegas menyusuri jalur pendakian.

Dua jam kami lewati berjalan bersama, dalam perjalanan itu kami saling bercerita mengenai diri masing-masing. Mungkin karena senasib, tertinggal rombongan. Menyebabkan kami cepat akrab satu sama lain. Ternyata Reni adalah adik kelasku di kampus. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, namun tidak saling mengenal satu sama lain karena berbeda jurusan.

Tiga jam sudah kami berjalan beriringan. Tak ada tanda-tanda keberadaan rombongan Reni. Cuaca mulai berubah, awan mendung kini meredupkan cahaya diantara rimbunnya pepohonan yang kami lalui. Tampaknya hujan segera turun.

Cerita Sex 2017 | Gerimis mulai turun. Kami berdua mempercepat langkah, namun tampaknya Reni tak kuat lagi menahan beban tas carel di pundaknya. Ia meminta istirahat. Aku menoleh ke kiri dan kananku, mencari tempat untuk kami berteduh, namun tak ada saung satu pun sejauh mata memandang.
Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di bawah sebuah pohon rindang. Pohon itu berjarak kira-kira dua puluh meter dari track pendakian. Kami tak punya pilihan, karena kalau kami tetap berada di track bisa dipastikan tubuh kami akan basah kuyup.
Beberapa menit berlalu, hujan tak kunjung mereda. Lama kelamaan pakaian kami mulai basah.
“kak… aku kedinginan…” kata Reni.
Aku menghampirinya, mengeluarkan secarik kain dari tasku untuk mengusap air diwajahnya. Kurasakan tangan Reni yang dingin bagai tersiram air es. Aku pun semakin kebingungan dibuatnya. Tak mungkin aku menyalakan api di sini. Air hujan yang terus mengguyur kami akan segera mematikan api itu sebelum membesar. Aku mencari akal, kembali menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat berteduh yang lebih aman.
Samar-samar kulihat sebuah goa di pinggir tebing yang curam. Goa batu itu tampaknya cukup kering.
“disana ada goa.. kita berteduh disana aja….”
“ngak ahh kak… takut.. serem…” kata Reni.
“ehh… daripada disini nanti sakit kamu..”
Akhirnya Reni mengiyakan ajakanku. Dengan berpayungkan jaket kami menerobos lebatnya hujan dan rerumputan. Kini kami sampai di bibir goa yang tak seberapa dalam. Kira-kira panjangnya hanya empat meter, mungkin bebatuan ini runtuh dimakan usia. Aku mengamati sekeliling goa dengan seksama, meminimalisir resiko tebing itu runtuh diterpa guyuran air hujan.
Aku lega, ternyata bebatuan di langit-langit goa itu dicengkeram uat oleh akar-akar pohon besar di atasnya. Aku meminta Reni untuk duduk di pojok goa itu. Akar-akar kering yang menggantung di langit-langit goa itu kuputuskan dengan pisau lipatku. Aku menyalakan api untuk menghangatkannya.
Jam tanganku kini menunjukkan pukul 17:14. Hari mulai gelap, hujanpun tak kunjung reda. Kawasan gunung gede memang terkenal gampang berubah cuaca, namun sepertinya hal itu tidak berlaku hari ini.
“kita ga mungkin nerusin pendakian, hari udah mulai gelap….” Kataku.
“yaudah kak bermalam disini aja… aku bawa makanan kok..” kata reni.
Kami mengelar kantung tidur untuk bersiap istirahat. Namun, baju kami yang basah terkena air hujan tak kunjung mengering.
“ganti baju dulu gih… bawa baju kan…?” tanyaku.
“ihhh… malu ahh.. nanti kakak nafsu lagi ngeliat aku ganti baju….” Kata Reni.
“yeee… masa aku mau ngintip udah sana ganti… aku tunggu di depan…”
Aku memalingkan wajah dan berdiri di depan goa, sementara Reni mengganti bajunya di belakangku. Pikiranku mulai kotor, kini ada perempuan cantik yang telanjang di belakangku hihihi. Terlintas dalam benakku niat untuk mengintipnya.
“awas… jangan ngintip ya…” kata Reni.
“iyee…iye…..” sial pikirku. Dia mengetahui niat mesumku. Aku mengurungkan niat.
Kami pun bertukar, kini aku mengganti bajuku dan Reni berjongkok di mulut goa.
Angin dingin kurasakan menerpa kulitku ketika aku menanggalkan pakaianku satu persatu. Tak kuasa menahannya aku bergegas memakai pakaian.

Api mulai meredup, aku mengambil kembali beberapa tangkai akar dan dahan yang sepertinya masih basah di mulut goa. Akar kering itu kulemparkan satu persatu kedalam bara api, sementara dahan yang basah kuletakkan disamping api unggun agar mengering.
Asap tipis membumbung dari tumpukan akar kering yang kubakar, untunglah asap itu tidak berdiam di dalam goa. Kalau tidak kami bisa sesak napas dibuatnya.
Malam menjelang, kini aku tak dapat melihat keluar goa sama sekali, yang kulihat hanyalah dinding goa yang diterangi cahaya api ungun yang temaram. Aku kini menaburkan garam di mulut goa untuk menghalau jika sewaktu-waktu ada ular dan hewan lain yang berusaha masuk. Kusiapkan juga sebatang kayu untuk menghalaunya jika ular sampai lolos dari taburan garam itu.
Kini kami duduk bersebelahan di dalam kantung tidur kami.
Lantai goa itu tidak rata, sebagian besar dipenuhi bebatuan yang cukup besar, sehingga tidak memungkinkan kami berbaring disana, yang ada hanyalah ruang sempit seluas dua meter kali satu meter yang beralaskan tanah kering yang mengeras. Kami kini menempatinya.
Hujan mulai reda, namun udara dingin pegunungan mulai menusuk dikulit kami.
Pakaian kami yang basah kami letakkan di atas bebatuan goa itu. Jaket Reni yang basah tidak mungkin ia kenakan kembali, sehingga aku meminjamkan jaketku kepadanya.
“kakak sendiri pake apa?” tanya Reni.
“udah… aku mah gampang…” kataku.
Tampak raut muka bersalah terpancar diwajahnya.
“maafin aku ya kak, udah ngerepotin, tau gini aku nunggu di gerbang aja sampai mereka pulang..” kata Reni.
“udah… gapapa… santai aja… aku aja selow-selow aja tuh…..”
“tapi kan kakak kedinginan…”
Rupanya tubuhku yang gemetaran tidak bisa membohonginya. Aku memang sangat kedinginan sekarang. Walaupun ada api unggun di goa itu, namun kehangatannya tidak cukup untuk kami berdua.
“sini kak….. kita pake bareng-bareng jaketnya…” kata Reni.
“yeee….. emank rela dipeluk-peluk?” tanyaku.
“udah ga usa mikirin itu kak…. Aku ngerasa bersalah kalau kakak sampai sakit.”
kamipun kini duduk berhimpitan untuk berbagi kehangatan, aku merangkul pundak Reni. Canggung sekali rasanya. Aku khawatir ia keberatan.

Koleksi Cerita Sex | Namun tampaknya Reni sama sekali tidak keberatan. Kini malah ia yang merapatkan tubuhnya padaku. Payudaraya yang tidak seberapa besar menempel erat ditubuhku. Hangat sekali, suhu badan Reni kini sudah kembali normal. Kini aku sudah tidak canggung lagi memeluk tubuhnya erat-erat. Tak bisa kupungkiri, aku masih sangat kedinginan.
Payudara Reni bersesekan dengan tubuhku ketika ia membetulkan posisi duduknya. Kok lembut sekali, pikirku. Aku menoleh ketumpukan baju Reni dan kulihat sebuah bra ada disana.
“kamu ga ake BH ya?” tanyaku.
“hehehe…. Ketauan ya…. Aku lupa bawa cadangan… maklum kak ini pertama kali aku naik gunung.” Katanya.
“hmm… dasar… lain kali bawa pakaian ganti yang lengkap…”
Cukup lama kami berpelukan, kini suhu badanku perlahan kembali normal. Reni mulai pegal dengan posisi duduk kami. Ia pun mulai kelelahan dan mengajakku berbaring.
Ia berbaring dengan posisi menghadap ke arahku. Tanganku kujadikan bantal untuk menyangga kepalanya. Ia kembali memeluk tubuhku erat. Kurasakan payudaranya yang kenyal kini menekan dadaku.
“masih kedinginan kak?” tanya Reni.
“ngak kok…. Apalagi dipeluk sama cewe cantik…” kataku.
“ihhh kakak godain aja nih… hihihi..”
Ia mengecup bibirku dan tersenyum. Aku tersentak kaget.
“makasih ya kak….. aku ga tau gimana jadinya kalo ga ada kakak..” katanya.
Ia kembali mencium bibirku. Tak lama kami sudah berpagutan. Ciuman dibibir kami mulai dipenuhi nafsu. Lidah kami menyatu, saling bertautan.
Aku meraba tubuhnya dengan sebelah tanganku. Menyusuri punggungnya perlahan. Ia mendekap erat kepalaku, ciumannya kini semakin liar. Kuremas belahan pantatnya yang padat sambil terus mengimbangi lumatannya di bibirku. Kini ia mengangkat sebelah kakinya ke atas tubuhku. Ia merapatkan tubuhnya, semakin rapat.
Penisku mulai menegang dibuatnya. Rabaan tanganku kini mendarat di payudaranya. Kuremas pelan payudara yang hanya terbungkus kaus itu. Kenyal sekali, walaupun tidak sebesar milik pacarku tetapi payudara ini sungguh menggoda hasrat sexsualku. Tanganku kini kuselipkan kebalik kausnya. Berusaha meraih putingnya yang mulai mengeras.
Kuremas pelan payudara Reni sambil kujepit putingnya diantara jari tengah dan telunjukku.
“Mmmm….Ssshh….enak kak….” Desahnya.
Aku mulai bersemangat, kini kausnya yang berwarna biru telah kusingkap sampai ke atas payudaranya. Kulit payudara Reni sungguh putih berhiaskan puting susu berwarna pink, sexy sekali. Aku tak kuasa menahan nafsu untuk segera menjilat puting susunya.
Kurebahkan tubuh Reni di atas tanah beralaskan kantung tidur kami. Kulumat puting susunya dan kuhisap kuat.
“Aaaaahhhh…..Sssssshhhh…. terus kak… enak..” desahnya.
Jilatanku mulai berpindah dari payudara kiri ke payudara kanan. Kumainkan puting susunya dengan lidahku. Tubuh Reni mulai menggeliat. Aku menurunkan celana yang dipakainya perlahan sampai terlepas. Perlahan-lahan jilatanku kini menyusuri perutnya yang langsing. Senti demi senti kukecup kulitnya yang putih bersih. Hingga sampailah aku di daerah kewanitaanya.

Cerita Sex Paling Hot | Vagina Reni sungguh bersih dan wangi, tanpa sehelai bulupun tumbuh disana. Dengan nafsu yang bergejolak aku menjilat liar belahan vagina itu. Cairan kenikmatannya mulai meleleh di lidahku. Rasa yang khas dari vagina perempuan mulai kurasakan.
“Ahhhh…Ahhh.. kak…… terus… aku mau sampai…..Ahhh….” desahnya.
Kutekan lidahku memasuki liang vaginanya sementara jemari tanganku memainkan klitoris Reni.
“Aa…….kak…..AaaAaaaaahhh….. aku…. Mau….”
Tak sempat ia menyelesaikan kalimatnya, cairan kenikmatannya telah menyembur deras di mulutku. Ku bersihkan lelehan cairan itu dengan lidahku.
Kini Reni bangkit dari posisinya. Ia membuka resleting celanaku dan menariknya hingga terlepas. Penisku yang sedaritadi sudah mengeras kini mengacung kearah wajahnya.
Ia mendekat dan mulai mengulum batang penisku. Lihai sekali caranya memperlakukan aku, tampaknya ini bukan kali pertama ia melakukan hubungan sex.

“Aaahh..Ssshh…Ahhh… gila… isepan kamu enak banget Ren…”
Kini ia melumuri batang penisku dengan air liurnya. Ia menggenggam batang penisku dengan sebelah tangannya dan mulai mengocoknya. Lidahnya kini bermain di buah penisku. Jilatan demi jilatan membuat nafsuku semakin memuncak. Sesekali ia mengulum dan menghisap buah penisku. Membuat tubuhku menegang menahan gejolak sensasi nikmat yang diberikannya.

Baca juga kisah cerita sex paling hot lainnya, seperti: Anak Tiriku yang Cantik dan Hot.

“Ahh… Ren… gila enak banget…..” kataku.
“kak…. Dimasukin aja ya…. Aku udah ga tahan…” katanya.
Aku membaringkan tubuhnya. Kuarahkan batang penisku kearah lubang kenikmatan itu lalu kugesek-gesekkan.
“Aaaaaahhh…..Aaaahh…Ssssshhh… kak…. Ayo… aku udah ga sabar pengen di entotin…” ceracaunya.
Kata-kata vulgar yang keluar dari bibirnya membuat hasratku untuk menyetubuhinya tak dapat terbendung lagi. Kutekan penisku yang sudah basah dengan cairan kenikmatannya. Dalam sekali dorongan, penisku sudah masuk seluruhnya di lubang kenikmatan itu.
“Aaaaaahhhh…..” Reni memekik.
“anjrit… sempit banget memek kamu Ren…”
“ayo kak…. Kocokin memek aku…” pintanya.
Aku mulai menggerakkan penisku. Perlahan-lahan kupercepat gerakanku. Suara paha kami yang beradu menciptakan bunyi seperti genangan air yang dilewati langkah kaki.
“Ohhh…Ahh…kak…enak banget… kontol kakak…..” desahnya.
Kini gerakanku semakin liar. Kuhujamkan penisku kedalam liang vaginanya dengan cepat.
“Aaahh….. terus..kak… entotin aku…..Ahhh….”
Tubuhnya menggeliat liar. Sungguh tak kukira, perempuan dengan wajah sepolos Reni bisa menjadi sangat liar dalam permainan sex kami.
“Ohh…. Enak banget Ren….memek kamu legit banget…” kataku.
Reni meremas kedua payudaranya dengan tangan. Ia mengarahkan kedua putingnya mendekat.
“isepin pentil aku kak…. Dua-duanya….” Pintanya.
Aku merebahkan tubuhku dan mulai menghisap kedua putingnya sekaligus.
“Ahhhh…Ahhhh…Sshh..Ahhhhh…Ahhhh… terus..kak…aAhhh..” ceracaunya.

Waktu berlalu, tubuh Reni mulai menegang, vaginanya berdenyut.
“kak…Ahhh…Ahhh… terus…lebih cepet kak…. Aku.. mau keluar…. Ahhh….Ahhh….”
Reni mendekap erat wajahku di payudaranya. Denyutan vaginanya yang mencengkeram penisku membuatku tak dapat menahan lagi spermaku tetap didalam.
“Ahhh….Ahhhh.. Ren…aku mau keluar….” Kataku.
“Ahhhh…di…dalem…gapapa…..Ahhh….aku juga…”
Kuhujamkan penisku makin cepat kedalam vaginanya. Tubuh kami menegang. Aku mencengkeram kuat bahu reni dari balik punggungnya. Aku tak dapat menahan lagi gejolak orgasme yang sebentar lagi akan tiba.
“Ahhhhhhh…..Ahhhhhh……”
Reni memekik ketika aku menghujamkan penisku sedalam-dalamnya. Cairan kenikmatannya menyembur melewati sela-sela antara vaginanya dengan penisku.
“Oohhhhh..Ahhhhhhhhhh….” aku memekik ketika…

(sfx : Croootttt…..Crooottt….Croootttt…)
Spermaku menyembur di dalam rahimnya. Tubuhnya menegang kuat saat itu. Pertanda bahwa orgasme kami sampai disaat yang bersamaan.
Tubuhku terkulai lemas, keringat kami bercucuran. Spermaku meleleh dari lubang vagina Reni yang sempit.
“kamu bener-bener amazing Ren….” Kataku yang masih terengah-engah mengatur nafas.
“kakak juga…. Kontol kakak gede banget…“
Kami terkulai lemas di lantai goa itu. Udara malam yang dingin kini tidak kami rasakan. Seakan tertutupi oleh panasnya permainan kami.

Aku dan Reni kembali mengenakan pakaian agar kehangatan tubuh kami tidak kembali menghilang. Kami kembali merapatkan tubuh kami dan tidur dalam posisi berpelukan.

Pagi menjelang. Sinar mentari mulai memancar.butir-butir embun yang bergelayut manja di reruputan kini berkilau bak permata yang berserakan.
Kami terbangun dari tidur kami. Api unggun yang menyala semalam kini telah padam. Kami membereskan barang-barang kami dan bergegas meninggalkan goa itu.

Aku sempat menanyakan kepada Reni apakah ia ingin meneruskan pendakian. Reni menggelengkan kepala. Masih lelah karena permainan semalam katanya. Akhirnya kami memutuskan untuk turun. Dalam perjalanan kami berbincang.

“makasih ya kak… uda jagain aku….” Kata Reni.
“ihh.. santai aja lagi.. aku malah senang… hahahah…”
“seneng naik gunung, apa naikin aku?” candanya.
“dua-duanya amazing lah pokonya.” Kataku.

Satu jam berlalu, perjalanan kami turun tidak seberat ketika kami mendaki. Tak berselang lama pintu gerbang sudah terlihat.

Aku menawarkan Reni untuk mengantarnya pulang. Ternyata rumah Reni tidak begitu jauh dari rumahku, hanya berjarak sekitar sepuluh kilometer.
Ketika sampai di depan pintu gerbang rumahnya kami bertukar nomor handphone.

“nanti telpon aku ya kak….” Katanya
Aku mengacungkan ibu jariku, dan bergegas pulang.

Hariku yang berantakan berubah menjadi menyenangkan. Kini, sudah kulupakan penyesalanku datang ke gunung gede. Ternyata takdir membawaku kepada perempuan cantik nan menawan, sampai-sampai kami melakukan hal yang takkan kami lupakan seumur hidup kami.

Bulan demi bulan berlalu, kini aku dan Reni resmi berpacaran. Yah…. Walaupun backstreet, karena kami memang sudah memiliki pasangan masing-masing. Sesekali waktu aku mengajak Reni untuk berkencan. Mulai dari sekedar makan dan nonton film, sampai check in ke hotel.

Cerita Sex Hot | Kini aku punya pelajaran baru dalam hidup. Seburuk apapun keadaan yang menimpaku aku tidak akan menyesal, aku percaya satu hal. Tuhan selalu tau yang terbaik untuk ciptaanNya.

END……

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*