Cerpen Dewasa: Selama Semuanya Menikmati, Why Not?

Cerita pendek dewasa terbaik 2017

Cerpen Dewasa Terbaru
Cerpen Dewasa Terbaru

Sebuah cerpen dewasa dengan alur yang menarik rasanya tak berlebihan untuk menilai cerita pendek yang satu ini. Selamat membaca gan!

Cerpen Dewasa – Selama Semuanya Menikmati, Why Not?

Dua tahun berselang semenjak aku lulus dari perguruan tinggi. Tak terasa usiaku bertambah tua.
Namaku Tomi 23 tahun. Aku kini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di jakarta. Aku menjabat sebagai staff divisi marketing. Pekerjaanku mungkin adalah salah satu pekerjaan yang tidak diminati oleh rekan-rekan sebayaku. Mereka biasanya lebih senang duduk di depan komputer berjam-jam, mengkalkulasi data, dsb. Bagiku itu sangatlah membosankan. Maka dari itu aku mengambil jurusan public relation ketika aku masuk perguruan tinggi.
Aku sangat menikmati pekerjaanku sebagai seorang marketing.

Cerpen Dewasa | Terasa bebas, tidak terpaku di satu tempat. Terkadang aku sempat berjalan-jalan bersama teman-temanku. Hangout keberbagai tempat nongkrong sampai berburu wanita di lokalisasi. Yah…. Itulah sebagian hal yang mengenakkan dari pekerjaanku selain gaji dan bonus yang lumayan. Tapi di setiap hal di dunia ini tak ubahnya seperti sekeping uang logam. Selalu ada dua sisi yang berlawanan.

Terkadang aku harus meeting hingga larut malam, mengejar target penjualan yang dirasa sudah sangat tidak mungkin tercapai. Well… itulah dunia, pikirku. Setiap manusia tidak ada yang pernah puas, dan setiap pekerjaan tidak ada yang pernah mengenakkan.

Seperti yang kubilang tadi, jam kerjaku sungguh tak menentu. Terkadang aku harus melobby klien yang hanya bisa kutemui pada larut malam. Sehingga rupa tempat tinggalku sungguh mirip sekali dengan kota yang baru diterjang badai dan tsunami.

Aku tinggal di sebuah apartemen di bilagan jakarta selatan. Apartemenku cukup besar untuk diriku yang tinggal sendirian. Ada dua kamar, satu kamar mandi, satu ruang tengah, dan dapur di pojok ruangan. Sudah satu tahun sejak aku menghuni apartemenku. Sebelumnya aku tinggal bersama kakak dan mamaku. Tapi karena beban pekerjaan sebagai marketing sangat menguras waktu dan tenagaku, maka aku memutuskan untuk membeli sebuah apartemen. Agar tidak bolak-balik pulang kerumah, pikirku.

Cerpen Dewasa 2017 | Namun lama-kelamaan aku merasa lelah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah yang seakan tidak habis-habisnya. Menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, merapihkan tempat tidur, mencuci baju, dll. Dan tetap saja rumahku kembali berantakan esok harinya.
Aku sadar bahwa diriku ini memang bukan orang yang bisa hidup teratur dan rapi. Maka dari itu kuputuskan hari ini untuk mengambil cuti dan mencari seorang pembantu untuk membantuku di apartemen. Aku mendatangi sebuah biro penyalur tenaga kerja tak jauh dari apartemenku.

“selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang resepsionis.
“saya lagi cari pembantu mba… kira-kira disini menyalurkan pembantu rumah tangga ngak?” kataku.
“ohh kalau itu silahkan bapak tanyakan ke dalam.” Katanya.
Tak lama aku masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengutarakan niat untuk mempekerjakan seorang pembantu untuk mengurus apartemenku. Dia menyanggupi permintaanku dan memberikanku list nama-nama serta foto mereka.
Aku membuka daftar nama itu. Cukup banyak juga, ada 15 orang yang mencari pekerjaan sebagai pembantu. Lembar demi lembar aku membolak-balik daftar itu. Kriteriaku sederhana, muda, cantik, tubuh proporsional, dan bersedia rajin bekerja. Pikiranku mulai kotor membayangkan jika aku tinggal berdua di dalam apartemenku hahaha….

Cerpen Dewasa Terbaru | Sampai akhirnya aku mengambil lima nama dari list itu yang kurasa cukup memenuhi kriteria yang kuinginkan. Aku diminta untuk datang dua hari lagi untuk bertemu dengan mereka dan melakukan interview.
Dua hari berselang, akupun datang lagi ke tempat itu.
“selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” sapa resepsionis.
“nama saya Tomi.. saya ada janji untuk melakukan interview dengan calon pembantu rumah tangga yang sudah dijanjikan.” Kataku.
“sebentar ya pak……….hmmm.. pak Tomi……. Nah ini dia, bapak silahkan masuk ke ruangan di pojok.” Katanya.
“ohh iya terima kasih…”
Aku berjalan kedalam ruangan itu. Dan menunggu mereka datang satu persatu.

Pertanyaanku sederhana, tak jauh seputar profil dan latar belakang mereka.
Tentu saja aku tak boleh menerima sembarang orang tinggal bersamaku tanpa kuketahui betul latar belakang dirinya.
Jarum jam di dinding telah bergeser cukup jauh dari tempatnya semula. Cukup lama aku mengobrol dengan mereka. Tak kusadari ternyata diluar hujan cukup lebat. Akhirnya aku memutuskan memilih satu orang diantara mereka. Lilis namanya, perempuan berusia 24 tahun itu berasal dari bandung. Ia merantau kejakarta untuk mencari pekerjaan setelah suaminya pergi menjadi TKI di malaysia (baca:maling sia). Empat tahun sudah suaminya pergi tanpa kabar berita yang jelas, entah bagaimana nasibnya. Orang tua Lilis sudah menanyakan kepada besannya. Apakah menantunya pernah memberi kabar walau hanya sekali. Namun kekecewaan yang dirasakan orang tua Lilis ternyata dirasakan pula oleh besannya. Lilis tak mampu lagi menahan diri untuk tetap setia menanti suaminya yang tak kunjung pulang. Tak memiliki penghasilan, Lilis merasa risih harus tinggal serumah dengan orang tuanya. Tak ingin menyusahkan lagi, katanya. Untunglah Lilis belum memiliki anak, mungkin karena suaminya pergi tak lama setelah mereka menikah. Sehingga Lilis sama sekali tak menanggung beban jika ia ingin menjelajah negeri, mencari pengharapan demi kehidupan yang harus dijalaninya.

Aku kembali ke apartemenk untuk beristirahat. Kubiarkan saja apartemenku yang memang sudah berantakan.
Aku merebahkan diri di ranjangku. Majalah-majalah yang berserakan diatas ranjang kudorong dengan kakiku. Buku-buku itu jatuh dilantai dengan bunyi berdebam.

Aku memejamkan mata, mengingat apa saja yang telah aku lalui hari ini. Teringat olehku salah satu calon pembantu yang tadi siang kuwawancarai. Genit sekali pikirku, sempat dia membisikkan padaku bahwa dia siap jika harus melayani seluruh kebutuhanku. Pikiran kotorku mulai timbul, hampir saja pilihanku jatuh padanya. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, namun langsing dan proporsional. Payudaranya yang besar membusung, pantatnya yang padat, serta wajahnya yang lumayan manis membuat batang penisku mengeras saat itu, hahaha. Namun niatku kuurungkan karena khawatir melihat gelagatnya yang sungguh agresif. Khawatir jika sesungguhnya ia adalah perempuan yang licik yang menghalalkan segala cara. Memanfaatkan kelemahan lelaki yang haus sex, lalu kemudian merampoknya. Mungkin aku terlalu sering menonton film, ah sudahlah. Yang penting aku sudah memilih. Dan lagi penampilan Lilis juga tak kalah mempesona dengan perempuan itu.

Tubuh Lilis pun sangat sexy, mungkin karena baru beberapa bulan menikah lalu ditinggal oleh suaminya, dan lagi belum memiliki anak. Pasti kualitas barangnya masih 98%, mulus kinyis-kinyis gan,hohohohh.
Astaga teganya aku membayangan hal seperti itu kepadanya. Entah seperti apa sifat aslinya, tetapi dari penuturannya, cara berbicaranya, gaya berpakaiannya, kulihat ia perempuan baik-baik. Aku tak tega jika harus melakukan hal buruk padanya.

“aduh…. Si junior pake bangun segala” gumamku.
Aku beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan diri sambil bermasturbasi cukup sering kulakukan. Terlebih saat aku tak sempat main ke pelacuran untuk melampiaskan hasratku.
Terbayang saat itu lekuk tubuh Lilis, sexy sekali pikirku.
“Duh… kenapa ngebayangin dia sih….” Pikirku.
Aku mempercepat kocokanku, dan tak lama orgasmeku pun tiba. Spermaku muncrat membasahi dinding kamar mandi yang berwarna biru. Meninggalkan jejak cairan lengket berwarna putih yang kontras.
Lega sekali. Sekarang saatnya untuk tidur. Setidaknya besok aku bisa bangun agak siang karena aku masih memiliki cuti. Lagipula besok Lilis akan datang, jadi aku harus memastikan diri ada di apartemenku jika ia tiba.

(sfx : Kriiiiiiingggggg……………….)
Bunyi jam weker membuyarkan mimpiku.
Sial, aku lupa jam wekerku maih menyala, tadinya aku ingin bangun agak siang, pikirku. Kuraih jam weker itu dan kugeser switch untuk mematikannya.
Mataku tak dapat kupejamkan lagi. Cahaya matahari yang bersinar terang membuat gorden apartemenku yang berwarna coklat tua kini berpendar. Seakan sinar mentari kala itu berusaha menerobos masuk kedalam kamarku. Aku bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Kukejap-kejapkan kelopak mataku mengusir rasa kantuk.
Rasa kantukku tak kunjung mau pergi. Aku berjalan gontai menuju lemari es dan mengambil sebotol air, lalu kuminum. Rasa dingin menjalar di kerongkonganku. Membuat mataku kini tak dapat lagi terpejam.
Masih kugenggam botol itu ketika aku berjalan menuju jendela. Kuraih seutas tali untuk membuka gorden, dan kutarik. Cahaya mentari menerobos liar kedalam ruangan. Aku memicingkan mataku menghindari paparan cahaya yang terasa hangat dikulitku. Kupandagi seisi kamar yang berantaka. Gelas-gelas kaca yang berada di atas meja kayu berpendar bagai kristal diterpa cahaya.
Kuteguk lagi air dingin yang kugenggam. Aku berjalan menuju wastafel dan kubasuh wajahku dengan air yang mengalir. Segar sekali.
Kantukku mulai hilang, terlebih setelah aku menggosok gigi.

“masih pagi, ngapain ya” gumamku dalam hati.
Saat itu kulihat pintu kamar kedua yang nantinya akan dipakai oleh Lilis selama tinggal bersamaku. Kuputar handle pintu itu dan kubuka kamarnya. Aroma kamar yang lembab menyeruak keluar. Mungkin karena kamar ini jarang kubuka dan hanya kugunakan untuk menaruh barang-barang yang jarang kugunakan. Didalamnya kulihat dua buah tas troli yang biasa kugunakan untuk berpergian, sebuah lemari kecil dan kasur spring bed yang memang sudah ada disana ketika aku membeli apartemen ini.

Cerpen Dewasa | Cukup kotor kondisi kamar itu. Debu dilantai sudah cukup tebal sehingga meninggalkan jejak kaki ketika aku melangkah. Aku mengambil vacum cleaner yang kuletakkan di samping kamar mandi, dan mulai membersihkan kamar itu.
Dengung mesin vacum cleaner terdengar gaduh. Bagai ribuan lebah yang sedang sibuk menghinggapi taman bunga.
Lantai kini sudah bersih. Aku membuka lemari kayu kecil disudut ruangan dan mengambil selembar sprei yang masih bersih. Untunglah tidak bau apek, pikirku. Kupasangkan sprei itu pada ranjang spring bed. Kamar itu kini sudah cukup bersih untuk digunakan. Yang kurang hanyalah bantal yang belum ada dikamar itu.
Aku berjalan menuju kamarku dan mengambil sebuah bantal yang masih bersih. Kupasangkan sarung bantal baru, karena aku khawatir sarung bantal yang lama sudah agak bau.
Selesai dengan kamar itu, kurasakan rasa pegal mulai menghinggapi tubuhku. Kuraih handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi. Handuk berwarna putih yang kini terlihat lebih menyerupai warna krem itu kuletakkan di bahuku, dan aku bergegas masuk ke kamar mandi.

(sfx : Beep.. beep..beep..beep….)
Kudengar suara telepon berdering. Padahal aku baru saja melumurkan sabun ditubuhku. Sialan, pikirku. Terpaksa aku mengangkat telepon itu dalam keadaan telanjang.
“hallo….” Kataku.
“halo pak… ini Lilis…” sapa suara diujung telepon itu.
“oh iya… gimana Lis.. jam berapa mau datang?” tanyaku.
“saya sudah di depan pintu apartemen bapak.” Katanya.
Mataku terbelalak, gawat. Mana mungkin kubukakan pintu apartemen dalam keadaan seperti ini.
“waduh… tunggu sbentar Lis…, saya lagi mandi…” kataku.
Aku bergegas masuk kekamar mandi dan kubasuh tubuhku yang masih berselimut busa sabun. Kulilitkan handuk sekenanya ditubuhku lalu bergegas membukakan pintu untuk Lilis.
Crekk… Crekkk…, kubuka pintu dan kulihat Lilis sudah berada di depan.
“masuk Lis… maaf lagi nanggung belom selesai.” Kataku.
Kulihat Lilis tersenyum. wajah Lilis bersemu merah melihat tubuhku yang hanya terbalut handuk. Ia bergegas masuk sambil membawa tas jinjing hitam yang cukup besar, mungkin baju isinya.
“ini kamar kamu….. saya lanjutin mandi dulu ya…kamu istirahat aja dulu.” kataku.
“iya pak…. Bapak lanjutin aja dulu mandinya…” kata Lilis.
Aku kembali masuk kekamar mandi untuk menyelesaikan mandiku. Lilis kini melangkah ke kamarnya. Dia melihat sekeliling kamarku yang berantakan. Ia hanya tersenyum melihatnya, dasar rumah laki-laki, mungkin begitu pikirnya.

Koleksi Cerpen Dewasa | Ia membereskan pakaian di tasnya dan disusun rapi didalam lemari kecil dikamarnya. Ia menganti bajunya dan berbaring diranjang itu menungguku yang tak juga kunjung selesai mandi.
Bosan menungguku akhirnya ia bankit dan membereskan ruang tengah yang sangat berantakan.
Ia mengangkut gelas dan piring-piring kotor yang berserakan ke dapur dan mulai mencucinya.
Aku mengeringkan tubuhku di kamar mandi. Sial, aku lupa membawa pakaian. Aku memang sudah terbiasa keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja, karena sebelunya aku tinggal seorang diri. Tapi kini ada wanita yang tinggal bersamaku, bagaimana ini.
Aku melilitkan handuk ketubuhku. Kubuka pintu kamar mandi dan kulongok keluar. Kulihat Lilis sedang sibuk mencuci piring di dapur. Ia menoleh kearahku, aku teripu dan tersenyum lebar.
Astaga, ia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek, sehingga aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuhnya yang menawan.
“kenapa pak? Lupa bawa baju ya…” ucap Lilis ramah.
Aku mengangguk dan berjalan cepat menuju kamarku. Berpikir baju apa yang akan kukenakan, sementara sebagian besar pakaianku belum dicuci. Yang tersisa hanya satu celana panjang. Celana ini kan harus kupakai besok, pikirku. Akhirnya aku memutuskan memakai kaus dan celana pendek.
Biarlah, lagipula Lilis tak begitu canggung mengenakan celana pendek, pikirku.
Aku keluar kamar sambil masih mengusap rambutku yang basah dengan handuk.

“baru juga sampe.. kok udah sibuk aja… istirahat aja dulu…” kataku.
“gapapa pak… ini kan memang tugas Lilis….” Katanya.
Jangan panggil pak ahh…panggil mas aja.. mbak kan lebih tua dari saya..” kataku.
“lho emank mas umur berapa?” tanya Lilis yang masih sibuk menyabuni piring di tangannya.
“saya umur 23…” kataku.
“Ah…. Masa sih?” kata Lilis.
“emank saya kelihatan tua banget ya?” kataku.
“ngak gitu….. Cuma mas kelihatan dewasa banget…” kata Lilis.

Kami menghabiskan waktu pagi itu dengan mengobrol sambil membereskan kamar berdua. Mencoba mengenal satu sama lain, karena mungkin kami akan cukup lama tinggal bersama. Aku bertanya pada Lilis, apakah dia tidak merasa risih tinggal dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya.
“emank ga takut diperkosa mba? Bahaya lho tinggal sama lelaki” tanyaku.
“ehh… jangan donk…. Masa mas doyan sama pembantu..” katanya.
“bcanda… heheheh…” kataku tertawa.
Lilis hanya tersenyum saja. Aku tak kuasa mengalihkan pandanganku dari tubuh Lilis ketika ia menoleh ke arah lain. Kulitnya yang putih sekan hampir transparan, rambutnya yang panjang sepunggung tergerai rapi. Payudaranya yang besar, pantatnya yang padat, aduh.. fantasi kotorku tak dapat kubendung.
Lilis kini mengepel lantai dengan tangan sementara aku membereskan buku-buku yang berserakan.
“kamu pakai bajunya sexy amat Lis?” tanyaku.
“masa si mas… maaf saya kurang terbiasa sama udara jakarta, dibandung udah kebiasaan dingin soalnya.” Katanya sambil tetap mengusap lantai dengan kain pel di tangannya.
“emang ga malu belahannya keliatan gitu…” kataku menunjjuk ke arahnya.
Lilis tersipu malu dan menggerai rambutnya ke depan untuk menutupi dadanya.
“ihhh si mas jelalatan aja…” katanya seraya tersenyum lebar.
Aku hanya tertawa saja. Tak berselang lama apartemenku sudah rapi. Buku-buku tersusun rapi di raknya, piring-piring pun kini tertumpuk rapi di dapur, lantai sudah bersih, aroma ruangan pun kini sudah tercium wangi sekali. Aku duduk bersandar di sofa. Lilis mengambilkan aku segelas air dari kulkas dan menyodorkannya padaku.
Aku meneguk air itu sambil sesekali melirik ke arah Lilis yang duduk di sebelahku.

“hayoo….. mas ngeliatin apa?” kata Lilis.
Hampir saja aku tersedak, ia memergokiku rupanya.
“habis kamu pakaiannya mengundang nafsu sih….” Kataku.
“iya deh… besok-besok Lilis ga pakai tanktop lagi deh…” katanya,
“heheheh… gapapa kok kalo masi mau pake tanktop. Itung-itung pemandangan segar di rumah.” Kataku.
“uuu… dasar cowo…” Lilis mencubit tanganku.

Hari demi hari kami mulai akrab. Kini sudah tak ada lagi kata “saya” di antara kami. Kami mulai memanggil satu sama lain dengan aku-kamu. Seminggu berselang setelah Lilis datang dalam kehidupanku.
Masakan Lilis ternyata enak sekali. Ia ternyata pandai memasak. Aku yang sebelumnya terbiasa membeli makanan di luar kini lebih suka jika Lilis memasakkannya untukku. Akhirnya aku memberikan uang dua juta rupiah kepada Lilis untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
“banyak amat mas… ini mah cukup untuk dua bulan….”kata Lilis.
“ya gapapa lah… kamu masakin yang enak-enak buat aku… kalo ada lebihnya buat kamu aja…, buat beli baju.., atau beli tanktop yang banyak..” kataku.
“ihhh.. kamu bisa aja mas….” Kata Lilis.
“kepingin liat belahan setiap hari ya…..” lanjutnya.
“ya kalo dikasih mah siapa yang nolak… hahahhaa….” Kataku.
Kami hanya tertawa bersama.
Kini aku terbiasa kembali ke apartemen siang hari untuk makan bersama Lilis. Hari ini Lilis memasak steak. Sejak kuajari dia menggunakan internet, ia rajin sekali menggunakan laptop yang kutinggal dirumah. Rupanya ia belajar resep masakan baru.
Kunilai Lilis sangat sempurna sebagai seorang wanita, cantik, ramah, rajin, dan cepat belajar.
Tak salah aku memilihnya untuk tinggal bersamaku.

Hari demi hari berlalu, aku sedang berdiri mengantre di ATM. Gajiku sudah keluar. Aku mengecek nominalnya dan tersenyum. Banyak sekali bonusku bulan ini. Aku mengambil uang empat juta rupiah, dua juta untuk biaya belanja Lilis, dan dua juta lagi untuk membayar gajinya. Sebenarnya gaji yang diminta Lilis hanya satu setengah juta, tapi karena kunilai ia cukup rajin maka pantas bagiku untuk memberikan gaji yang lebih untuknya.
“banyak amat mas… Lilis ga mau ah….. ga enak nerimanya…” kata Lilis ketika aku menyerahkan uang itu untuknya.
“gapapa…. Gajiku lagi gede nih…. Yah itung-itung supaya kamu bisa kirim uang ke orang tua…” kataku.
“beneran ni mas?” kata Lilis.
“iya….”
Lilis tersenyum saat itu. Manis sekali senyumnya. Aku merasa senang sekali memberinya uang lebih. Daripada uangku kuhabiskan untu kuberikan kepada wanita murahan diluar sana, lebih baik kuberikan kepada wanita yang lebih pantas. Wanita yang menugurusku.

Hubungan kami berjalan baik, normal, tanpa ada macam-macam diantara kami. Akupun tidak berani melecehkannya, karena tak ingin ia tersinggung. Paling-paling hanya sebatas menggodanya karena tubuhnya yang sexy, dan kulihat Lilis menanggapinya hanya sebatas candaan semata.
Sampai suatu hari aku jatuh sakit.
Pagi itu aku tak kunjung keluar kamar. Lilis mengetuk pintu kamarku, membangunkan aku untuk bersiap bekerja seperti biasa. Aku tak kunjung menjawab, Lilis memberanikan diri masuk ke kamarku. Ia melihat diriku masih terselubung selimut tebal.
“mas… hari ini gak kerja?” tanya Lilis.
Aku tak menjawab, hanya mengejap-ngejapkan mataku yang memerah.
Lilis mengulurkan tangannya ke dahiku. Punggung tangannya yang lembut kini menempel di kepalaku.
“astaga…. Mas sakit….” Kata Lilis.
Aku mengangguk. Lilis bergegas keluar kamar dan mengambilkan satu mangkuk air hangat dan handuk kecil. Ia mengompres kepalaku.
Kesadaranku mulai kembali. Ya ampun, aku tidur hanya mengenakan kaus dan celana dalam saja. Untunglah tubuhku masih tertutup selimut tebal. Lilis duduk disamping kepalaku. Aroma tubuhnya wangi sekali, mungkin ia baru selesai mandi. Lilis menarik lenganku ke atas pahanya dan mulai memijitku. Ia hanya mengenakan celana pendek seperti biasa, sehingga lenganku bersentuhan dengan kulit pahanya yang lembut.
“kamu sih hujan-hujanan kemaren mas…. Jadi sakit nih…” kata Lilis.
“hehe… maaf ya jadi ngerepotin kamu…. Habis nunggu hujan kelamaan…..” kataku.
“lain kali jangan gitu, kalo sakit gimana….” Kata Lilis.
Kurasakan kedua paha Lilis yang lembut dibawah lenganku.
“habis kangen sama Lilis….. jadinya aku pengen cepet pulang…” kataku.
“hahaha…. Masa kangen sama pembantu…” kata Lilis.
“yah…. Aku kan ga nganggap kamu pembantu, kamu kan temanku, sahabatku….” Kataku.
Lilis hanya tersenyum saja. Kini ia mengusap kepalaku.
Aku merapatkan kepalaku ke pantatnya.
“kenapa mas? Dingin ya?” tanya Lilis.
Aku mengangguk. Lilis meraih remote AC dan mematikannya.
“lagian Acnya dinyalain sih…. Udah tau sakit.”
Aku hanya tersenyum. Beberapa menit berlalu, keringat mulai membasahi leherku. Lilis mengambil tisu dan mengelapnya.
“nah…. Udah enakan kan mas?” katanya. Aku mengangguk.
“makasi ya Lis… sori jadi ngerepotin….” Kataku.
Lilis membuka lemari bajuku dan mengambilkan kaus berwarna coklat.
“ganti baju dulu mas… ga usa mandi, masi sakit…”
“nya ntar aku ganti….” Kataku.
“hayo… jangan ntar-ntar… apa mau di pakein bajunya?” kata Lilis.
“jangan ahh… malu…” kataku.
“ngapain malu…. Mas juga biasa ngeliatin belahan dada Lilis kan?” katanya seraya melepaskan kaus yang kukenakan.
“hehehe…. Kamu tau aja…” kataku.
“dasar… ayo duduk biar lilis pakein bajunya….” Kata Lilis seraya menarik selimutku.
Segera kutarik kembali selimutku, takut jika Lilis kaget karena aku hanya mengenakan celana dalam.
“kenapa mas?”
“Ssssssttt…. Udah nanti aku pake sendiri deh….” Kataku.
“hmm…… pasti ga pake celana ya… makanya malu….” Kata Lilis.
Aku tersipu mendengarnya, wajahku memerah.
Lilis kembali menarik selimutku sampai terlepas, kini terpampang tubuhku yang hanya mengenakan celana dalam. Penisku terlihat mengeras, bagaimana tidak. Ada seorang wanita sexy disampingku.
“hahaha….. liat tu… uda ngaceng aja… nafsu ya liat Lilis….” Katanya.
“awas ya…. Godain aja…. Awas nanti kalo aku sembuh….”
“emank kalo sembuh mau ngapain?” tanya Lilis.
“ya ngapain kek…..”
Lilis tertawa kecil. Ia meletakkan kaus yang dipegangnya dan mendekat kearahku.
“mau diobatin ga sakitnya?” katanya.
“kan ini udah enakan….., tuh keringetnya udah mulai keluar…”
“emank yang ini ga sakit?” kata Lilis sambil menunjuk batang penisku yang menegang.
“ehhhh… nakal ya…. Goda-godain aku…”kataku.
Lilis tersenyum dan mengusap lembut batang penisku dari luar.

“Shhhh… Ahhh.., geli” kataku.
Lilis merapatkan tubuhnya padaku. Kurasakan hangat hembusan nafasnya di bahuku. Kini kami berpandangan, dekat sekali. Kini aku sudah tak kuasa lagi menahan nafsu birahiku. Kulumat bibirnya yang kemerahan. Kini Lilis memasukkan tanganny kedalam celana dalamku dan mulai meremas batang penisku yang menegang.

Aku menarik tubuhnya agar merebah disampingku. Kami saling berpagutan, lidah kami beradu bagai ular yang sedang menari. Kuraba perutnya dengan jemariku. Perlahan, kuselipkan tanganku masuk kedalam tanktop berwarna hijau tosca itu. Lilis merapatkan tubuhnya, kini payudaranya yang besar menekan dadaku, lembut sekali. Kubuka kait bra yang ia kenakan.
“kamu nafsu amat ama Lilis..?” katanya. Aku hanya tersenyum.
“abis kamu sexy banget sih…” kataku.

Kait branya kini telah terlepas, kini dengan mudah kuselipkan tanganku di payudaranya. Payudara Lilis besar sekali, sehingga tanganku tak cukup untuk menggenggam seluruhnya. Kurasakan putingnya yang mulai mengeras menekan telapak tanganku.
“Aaaahh…. Geli mas…” katanya.

Lilis bangkit dari tepat tidur dan melucuti semua pakaiannya. Kini terpampang tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai benangpun yang menutupi. Ia merebahkan diri kembali di kasur, dan menarik celana dalamku agar terlepas. Kami kembali berpagutan, ciuman demi ciuman saling kami berikan satu sama lain.
Tubuh Lilis yang padat kini menempel erat di tubuhku. Keindahan tubuhnya yang selama ini hanya bisa kubayangkan, kini akan menjadi milikku.

Jangan lewatkan cerpen dewasa paling hot lainnya: Kejadian di Malam Tahun Baru.

Kuraba selangkangan Lilis yang ternyata sudah mulai basah. Cairan kenikmatan itu sudah membasahi lubang vaginanya yang tidak lagi perawan. Kuraba pelan paha Lilis, perlahan kuusap lembut kedua pahanya.
“Ahhhh… Shhhaah… geli mas..” Lilis melepas ciumannya dariku dan mendesah. Ciumanku kini mendarat di lehernya yang jenjang. Kujilat-jilat leher Lilis dan sesekali kuhisap kuat, meninggalkan rona merah di kulitnya yang putih. Lilis membasahi telapak tangannya dengan liurnya. Kini ia mengocok penisku perlahan.
“Ahh… kamu pinter banget Lis…enak.. terus Lis..” kataku.
Aku pun tak mau kalah, kini aku menggetarkan jari tenganku di klitorisnya yang sudah licin karena lelehan cairan kewanitaanya.
“Ahhhhhhh…….mas….. setubuhi aku donk….. Lilis udah ga tahan…” ceracaunya.
Tampak sekali ekspresi wajah yang sudah bernafsu di wajahnya. Mungkin karena Lilis sudah begitu lama tak memiliki kesempatan melampiaskan gairah sexsual selama bertahun-tahun.
Ciumanku kini menuruni lehernya, perlahan tapi pasti kusapu leher Lilis menuju payudaranya.
Kujilat payudara Lilis yang besar. Lembut sekali kurasaan kulit payudaranya ketika Lilis menekan wajahku. Wajahku terbenam diantara kedua belah payudaranya.
“Ahhhh…. Ssshh… isepin pentil Lilis mas….” Ceracaunya.
Kuhisap puting payudaranya yang mengacung, seakan menantang lidahku untuk beradu dengan putingnya yang berwarna kemerahan senada dengan bibirnya. Kini kumasukkan jari tengah dan jari manisku kedalam vagina Lilis. Kucocok perlahan, ia mulai meronta. Gerakan tubuhnya sungguh liar. Tangannya dengan lincah masih menocok batang penisku.
“Aaaahh……Aaaahh…… enak mas… ahhh…” Lilis mendesah seirama dengan kocokan tanganku di lubang vaginanya. Tubuh Lilis menegang, ia menggeliat bagai ikan yang baru ditangkap oleh seorang nelayan.
“Aahahhhhh……Ahhhhh….. mas…. Aku mau keluar… Ahh….” Ceracaunya.
Tak lama cairan hangat kurasakan meleleh keluar di sela jemariku. Lilis telah menggapai orgasmenya yang pertama. Gerakan tubuh Lilis mulai mereda. Ia bangkit dan mulai mengulum penisku dengan bibirnya yang lembut.
Ohh… baru kali ini aku merasakan kualitas layanan dari seorang perempuan desa. Penampilan dan tutur kata Lilis yang santun sama sekali tidak mencerminkan, betapa liar dirinya ketika berada di ranjang.
“kontol mas gede banget….. aku masukin aja ya mas..”
“Ahh..Shh… ayo Lis… aku juga udah kepengen….” Kataku.

Lilis menelungkupkan tubuhnya di atas tubuhku yang terlentang. Payudaranya yang besar kini menekan perutku. Ia mengarahkan penisku ke lubang vaginanya, ia menekan perlahan penisku memasuki lubang vaginanya yang sangat sempit. Mungkin karena sudah bertahun-tahun lubang itu tak terjamah oleh pria manapun. Perlahan penisku memasuki lubang vaginanya yang telah basah oleh cairan kenikmatan. Senti demi senti penisku kini telah tenggelam dalam lubang vaginanya yang berdenyut-denyut.
“Aaaaahhh….. Shhh…..kontol mas gede banget…..enak” ceracau Lilis ketika menggenjotkan vaginanya yang terisi oleh batang penisku.
Ia bangkit dari posisinya yang merebah, kini ia menduduki penisku yang menancap dalam divaginanya. Ia menyibak rambutnya yang hitam kebelakang. Terpampang di depan mataku dua buah payudara Lilis yang mengacung. Kugenggam keduanya dengan kedua tanganku. Lilis kembali menghujamkan penisku kedalam vaginanya berulang-ulang.
“Ahhhh…..Sshhh…. gila…. Memek kamu nikmat banget Lis…” ceracauku.
Baru kali ini aku merasakan lagi vagina yang senikmat ini sejak pertama kali aku mengambil keperawanan pacarku semasa SMA dulu. Selebihnya aku lebih sering menggunaan jasa wanita panggilan yang tarifnya cukup mahal. Kini aku tinggal dengan seorang wanita cantik yang bersedia untuk kusetubuhi, hidupku seakan sempurna hari ini.
Rasa pusing yang kurasakan kini telah berganti dengan nafsu yang menggelora. Hasratku bergejolak, ingin sekali kusetubuhi tubuh indah ini berkali-kali.
“Ahhh… mass….. aku mau sampai…..” kata Lilis.
Lilis mempercepat gerakannya. Ia kini menggenggam kedua tanganku yang meremas payudaranya. Tubuhnya menegang, vaginanya berkedut kencang.
“Ahhhhh…SSshh.. Aaaaaahhhhhhhh…….” Lilis melenguh panjang.
Kurasakan cairan kenikmatan itu menyembur melewati sela-sela antara penisku dan bibir vaginanya. Lilis jatuh terkulai dalam pelukanku setelah orgasmenya yang kedua.
Aku merebahkan tubuh Lilis diranjang, lalu kunaiki.
Kubuka lebar selangkangan Lilis dan kulihat vaginanya yang merah berkilau karena cairan kenikmatan yang meleleh dari lubang kenikmatan itu.
“ayo mas….. cepat…. Setubuhi aku lagi… aku udah ga tahan kepingin di entot lagi mas…” kata Lilis.
Ucapan Lilis yang vulgar membuat hasratku semakin menggebu.
Kutancapkan penisku memasuki vaginanya dengan sekali dorongan kuat.
“Ahhhh… mas…. Terus mas….” Ceracaunya.
Kuhujamkan penisku berkali-kali. Tak kusisakan ruang dalam vaginanya, kutancapkan penisku dengan kuat hingga seluruhnya terbenam.
“Aaahh….Ahh…” desahan Lilis bergema di ruangan itu.
Payudara Lilis bergoncang kuat ketika aku menghujamkan penisku kedalam vaginanya. Decitan suara spring bed bersahutan dengan desahan Lilis ketika aku mempercepat cerakanku.
“Ahhhhhh….mas…..terus mas…..” ceracaunya.
Melihat pemandangan itu nafsu birahiku semakin memuncak. Penisku mulai berdenyut.
“Ahhhh….Ahhhh… Lisss…. Aku mau keluar….” Kataku.
“Ahhhh…. Didalem aja mas…. Ahhh.. aku juga… mau sampai….” Kata Lilis.
Kupercepat hujaman penisku. Himpitan bibir vaginanya menguat, penisku seakan di sedot oleh bibir vaginanya. Denyutan vaginanya membuat aku tak kuasa lagi menahan spermaku yang akan menyembur.

(sfx : Crooooootttt…….Crrrroootttttt…….Croootttt….)
“Ahhhhhhh………” aku memekik tertahan.
“Ahhhh…….aaaaahhh..Aaaaaaaaahhh……” Lilis melenguh panjang ketika aku menyembutkan spermaku kedalam rahimnya. Sungguh sensasi sex yang belum pernah kurasakan. Nikmat sekali vagina Lilis, pikirku.

Aku terkulai lemas setelah mencapai orgasmeku.
Spermaku meleleh dari dalam vaginanya. Lilis masih terpejam, menikmati sisa-sisa orgasmenya yang ketiga.
“mass….. kamu kuat banget sih… Lilis sampe tiga kali dapet…”
“habis kamu sexy banget sih…. Aku jadi nafsu main berlama-lama….”
“emank biasanya main sama siapa mas?” tanya Lilis.
“sama cewe panggilan…” kataku.
“emank enak ya? Hati-hati kalo main sama cewe begitu…. Takutnya ga bersih…” kata Lilis.
“ahhh sekarang mah ngapain main sama mereka…. Kan dirumah ada Lilis…” kataku.
Lilis tersenyum dan mencubit perutku.
“kalau mas mau, tinggal bilang aja… Lilis pasti kasi kok….” Katanya.
Kami tersenyum bersama dan kembali berpagutan.

Setengah jam berlalu, kini aku dan Lilis sudah membersihkan diri dari sisa-sisa permainan kami. Aku menelpon bosku, mengabari bahwa aku sakit. Ia memaklumi, karena memang sebelum pulang kemarin aku bersamanya. Sehingga ia tau bahwa aku benar-benar kehujanan.
Hari-hari berlalu. Hubunganku dengan Lilis semakin dekat. Hampir tiap hari kami berhubungan sex. Ternyata Lilis juga menginginkannya, dia mengakui bahwa nafsu sexsualnya cukup tinggi sehingga ia sering bermasturbasi sendiri dikamar mandi ketika aku tak ada. Tapi sekarang semua sudah berubah, ketika Lilis sedang ingin, ia hanya perlu memintanya padaku. Aku senang, ia pun senang.

Cerpen Dewasa | Kini aku tak perlu lagi menyewa wanita panggilan, sehingga uangku dapat kuhemat. Sekali seminggu aku mengajak Lilis jalan-jalan. Pasti bosan juga dia berada di apartemen seharian. Terkadang kami menonton bioskop sambil bermesraan di ruangan yang gelap itu. Aku sering menawarkan untuk membelikannya baju baru, tetapi ia menolak. Ia lebih senang telanjang jika kami sedang berdua di apartemen. Ia pun kini tidur bersamaku.

Entah sampai kapan kami menjalani hubungan rahasia ini. Well… selama semuanya menikmati… WHY NOT??

END….

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*