Cerpen Seks: Karena Usia Bukanlah Suatu Masalah

Koleksi Cerita Pendek (Cerpen) Seks Terbaru 2017

Cerpen Seks Terbaru
Cerpen Seks Terbaru

Catatan penulis cerpen seks: ahhh…. ane gak pandai membuat kalimat pembuka… langsung baca aja deh.. btw ini sebenernya lanjutan dari cerpen seks ane sebelumnya yang bisa kamu baca disini. Cuma ane ga mau nyangkut paut sama ceerpen seks itu…. ini 100% ide baru.

Cerpen Seks – Karena Usia Bukanlah Suatu Masalah

Hari itu adalah hari sabtu kedua di bulan desember.

Aku sedang duduk termenung menunggu hujan reda. Lagi-lagi kesialan tak henti-hentinya menerpaku. Kulihat beberapa pasangan sedang berdiri berdempetan, wajar saja ini kan tempat orang pacaran. Aku saat ini sedang berada di kawasan taman kota di bilangan jakarta.

Cerpen Seks | Mobil BMW yang kukendarai memang sudah cukup berumur, maklum warisan orang tua. Aku yang baru lulus kuliah belum bisa mencari uang sendiri, maklum pengangguran. mobil itu mogok. Sial, pikirku. Kenapa harus saat hujan seperti ini.

Kini aku terjebak di serpihan surga yang berubah menjadi neraka.
Pasangan-pasangan itu. Mereka begitu romantis, hangat berpelukan ketika berteduh dari rintik hujan.’Lha gue???? Sendirian, kedinginan. Neraka banget daaahhh…..’

Sebentar lagi tahun baru, aku belum juga memiliki pacar.
‘Whats wrong with me??? Ganteng? Iya…. Tajir? Lumayan lah…. Gaul? So pasteeee…. Pinter? Ga juga si….’
‘Tapi kenapa sampe sekarang gue ga punya cewe??? Hiks hiks’ ratapku dalam kesendirian.

Kesepianku yang mendalam seakan tiada berakhir, ketika kudengar gemuruh awan hitam menggelegar. Hujan ini tak akan berhenti dalam waktu dekat.

‘sebenernya apa sih yang salah sama mobil tua itu….’ Batinku.
Aku merogoh saku dan mulai memainkan handphoneku. Kutelusuri satu persatu halaman di internet yang membahas tentang kerusakan mobil.

‘bahasa planet mana sih ini….azzzzzzz’
Percuma pikirku, aku tak mengerti mesin sama sekali.
‘oh guyss….. kenapa kalian ninggalin gue sendiri di sini…. Dimana kalian ketika gue lagi butuh… monyong’ umpatku.

Cerpen Seks 2017 | Dua bulan lalu, aku dan teman-temanku masih sering berkumpul. Aku masih ingat betul ketika saat itu aku menjitak kepala mereka karena mengingkari janji untuk naik ke Gunung Gede.
Biasanya Samuel selalu memiliki ide untuk permasalahan mesin seperti ini. Dia kan anak seorang montir, wajar lah. Namun apa daya, kami kini sudah terpisah. Mereka sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup nyaman menurutku, hanya saja mereka di tempatkan di luar kota.

Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat. Kulihat ada tiga lembar uang berwarna merah dan satu lembar berwarna hijau.
‘aduh…. Cukup ga ya buat ke bengkel…’ pikirku.

Aku masih terhanyut dalam lamunanku. Memikirkan bagaimana caranya aku bisa pulang.
Setengah jam berlalu, hujan mulai mereda. Satu persatu pasangan ‘setan’ itu meninggalkan halte bus tempatku berteduh.
Aku tidak boleh membuang waktu. Aku berjalan menuju mobilku yang kuparkir 10 meter dari halte.
‘apa yang salah denganmu sobat…..’ batinku.
Aku membuka kap penutup mesin mobil. Semuanya tertata rapi, tak ada kabel yang putus, air radiator penuh, accu juga masih berfungsi baik…..tidak sempat di tes, tapi aku yakin berfungsi baik, karena baru satu bulan diganti baru .
Lantas apa yang salah. Aku mulai menggaruk-garuk kepalaku walaupun tidak gatal.

“mobilnya kenapa mas? Mogok ya?”
Aku menoleh kearah suara itu berasal. Seorang wanita berdiri di belakangku, ia mengenakan celana jeans belel berwarna biru muda, kausnya yang agak longgar berwarna hitam. Ia sedang menggengam sebuah payung yang kanopiya terbuat dari plastik transparan.
“iya mba…. Saya ga ngerti mesin…. Jadi bingung….”
“coba saya liat.. kali aja saya bisa bantu.”

‘what……… cewe ini ngerti mobil…. Anjrit…. Tengsin abis dah.. masa cowo kalah sama cewe’ pikirku.
Aku mundur selangkah ketika ia mendekat kearahku. Ia membungkuk sedikit ketika melihat isi kap mesin itu. Tangannya dengan cekatan memegang mesin mobil itu disana sini.
“punya kunci busi sama lap ga mas?”
“ummm…… sebentar saya liat….”

Aku berjalan ke arah bagasi mobilku dan kubuka penutupnya. Mengecek apakah ada kotak peralatan disana.
‘Yessss…. Ada… tapi kunci busi tuh yang mana ya? Ah masa bodoh… kubawa saja semuanya..’

Aku menahan napas ketika aku mengangkat box itu. Berat juga, pikirku.
‘jangan-jangan ada kebo bunting ngumpet di box ini’ candaku.

Aku meletakkan box peralatan itu di samping wanita itu. Ia sedang merunduk memeriksa bagian mesin mobilku yang lain.
‘busyetttttt…… ini pemandangan….’ Batinku.
Saat itu kulihat perut dan payudara bagian bawah wanita itu yang langsing tersingkap ketika kaus longgar itu tertarik gravitasi.
‘alamak….. Bhnya berrenda…. Hadehhh’

“kok dibawa semua mas? Kunci busi aja cukup kok….” Katanya
“hehe… saya ga tau kunci busi itu yang mana…”
“hahaha…. Yaudah gapapa…. Nih tolong pegangin payungnya….”

Aku bangkit berdiri dan menyambut pemberiannya.
Ia kini berjongkok dan membuka box peralatan itu.

‘bangsattttt…………….. itu belahan….’
Pandanganku tertuju pada belahan dadanya yang terpampang dalam sela-sela kausnya yang longgar ketika ia berjongkok.

Aku mencoba mengendalikan fantasiku, mencoba untuk rileks dan berbicara dengan akal sehat.
“ehm…. Mba kok ngerti mesin? Mekanik ya?” tanyaku.
“bukan mas….., dulu sering nongkrong di bengkel ayah…..”
“ohhhh… bapa kamu…….. montir ya?”
“kok tau?”
“karena debar jantungku sekarang serasa sedang digeber ngeliat mba……. Hahaha”
Rayuan gombal basi meluncur dari mulutku.

“ahh si mas bisa aja….” Katanya tersenyum.
Ia bangkit berdiri menggenggam sebuah besi berbentuk pipa dengan sebuah gagang yang menyantel di lubang yang ada di samping pipa itu.

“ohhh itu kunci busi ya?”
“iya…. Businya kayaknya kendor, jadi pas ada genangan air nyiprat mungkin masuk kedalam…” katanya.
Aku hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Ia membuka beberapa busi dan membersihkannya dengan lap.

Tak lama ia memasangkan kembali busi-busi itu ke tempatnya semula.
“coba di stater mas….”
“ohh iya iya…..” kataku sambil menyerahkan payung itu kembali padanya.

Aku membuka pintu mobilku. kuputar kunci mobil itu tanpa masuk kedalamnya.

(sfx : Ngggttt….Nggggttt…Ngggtttt…) mesin mobil itu berbunyi, namun belum juga menyala.

Kepalaku melongok di sela pintu mobil.
“masih belum bisa mba…..” kataku.
“yeee… terus…. stater lagi yang lama….”

Aku pun masuk kedalam mobil dan duduk di belakang setir. Kuputar kembali kunci mobil itu dan kutahan agak lama.

(sfx : Ngggtt….Nggggtttt……Ngggggtttt…..Greeeenngggg………)
Mobil itu akhirnya menyala.
“akhirnya………….. hobaaaahhhh….” Aku berteriak dari dalam mobil itu.
“tuh….. bisa kan……” kata wanita itu.

Koleksi Cerpen Seks | Aku keluar kembali dari mobil tanpa mematikannya, kubiarkan mobil itu supaya agak panas dan mendekat kearahnya.

“aduh mba…. Makasi banget, saya ga tau nih bisa pulang apa ngak kalo ga ada mba… kenalin Tomi.”
“Naya……”
“behhh…. Nama yang bagus…. Cocok sama orangnya….”
“gombal banget…hihihi”
“ayo mba saya traktir makan deh….. itung-itung ucapan terima kasih” ajakku.
“alah ga usah gapapa… saya ikhlas kok….”
“ehhh gapapa…. Saya juga ikhlas kok….” Kataku.

Ia tersenyum dan mengangguk.
“yaudah…. Emank mau traktir dimana…?”
“terserah….. apapun permintaan nyonya akan saya penuhi….” Kataku sambil membungkukkan badan dan meletakkan tangan kananku di dada.
“hahaha….. bisa aja si mas….”

Kami tertawa bersama. Tak lama kami pun masuk kedalam mobil.
Entah akan menuju kemana.

“baju lepek gitu kok betah si?” kata Naya.
“lha masa mau ganti baju disini…… ada cewe kan malu…..” kataku.
“emang bawa baju? Ganti aja di kursi belakang….. gak di intip dehh…..”
“bawa sih……”
“yaudah sana ke kursi belakang….. tar masuk angin loh….”

Aku hanya tersenyum lebar.
Di kursi belakang yang berantakan itu memang selalu tersedia baju ganti. Maklum, petualang sejati. Harus selalu siap apapun yang terjadi.
Baju itu kutata rapi dalam sebuah tas carel hitam. Aku beranjak kursi belakang.

“awas… jangan lirik-lirik….” Kataku. Kulihat ia sesekali melirik melalui spion tengah.
“hihihi…. Iya iya……”

Canggung sekali keadaan saat itu. Aku sedang mengganti baju di mobil bersama seorang wanita yang baru aku kenal. Aku memakai baju tergesa-gesa.
‘duh…. Ni cewe ngasi kode melulu ahh…..’ batinku.

Tak lama kaus dan celana panjang sudah kukenakan.
Aku kembali merangkak menuju kursi depan.

“oke…. Sekarang nyonya mau makan dimana?” tanyaku.
“nah gitu kan nyaman diliatnya….. terserah, gak laper soalnya.”
Serba salah memang bagi seorang cowo jika mendengar kata ‘terserah’ meluncur dari bibir seorang wanita.
“yahhh… jangan gitu… trus kemana nih?”
“kalo anterin pulang aja mau ga? Traktirannya kapan-kapan aja……”
“yahh… nanti kalo ga ketemu lagi kan jadi punya utang….”
“ga usa dipikirin…..”
“duh jadi ga enak….”
Ia hanya tersenyum saja.

Aku mulai menginjak pedal gas perlahan. Mobilku yang sudah kembali normal mulai melaju.

Cerpen Seks Terbaru | Dalam perjalanan kami berbincang, mencoba saling mengenal lebih jauh. Ternyata Naya lebih tua dua tahun dariku. Ayahnya adalah seorang pemilik bengkel kecil di pinggiran jakarta. Saat hujan tadi ternyata ia baru ingin pulang selepas bertandang ke rumah saudaranya.

Wajahnya itu maaannn…… aduh, bikin setiap pria klepek-klepek. Manis dan innocent, kalau cantik sih relatif ya….. tapi dengan body aduhai dan wajah semanis itu, aku bisa memberikan nilai 8,5 untuk keseluruhan dirinya.

Sayang ia sudah memiliki pacar. Padahal kalau belum punya kan masih ada lowongan di hatiku… hahahaha……
Sesampainya kami di gerbang rumah Naya, kami bertukar nomor telepon.
Harapanya sih dia cepet putus hahahaha…… jadi mupeng deh.

Rumah Naya berada di bintaro, sebuah rumah mungil dengan halaman yang luas. Kondisi rumahnya asri sekali, tak heran karena banyak pohon yang cukup besar tertanam di halamannya. Negatifnya ya…. Jadi banyak sampah dedaunan kering.
Aku pamit dan bergegas pulang.

Masih terbayang lekat dalam ingataku, lekuk tubuhnya yang tersingkap diantara kausnya.
Uhhhh…… jadi penasaran, bisa ga ya gw dapetin dia. Pikiran kotorku mulai muncul, mungkin karena aku sudah sering berhubungan sex dengan banyak wanita.

Setengah jam berlalu, aku kini sedang membuka pintu pagar agar mobilku bisa masuk kedalam rumah. Saat itu mama sedang asyik menyapu lantai dengan ubin berwarna merah itu.
“kok lama banget pulangnya?” kata mama.
“mogok mah mobilnya….” Kataku.
“lah terus kamu bisa benerin?”
“tadi ada bidadari cantik yang bantuin mah….. duhhh… jadi naksir dalam pandangan pertama”
“haha… dasar, masuk sana… mama uda siapin makanan.

Aku memang hanya tinggal berdua saja dengan mama, karena ayahku yang jarang sekali pulang. Maklum lah, ia bekerja di salah satu perusahaan dibidang migas. Ayahku yang menjabat sebagai kepala mekanik harus siap terjun di pengeboran minyak lepas pantai. Mungkin bisa dihitung jari kepulangannya selama setahun.

Aku beranjak masuk, mama menyusulku. Kini kami duduk berhadapan di meja makan itu.
“aduhhh……. Mama emank paling tau dah kesukaan aku…” kataku. Mataku berbinar melihat setumpuk perkedel kentang di meja makan itu.
“siapa dulu dong…. Mama…..”
Aku tersenyum dan mulai mengambil perkedel itu dengan garpu.

Mamaku ini memang wanita paling pengertian. Ia selalu tau apa yang kusuka.
Aku makan dengan lahap. Cukup banyak aku makan sampai aku sulit bernapas.

“udah kenyang?”
“huuuufff………. Banget mah.” Aku menahan napas ketika bangkit dari kursi itu.

Aku berjalan gontai menuju sofa di ruang tengah. Kuraih remote TV dan mulai menyalakannya. Sebenarnya tidak ada tontonan yang menarik, namun demi melepas sepi, akhirnya tetap kunyalakan.
Aku merebahkan diri disofa. Memejamkan mata sambil mendengarkan suara orang mengoceh di TV. Perlahan aku mulai membayangkan lagi tentang Naya. Mama kini duduk disampingku.
Semakin kubayangkan, aku semakin larut dalam buaian fantasi. Seandainya bayangan ini menjadi kenyataan.

‘aduh…… mantab……. Jadi kepengen coli rasanya’ batinku.

Cerpen Seks | Aku beranjak dari sofa menuju kamar mandi, kamar mandi itu terletak di dalam kamarku. Sehingga aku tidak khawatir mama mendengar desahan-desahan maut yang meluncur dari mulutku.
Aku segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membuka pakaianku.
Kulumuri telapak tanganku dengan sabun cair, lalu menyandarkan tubuhku di dinding kamar mandi yang dingin itu. Aku mulai menggengam batang penisku yang mulai mengeras perlahan. Kupejamkan mataku, membayangkan betapa indah ciptaan tuhan bernama Naya itu.
Nafsuku mulai bangkit, aku mulai mengocok batang penisku.

“ouuhhhh……..” aku mulai mendesah pelan.
Kubayangkan tubuh Naya terikat dan tidak bisa melawan. Perlahan-lahan aku menyingkap kausnya. Payudaranya yang besar mulai menggantung. ‘jangan…. Please…..’ ia memohon. Semakin ia memohon, aku semakin menjadi-jadi. Aku menyusupkan telapak tanganku melalui sela-sela branya.
“Mmmmmm…….” Aku mulai mempercepat kocokanku.
Kupilin payudara kenyal itu dalam bayanganku. Putingnya yang mengeras menekan telapak tanganku. Aku mendekati tubuhnya dan mulai melepas kancing celananya. ‘ohhhh…… please Tom…. Jangan siksa aku……’ kuturunkan perlahan celana itu hingga terlepas. Celana dalam itu segera kutarik dengan kasar, sehingga celana dalam itu robek.
“Ssssshhhhhh mmmhh……” aku semakin larut dalam khayalanku.
Kuarahkan batang penisku masuk kedalam vaginanya yang sudah basah.
‘Aaacchhhhhh……. Tom pleaseee…..’ ia terus memohon. Namun penisku yang sudah menancap di vaginanya tidak akan kucabut lagi. Kupompa penisku keluar masuk dalam liang kenikmatan itu.

“Ohhh…Ahhhh….Ahhh……” kepalaku seakan hampir meledak. Penisku mulai berdenyut.
Kupercepat kocokanku, bayang-bayang tubuh indah Naya merasuk dalam anganku. Nafsuku semakin memuncak.

(sfx : Croooottt…….Crooooootttt…….)
“Aaaaaahhhhhhhh……..” aku mendesah ketika sperma itu meluncur ke dinding di depanku.
Puas sekali rasanya, aku semakin penasaran seperti apa tubuh Naya sebenarnya.

Aku segera membersihkan diri. Membalutkan handuk ketubuhku dan bergegas keluar kamar mandi.

Jangan lewatkan cerpen seks terbaru 2017 lainnya: Ketika Cintaku Tak Hanya Untuk Dia.

Aku membuka pintu kamar mandi dengan santai dan keluar dengan hanya memakai handuk.
“Aaaa…… mama ngapain disini?”
Betapa terkejutnya aku ketika kulihat mama sedang duduk di ranjang tidurku. Ia duduk dengan satu kaki menumpu di atas kaki lainnya, kedua tangannya ia silangkan didada.
“hayo…. Abis ngapain…?” tanya mama.
“ihh mama….. kepo deh… ini urusan kaum lelaki…..” kataku. Aku jadi salah tingkah.
“kamu onani ya?” kata mama sambil mencibirkan bibir bawahnya dan memandangku dengan curiga.
“Emmmm…. Itu…. Ahhh mama…. aku kan jadi malu…” aku masih terpaku berdiri di ambang pintu.
Mama tersenyum ia membuka tangannya yang menyilang di dadanya.
“iya iya… sini duduk….” Kata mama sambil menepuk ranjang tepat di sisi kirinya.
Aku melangkah dan duduk disampingnya.
“emank tadi ngebayangin siapa? Sampe mendesah bgitu….”
Aku menoleh dan menyeringai lebar. Aku tak tau harus berkata apa. Namun akhirnya kukatakan sejujurnya.

“haha….. masa naksir pada pandangan pertama”
“yahhh kan naksir tentang penampilan…. Ya wajar kalo pada pandangan pertama…” kataku mengelak.
“boleh sih kamu onani… tapi jangan sering-sering…..” kata mama. ia mengelus rambutku yang kini sudah agak panjang. Diumurku yang 22 tahun ini memang bisa dibilang aku anak yang cukup manja, mungkin karena aku anak satu-satunya. Aku menyandarkan kepala di pundak mama dan merangkul perutnya.
“emank kenapa mah? Abis kalo ga dikeluarin rasanya gimanaaaaa gt….” Kataku.
“yaa… mama tau rasanya, tapi kalo kebanyakan nanti tulangmu cepet keropos. Tuh liat badan kamu makin kurus….” Mama menggenggam lenganku yang merangkul perutnya.
“ini mah karena olah raga ma…. abis kalo terlalu gemuk jadi ga pede…”
“iya-iya………. Dah sana pakai baju… nanti masuk angin”

Mama beranjak dan meninggalkanku di kamar.
Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Handuk itu masih terbalut melilit tubuhku. Segar sekali udara yang kurasakan berhembus melewati sela-sela lubang jendela. Membuat mata ini terasa berat. Jam dinding menunjukkan pukul 17:00. Masih sore pikirku. Ahh biarlah.
Aku memejamkan mata, tak lama aku tertidur.

Empat jam berlalu. Aku mulai tersadar, jam dinding kini menunjukkan pukul 21:13. Aku masih mengejap-ngejapkan mata ketika aku memandag mama sedang duduk diranjangku. Ia menggengam Hpku di tangannya. Perhatiannya tak teralihkan ketika ia menyadari aku sudah terbangun.
“lagi ngapain ma?” tanyaku dengan suara parau seraya mengucek mata.

Aku merangkak mendekati mama dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. Aku kembali memejamkan mata.
“dapet video darimana?” tanya mama.
Seketika itu mataku terbelalak.

“ihhh….. mama kok nonton bokep….” Kataku.
Aku bangkit dari pangkuan mama, dan duduk di sampingnya.
“abis tadi Hpmu ngegeletak di ruang tengah, jadi mama liat-liat aja”
Aku melongok video yang mama tonton. Hampir selesai, aku hapal betul cerita itu, sebentar lagi pria di film itu akan mencabut penisnya dan mengeluarkan sperma di bokong wanita itu.
“itu mah kurang greget ma…. ada yang lebih mantep lagi… ”

Saat itu kami menonton video itu bersama-sama, aku sangat mengerti keadaan mama. ia kesepian karena ayah jarang pulang. Mungkin terkadang ia masturbasi juga dikamarnya. Video demi video kami tonton. Diam seribu bahasa, mata kami tak beranjak dari layar handphone itu.

(sfx : tot… tot…)
Baterai handphoneku melemah.
“yahhhh lagi seru-serunya tuh….” Kataku.
“iya nih…. Nanggung….”
“mah…… mama juga suka masturbasi ya?”
“kadang-kadang… kalo udah ga tahan…..” kata mama.
“mah… Tomi lagi kepengen nih….. kita main yuk mah…..” kataku.
“ehhh kamu…. Masa sama mama sendiri… ada-ada aja ihh……”
“ya ilah ma….. sebentar aja…..” aku merajuk dan memeluk pinggang mama. kepalaku kusandarkan kedadanya. Mama hanya terdiam tanpa reaksi.
“aduh…… kamu ada-ada aja sayang… jangan ahh dosa….” Mama mengusap kepalaku.

“udah ahh… mama mau tidur dulu ya sayang…..” kata mama.
“yaudah deh….. met tidur ya ma…”
Aku memandangi lekuk tubuh mama yang sintal ketika ia berjalan keluar dari kamarku. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, bentuk tubuh mama memang sudah agak kendur. Payudaranya tidak lagi membusung, pantatnya pun mulai datar. Tapi karena badannya yang langsing dan kulitnya yang putih, tetap saja sexy dimataku.

Aku kembali merebahkan diri di kasur itu. Aku berpikir, kok bisa-bisanya aku mengajak mama bersetubuh. Apa aku sudah gila. Apakah aku menjadi seorang hypersex.

Ahh sudahlah, yang penting ia tidak marah.
Aku berjalan menuju meja disudut kamarku. Mengambil charger untuk mengisi baterai yang sudah melemah pada handphoneku.

Kutancapkan kepala charger kedalam soket yang berada di samping handphone, lalu kuletakkan diatas meja. Hari sudah malam, tapi aku baru saja terbangun dari tidurku. Mataku kini terjaga, tidak bisa terpejam walau hanya satu menit.

Dalam kebosanan aku berpikir. Apa yang bisa kulakukan malam ini.
‘kayaknya download film boleh juga’ pikirku.

Cerpen Seks Seru | Aku segera menyalakan komputerku, kutekan tombol merah besar berbentuk bundar di bagian depan CPU. Suara berdengung mulai terdengar ketika lampu indikator berwarna merah itu menyala. Di tengah layar monitorku kini muncul gambar sebuah bendera kecil berkibar di tengahnya.
Aku bangkit dan berjalan kedapur. Mencari makanan kecil apapun yang bisa kutemukan.

Didalam lemari pendingin aku menemukan keripik kentang dan setengah kotak strawberry. Aku mengambil keduanya dan membawa kekamarku.
Oh iya…. Minumnya belum, pikirku.
Aku kembali berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air es dari pintu lemari pendingin.

Ketika aku berjalan menuju kamar, kulihat lampu kamar mama baru saja dimatikan.
Sepertinya ia bersiap untuk tidur.

Kini aku sudah duduk kembali di depan komputerku.
Kugenggam mouse komputer berwarna merah itu lalu kuarahkan cursornya menuju pojok layar. Aku meng-klik icon rubah api berwarna merah. Tak lama browser pun siap sedia untuk berselancar di dunia maya.

Kubuka beberapa situs dalam tab berbeda dan mulai menyeleksi.
‘bedeh……. Mantab yang ini….. wuihh yang ini juga….. ini juga… bahh… ini dia yang ane cari’ begitu gumamku.
Tanpa pikir panjang kudownload semuanya sekaligus.
Layar program downloader kini terpampang. Dengan beberapa kolom kosong yang kelamaan terisi warna hijau. Estimasi waktu menunjukkan sekitar satu jam lagi sampai proses download itu selesai.

Aku merebahkan diri kembali di kasur.
‘mama udah tidur blom ya?’ batinku.
Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mama. pintunya tak tertutup rapat.

Aku mengintip kedalam.
‘holyyyy shitttt……..’
Sexy sekali pakaian yang dikenakan mama. ia memakai kimono tipis berwarna merah tanpa pakaian dalam. Mungkin ia merasa panas, pikirku.
Handuk yang kukenakan lama kelamaan menonjol dibagian penisku. Aku tak kuasa melihat pemandangan ini.
‘masuk ahhh……’ pikirku.
Aku membuka pintu dan berjalan melewati ambang pintu itu. Kututup perlahan daun pintu itu dan berjalan mendekati mama.

“mah…. Udah tidur belom?” tanyaku,
“mmmmhhh…..” ia hanya menggumam dan tetap terpejam.
Aku naik ke atas ranjang itu dan merebahkan diri disebelah mama.
Ku peluk tubuh mama dari belakang. Ohh hangat sekali.

Aku merangkulkan tanganku di pinggang mama. perlahan aku mulai menjulurkan tangan, bergerilya menjelajahi lekuk tubuh mama yang sintal. Kini tanganku sudah menyentuh kulit perutnya.

Kuusap lembut perut mama dan kucium tengkuknya.
Aroma rambut mama begitu harum. Aku memeluk tubuh mama erat dan mendekatkan tubuhku. Dadaku kini menempel di punggung mama.
Penisku menegang keras dan menyembul melewati sela-sela handuk berwarna biru tua itu. Ujung kepala penisku menempel di belahan pantat mama.
Mama masih terdiam dan memeluk gulingnya. Perlahan-lahan tanganku mulai menyelusup dibawah kimononya. Senti demi senti rabaanku naik kepayudara mama.
Aku merasakan bulu kudukku merinding ketika menyentuh gumpalan daging kenyal bagian bawah itu. Lembut sekali.
Tanganku kini sudah berada di belahan dada mama.

Tiba-tiba mama menyergap tanganku. Ia menggenggam tanganku dengan sebelah tangan.
“sudah malam ini…. Ayo tidur….” Katanya. Ia mendekap erat tanganku yang terhimpit oleh kedua payudaranya yang besar.
“aku kan baru bangun mah… belum ngantuk…” kataku.
“mmmm yaudah……” kata mama. ia melonggarkan dekapannya pada tanganku.

‘cihuuuuyyy….. lampu ijo ini mah….’ Batinku.
Tanganku kini perlahan menyelusup, menaiki gundukan daging kenyal itu.
Kuremas pelan payudara mama, kunikmati betapa lembut tubuh mama. perlahan puting mama mulai mengeras. Aku memilin puting mama perlahan dan memainkannya dengan jariku.

“Sssshhhh….Ahh… geli sayang…..” kata mama. ia masih terpejam.
Ia membalikkan badan dan terlentang.
Aku mengalungkan tangan kanan mama ke leherku. Kudekatkan wajahku menempel di ketiak mama. kedua dada mama kini menonjol di bawah kimono merah yang ia kenakan.
Aku masih mengusap sebelah payudaranya.

Mama menolehkan wajah kearahku. Kulihat ekspresinya yang masih tenang, namun deru nafasnya mulai tidak teratur.
“mah…. Aku mau nenen dong….” Bisikku.

Mama tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil tetap terpejam.
Perlahan aku menyingkap kimono mama kekiri dan kekanan, membuka lekuk payudara mama yang kini tak terbalut busana.
aku mulai menjelajahi lekuk tubuh mama dengan sebelah tangan. Kulitnya sangat bersih, walaupun kini sudah tidak begitu halus, namun cukup kencang.
Aku mendekatkan wajahku ke payudara mama dan menjilat putingnya.

“mmmmhh…” terlihat reaksi pada raut wajah mama. ia memejamkan matanya dengan kuat.
Kumainkan lidahku memutari puting susu mama yang berwarna cokelat muda. Perlahan tonjolan itu mulai menegang dan mengacung seperti penghapus pada sebuah pinsil.
Kuhisap perlahan puting itu sambil memainkan puting lainnya dengan jemariku.

Tangan mama bergerak, ia merangkulkan tangan kanannya di pundakku dan mulai mengusap bahuku. Nampak ia cukup menikmatinya.
Aku melepaskan jemariku dari puting mama dan mulai menyusuri perutnya. Tangan kiri mama kini menggantikan peran tanganku. Ia memilin-milin putingnya, meremas kuat payudaranya.
Sementara tanganku mulai menyusup diantara paha mama. paha mama yang terkatub rapat kini mulai merenggang. Ia membuka pahanya agar tanganku lebih leluasa meraba belahan vaginanya.

Jemari tanganku terus merabanya, kuusap paha mama yang putih, perlahan-lahan mulai mendekati vaginanya.
Vagina mama belum basah kurasakan kedua belahannya masih menempel.
Perlahan kubuka belahan itu dengan kedua jariku sementara aku terus mengulum putingnya.

“Uuuuuuhhhh…. Sayang…” mama mendesah manja.
Aku mulai meletakkan jari tengahku diantara lipatan itu, kugesek-gesekkan jariku perlahan. Tubuh mama mulai menggeliat.
Ia menekan kuat wajahku yang terbenam di payudara kanannya, kedua paha mama kini kembali merapat. Mengapit tanganku berada di vaginanya.
“Aakkhh………Mmmmmmhhh…” desahan dan gumaman yang keluar dari bibirnya begitu syahdu terdengar di telingaku ketika aku memainkan klitorisnya.

Vagina mama mulai basah, cairan kenikmatan itu mulai meleleh keluar dari lubang vaginanya. aku melumuri tanganku dengan cairan itu dan kumainkan kembali klitorisnya.
Paha mama kembali terbuka, kini lebar sekali sehingga aku dengan leluasa mengusap klitoris mama. cairan itu membuat jemariku mulai licin dan bisa bergerak dengan cepat.

“Aaahhhhh…..sayanng….Aahhhh” mama mendesah dan menggeliat menerima rangsangan itu.
Perlahan kulumanku pada putingnya berubah menjadi jilatan. Aku merangkak kebawa tubuh mama sambil menyusuri lekuk tubuhnya dengan lidahku.

Perlahan, sapuan lidahku mencapai bibir vaginanya. aku menjilat vagina mama yang basah dengan rakus. Kuhisap klitorisnya dan kumasukkan lidahku kedalam lubang itu.

“Aaaakkhh…..Ahhhhh……sayy…aang…..Ahhhh….” ceracaunya.
Senang sekali hatiku melihat mama begitu menikmati permainan ini, mungkin ini bisa menjadi obat pelampiasan nafsu mama yang sekian lama terbendung menunggu kepulangan ayah.

Kini kumasukkan dua jariku kedalam liang vagina mama. perlahan-lahan kugerakkan keluar masuk selagi aku menjilati klitorinya.
Cairan kewanitaanya membuat kulit jemariku menebal, seperti melepuh. Aku mengocok vagina mama, semakin lama semakin cepat. Membuat desahan yang keluar dari bibir mama kini berirama cepat.

“mmph..Ahh..Ahhh…Ahhh…..Ahhh” ia mendesah seraya meremas kedua payudaranya.
Tubuhnya mulai menegang, mama menggoyangkan pinggulnya naik turun. Menekan klitorisnya semakin erat ke lidahku. Ia menginginkan lebih.
Aku menambahkan satu jari kedalam vagina mama dan kupercepat jilatan serta kocokanku.
“mmmmmmmmppppphh……..Oooohhhhh” lenguhan mama mulai tak terkendali.
Ia menekan erat kepalaku dengan tangan kirinya.

“mmmmppppppahhhhhhh…..Ahhhhhhhhhh……” tubuhnya menegang, cairan hangat itu menjembur diwajahku. Lubang vagina itu mencengkeram kuat ketiga jariku. Ia telah mencapai orgasmenya.
Perlahan kuturunkan kecepatan kocokanku dan kulepaskan jemariku dari cengkeraman lubang itu.
Mama masih terengah-engah, mengatur napasnya kembali normal. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Aku membaringkan tubuhku di atas tubuh mama. kutempelkan kepalaku di dadanya.

Terdengar jelas di telingaku, degub jantung mama yang berdebar hebat. Ia memelukku erat.
“nakal kamu ya…… mama sampe dibuat kelojotan gini….” Katanya.
“enak ga mah?”
Ia tersenyum dan mengangguk.

“mah…. Tomi mau masukin mah….. udah ga tahan nih….”
“dasar….. yaudah masukin gih….” Kata mama.

Aku bangkit dan menumpukan tubuhku dengan kedua tangan. Mama membimbing penisku memasuki vaginanya.

(sfx : Srettt…..)
“Aaakkkhhh……” mama memekik.
Lubang vagina yang sudah basah itu kumasuki dengan mudah. Kini aku bertumpu pada kedua siku dan mulai mengulum puting mama.

“Ssshhh…… memek mama enak banget mah…..” kataku.
Kupompa perlahan penisku yang dicengkeram oleh lubang itu.

“mmmppphh….Ssshhh…….mmm…..” gumaman mama mengikuti irama gerakanku.
Sungguh tak kukira, aku kini sangat menikmati persetubuhanku dengan mamaku sendiri.

Mama merangkulkan kedua tangan dan kakinya ke tubuhku.
Gerakanku semakin cepat. Batang penisku yang mengeras menghujam kedalam vagina mama.

Mama menarik tubuhku agak keatas. Ia mengecup bibirku yang berlumuran cairan kewanitaanya. Ia menjilati bibirku, membersihkan sisa-sisa cairan itu dan mulai menciumku dengan liar.

“mmmphh…Mpphhh…hhhh..Mpphh…” kami berdua bergumam dalam hembusan nafas kami yang hangat ketika kami berciuman.
Dekapan mama yang hangat membuat nafsuku bangkit. Aku menghujamkan penisku semakin dalam. Nikmat sekali, tak kukira liang kewanitaan yang dulu melahirkanku begitu nikmat. Aku mulai terbuai dalam permainan kami. Gerakanku semakin cepat.

Tubuh mama mengeliang mengikuti irama gerakanku. Vaginanya mulai berdenyut mengcengkeram batang penisku
‘gila…… memek mama ternyata lebih legit daripada wanita panggilan’ batinku.

Semangatku menggelora, keringatku mulai bercucuran.
“Aaaaaaahhhhhh….Aaaaahhhh…..Aahhhhh…” mama melepaskan ciuman kami dan mulai mendesah hebat. Ciumanku beralih ke leher mama. kukecup kuat dan kujilat leher mama.
Meninggalkan rona merah di kulitnya yang putih.

Penisku mulai berdenyut hebat. Sebentar lagi aku akan orgasme.
“mmaahh…..Ahhh…haaaahhh…..aku mau….kaluar….”
“jangan dulu…..Ahhhh.. mama belum….sampai….”
Aku menahan luapan birahi itu sekuat tenaga.
Aku menahan napas ketika terus menghujamkan penisku kedalam vagina mama.

Mama meremas pundakku dengan tangannya, kedua kakinya mencengkeram kuat pinggangku.
Tubuhnya sudah menggeliang tak tentu arah.
“Ahhhhh…ahhh..Ahhh.Ahhh…..Aaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh…” ia melenguh bersamaan dengan menyemburnya cairan kenikmatan itu. Orgasmenya sudah tiba.

“mm…mahh……aku mau keluar….” Kataku.
Mama mengcengkeram tubuhku lebih kuat.

(sfx : Croooottt….Crooooottt…..Crooottt)
Kutancapkan penisku sedalam mungkin ketika aku menyemburkan spermaku.
Kurasakan cairan itu tumpah dalam rahim mama. cairan putih itu meleleh keluar dari sela kemaluan kami ketika penisku masih kutancapkan didalam vagina mama.

“mama emank the best……”
“Ahhh……..Ahhh…….. udah belum sayang?” tanya mama.
Aku mengangguk, kulepaskan penisku dan mulai merebah disamping mama.

Mama tetap terlentang tak bergerak. Nafasnya masih terengah-engah.
“nakal kamu ya……” kata mama dalam sela nafasnya,
“abis aku ga tahan liat mama…..mama sexy banget….”
Ia kini memiringkan tubuhnya kearahku.
“punya kamu gede juga sayang…… ” kata mama. ia meraih batang penisku yang sudah mulai melemas. Diremasnya pelan batang penisku.
Aku membenamkan wajahku di dada mama. bibirku sangat dekat dengan putingnya yang masih mengacung.
Kuhisap puting mama dan kupeluk erat tubuhnya.

Aroma tubuh mama yang harum, kini bercampur dengan keringat.
Remasan demi remasan yang dilakukan mama, perlahan membuat penisku kembali mengeras.
“mah…. Masih mau lagi ga?”
“ehhh…… kamu masih mau nambah?”
Aku mengangguk. kuraih sebelah paha mama dan kuangkat dengan tangan kananku.
Mama mengarahkan penisku dengan jemarinya.

(sfx : Slep…)
Penisku kembali menerobos lubang kenikmatan itu.
Dalam posisi miring berhadapan, kugerakkan pinggulku. Penisku bergerak keluar masuk lubang kenikmatan itu.
Mama mulai memeluk dan mencium bibirku.
Ranjang itu berderit ketika kami bergerak.

“Ahhhhh……Mmmmm…..Ahhhh….” desahan kami bersahutan.
Kutarik tubuh mama untuk merebah di atas tubuhku. Payudara mama yang besar kini menekan dadaku. Lembut sekali.
Aku menggerakkan pinggulku naik turun.

“mmmhhh…Ahhhh…Ahhhh….Ahhhh….” desahan mama terdengar lagi.
Mama kini menjilati dadaku. Sapuan lidah itu membuatku bergetar. Kuhujamkan penisku semakin cepat dan kuat.

“Ahhhhh……Ahhhhhhhhhhhhh……” desahan mama mulai berubah menjadi lenguhan.
Bulu kudukku merinding ketika sapuan lidah mama mendarat di putingku. Ia mengulum dan menghisapnya.
Tanganku menyelusup diantara tubuh kami. Kucengkeram kuat kedua payudara mama dengan tanganku.

“sayang…….mama…..udah ga kuat…..Ahhhhh….Ahhhhhh……”
Vagina mama berdenyut hebat. Cengkeraman itu membuat nafsuku memuncak.
Kupercepat gerakanku ketika kurasakan penisku mulai berdenyut.

“Ahhhhhh…Ahhhhhhhh……….Ahhhhhhhhhhhhhhh……….” mama melenguh panjang.
“mmaaaaaaaaaahhh……Ahhhhhh…” aku memekik.
(sfx : Crooooottt…..Croooott…Crooott…)
Spermaku kembali menyembur dalam liang vaginanya. orgasme kami datang bersamaan. Mama terkulai lemas dalam pelukanku. Kurasakan denyutan vaginanya masih terasa pada penisku yang menancap.

“sayang….. tidur yuk……” kata mama.
Aku mengangguk. kurebahkan tubuh mama disamping tubuhku.
Rasa lelah menjalar pada tubuh kami, kantukku kembali menyerang.

Kupejamkan mataku dalam pelukan mama yang hangat.
Tak lama kami tertidur.

(kriiinnngggg……………..)
Pagi menjelang, kami berdua terbangun oleh suara dering telepon. Mama segera bangkit, dengan langkah kaki yang masih gontai ia berjalan menuju telepon itu.

“halooo…..” kata mama.
‘halo mah…. Ini ayah……, baru bangun ya?’
“iya…. Ada apa yah… tumben pagi-pagi telepon…”
‘iya …. Ayah mau ngabarin, kepulangan ayah ditunda…. Ada masalah mesin di pengeboran….’
“ohhh… yasudah…. Ayah fokus kerja dulu….. jangan lupa makan yah….”
‘iya…… makasih ya mah…. Ayah balik kerja lagi….’
“oke yah…..”

Mama menaruh kembali gagang telepon itu ketempatnya.
“ayah ya mah?”
Mama mengangguk, matanya masih sayu karena kantuk. Ia kembali merebahkan diri bersamaku.

Setengah jam berlalu, kini kami telah terjaga. Permainan dengan mama semalam benar-benar membuatku lelah. Aku berjalan menuju ke kamarku.
Kulihat file video yang kudownload semalam sudah selesai, aku segera mematikan komputer itu tanpa menonton video yang kudownload.

Aku bergegas memasuki kamar mandi dan membersihkan diri.

Selepas mandi, badanku kembali segar. Aku keluar menghampiri mama di dapur. Ia telah menyiapkan sarapan untuk kami.
“pagi mah……” kataku.
“pagi sayang…..” ia membalas.
“mama udah mandi?”
“udah…… abis keringetan banget… badan mama jadi lengket…”
“sampe tiga ronde sih…..” kataku.
“huuuu…. Kamu yang mulai……” mama mencibirku.
Aku hanya tersenyum saja.

“kirain mama belom mandi…. Abis kimononya masih yang semalem….”
“ahh dirumah kan Cuma ada kita berdua…. Biarin aja….kamu sendiri Cuma pake handuk doang….”
Kami berdua tersenyum. Mama mengambilkanku sepiring nasi, kami mulai sarapan.

Cerpen Seks 2017 | Dalam sela-sela sarapan itu kami berbincang. Ternyata mama tidak keberatan menerima permintaanku semalam. Aku senang, sekarang aku tidak perlu lagi berhubungan dengan wanita-wanita yang tidak jelas. Sudah ada mama yang siap memenuhi permintaanku.
Lagipula mama juga kesepian, hasratnya selalu tertunda. Seperti pagi ini, lagi-lagi ayah harus menunda kepulangannya, ia harus tinggal lebih lama karena pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Nasi di piring kami sudah habis. Aku meminum air di gelas kaca yang disediakan oleh mama.
“mah…… main lagi yuk….”
“ehhhh…. Kok kamu jadi ketagihan gitu main sama mama…..”
“abis mama menggoda banget sih….”
“apanya yang menggoda…… tete mama aja udah peot begini….” Ia menyingkap kimononya, membuat kedua payudara itu menyembul keluar.
“tetep aja mama bikin horny…. Mama kan cantik… putih…” kataku.

Wajah mama merona, aku mendekatinya dan mengecup bibirnya.
“masa di dapur sih sayang…..”
“aku udah ga tahan mah…… pengen ngentot sama mama……” kataku.
Aku segera menarik tubuh mama untuk berdiri, kubalikkan tubuh mama membelakangiku. Ia menundukkan tubuhnya dan bertumpu pada meja.

Kuarahkan penisku menuju vagina mama.
(sfx : Sleppp…..)
“Aaakkkhh….. sabar sayang….”
Kumasukkan penisku kedalam vagina mama yang masih belum basah. Kurasakan penisku bergesekan didalam lubang itu.
“Aaaaahhhhssss…… keset banget mahh….enak….” ceracauku.
Aku mulai memompa penisku perlahan.

“Aaaakkhh…..Mmmmmhhh…” mama mendesah.
Perlahan vagina itu mulai basah. Kini aku dengan leluasa menggerakkan penisku maju mundur.
Kuraih kedua payudara mama yang berguncang karena gerakan kami.

Kuremas kuat kedua payudara itu. Puting mama kuselipkan antara jari telunjuk dan jari tengahku. Ohhhh…… nikmat sekali.
“mahhh……. Enak banget mah……”
“Aahhhh…… terus..sayang..Ahhhhh….Ahhhhh……. genjot terut…..”
Mama menekan tubuhku kebelakang dengan pantatnya, penisku kini masuk semakin dalam.

Hujaman demi hujaman kulancarkan. Perlahan meja makan itu bergeser dari posisinya. Gelas-gelas di atas meja itu saling beradu, menciptakan suara gaduh.

Mama mengulurkan tangan ke selangkangannya. Ia mengusap klitorisnya dengan jemari tangan kirinya.
Aku mencengkeram erat tubuh mama dan terus memompa penisku.

“Aaaaahhhh……Aaaahhhhhhh………”
Mama tertunduk. Dahinya menyentuh bibir meja itu.
Vagina mama berdenyut kencang.

“mmaaahhh…… memek mama sempit banget….”
“ahhhh…… terus sayang……. Enak sayang…..”
Aku mempercepat gerakanku. Gesekan antara penisku dengan vaginanya semakin nikmat.
Penisku mulai berdenyut.

Tubuh mama menegang.
Usapan jemari mama di klitorisnya sesekali menyentuh buah penisku. Usapan itu cepat sekali, sepertinya mama mengejar orgasmenya yang sebentar lagi tiba.

“Aaaaaahhh………Aaaaaaaahhh…Oooohhhhhh….” mama melenguh.
“maaahh… aku mau keluaaar…..”

Kudekap erat tubuh mama.
Cengkeraman erat di penisku membuat nafsuku meledak. Aku mempercepat hujamanku, semakin cepat dan kuat.

“AaaaaAAaaaaahhh…. Sayang…Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…” mama melenguh panjang.
“Aaahh….Aaaaaaaaaahhh..”

(sfx : Crooootttt…….Croooottt…..Crooott….)
Spermaku kembali membasahi rahim mama.
Lututku mulai lemas, kakiku bergetar menerima orgasme yang begitu cepat.
Aku menarik tubuh mama untuk duduk di kursi. Penisku masih menancap dalam vaginanya.

Ia menyandarkan tubuhnya ke tubuhku. Kukecup lembut lehernya.
“mahhh…. Enak ga ngentot sama aku?”
“hhhh….enak banget sayang….. kamu bisa puasin mama sebanyak kamu mau…. Asal selama ayah ga ada ya…..”
“Ngomong-ngomong kalo mama hamil gimana…..?”
“mama kan pasang KB…. Gak akan hamil kok…”
Aku mengusap payudara mama dengan gerakan memutar. Payudara mama yang dalam kondisi normal agak kendor, kini masih menegang. Puting susu itu mengacung seakan menantang.

“udah yuk sayang….. mama capek….” Kata mama.
“iya mah…aku juga….”

Kami menyudahi permainan itu.
Aku kembali kekamarku, kuraih handphone yang tergeletak di atas meja. Baterainya sudah penuh.
‘ehhh…. Ada sms…’ batinku.

‘Tom… sibuk ga? Katanya mau traktir?’
Ternyata dari mbak Naya. Aku segera membalas sms itu.
Kami janjian bertemu di sebuah mall di jakarta selatan.

Aku segera memacu mobilku menuju kesana. Hari ini aku akan bertemu kembali dengan bidadari penolongku. Mantabbbb……….^^

Sesampainya disana, aku menunggu di pintu masuk selatan. Disana ada sebuah bangku panjang, aku duduk disana.

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba sepasang tangan menutup mataku.
“tebak siapa?”
“ya pasti malaikat penolongku dong……” kataku.
“gombal………” kata Naya sembari melepaskan tangannya dari tanganku.

Kami berdua memang cepat akrab. Naya memang seorang yang memiliki pribadi cepat bergaul. Tutur katanya lemah lembut, sopan, dan santun. Membuat dirinya seakan tidak asing dimata setiap orang.
“mau ditraktir dimana nih?” tanyaku.
“terserah…..”

kata-kata sakti itu lagi.
“Yaudah, kita makan di sana mau ga?” aku menunjuk sebuah restoran berlambang kepala sapi di pojok pintu masuk.
“boleh……” jawabnya.
Kami pun bergegas masuk.

Setengah jam berlalu.
Berbincang dengan Naya memang mengasyikkan. Wawasannya begitu luas. Tak heran ia lulus kuliah dengan cepat. Naya bercerita, ia sedang bertengkar dengan pacarnya. Pacarnya selingkuh, maka dari itu ia tidak segan mengajakku jalan. Mungkin ingin balas dendam.

Setelah makan, kami bergegas keluar. Kami berjalan bergandengan seakan seorang kekasih.
“mba… mau nonton ga?”
“emank ada film apa?”
“ga tau…. Kita liat aja dulu yuk….”
“boleh……”

Perlahan kami menyusuri jalan menuju bioskop di lantai paling atas. Menaiki eskalator dan memandang sekeliling. Kami bercengkerama sangat akrab. Terkadang Naya menunjuk sebuah toko. Katanya ditoko itu menjual buku-buku yang bagus.
Pantas saja wawasannya luas, ternyata ia senang membaca buku.
Beda sekali denganku, dulu buku pelajaranku malah kujadikan bantal

Tak lama kami sampai di tempat yang dituju.
Pintu masuk dari kaca itu membuka otomatis ketika kami mendekat.
Udara dari dalam menyeruak keluar. Wangi popcorn begitu terasa, khas sekali seperti aroma bioskop dimana-mana.

Kami masih bergandengan ketika berjalan menuju pembelian tiket.
Naya menunjuk sebuah film yang menurutnya bagus.
Sebenarnya aku kurang menyukai film ber-genre romantis. Tapi tak apa lah. Demi menyenangkan hatinya akan kuturuti.

Waktu kedatangan kami pas sekali, film itu dimulai tidak sampai lima belas menit lagi.
Kursi yang tersisa saat itu cukup banyak, tampaknya orang-orang kurang menyukai film ini.

Aku segera membeli dua buah tiket tanpa menanyakan tempat duduk.
Setelah membayar, kami segera menuju pintu theater yang dimaksud.
Aku mengecek tiket kami. Tempat duduk kami di baris A.

“hah? Paling atas?” kataku.
“emang kenapa kalo diatas? Tadi gak milih tempat?”
“iya, aku main bayar-bayar aja…..”
“yaudah gapapa….. yuk masuk.”

Tangan kami saling menggengam erat ketika kami menaiki anak tangga di tengah hamparan kursi itu. Menuju baris paling atas yang ternyata tidak dihuni seorang pun. Rata-rata orang memilih bangku di baris tengah.

“waduh…..kok jadi mojok begini?”
“gapapa… biar romantis….”

‘eeeee….. dia ngasi kode….’
Kami duduk berdampingan. Mengatur posisi duduk kami agar cukup nyaman.

Tak lama film dimulai. Ternyata kami adalah orang terakhir yang memasuki ruangan itu. Sepi sekali di dalam. Hanya ada beberapa pasangan yang duduknya saling berjauhan. Kami dengan leluasa bisa melihat mereka dari deret paling atas.

Naya memperhatikan dengan seksama film itu, namun lain denganku. Aku sama sekali tidak bisa mencerna alur ceritanya.
Membosankan, begitu pikirku.

Aku mulai mengusap punggung tangan Naya.
Kulitnya halus sekali. Lembut bagai kain sutera.
Naya menengok kearahku dan tersenyum.

“bosen ya?” kata Naya berbisik
Aku mengangguk.
“kalo aku sih udah tau jalan ceritanya dari baca novel..” katanya.
“aku gak ngerti sama sekali…hihihi….” Aku ikut berbisik.

Kami menyandarkan tubuh kami agak naik.
“lho? Pada kemana nih orang” tanyaku. Saat itu kulihat tidak ada satu kepalapun menyembul dari balik punggung bangku-bangku itu.
“sssttt….. mereka lagi mesra mesraan” kata Naya.
“gila…. Kalo keliatan orang gimana….” Kataku berbisik.
“makanya jangan berisik….”

Naya menyandarkan kepalanya dibahuku.
“sayang ya mba udah punya pacar…..”
“emank kenapa?”
“aku kan masi jomblo….ahahah”
“yaudah si jalanin aja……”

Aku menoleh kearah Naya. Ia pun menoleh kearahku.
Mata kami menyatu, kami saling berpandangan. Perlahan kami saling mendekatkan wajah.
Bibir kami menyatu.

Bibir Naya yang lembut kini melumat bibirku.
Tak kusangka ia begitu agresif. Aku memberanikan diri meraba pahanya yang dibalut rok sebatas lutut.

“mmm….” Ia mendesah pelan.
Lidah kami bertautan. Kami merundukkan posisi duduk kami. Saat ini alur cerita di film itu sudah kami lupakan. Kami larut dalam percumbuan yang semakin panas.
Perlahan aku mulai menyingkap roknya.
Jemari tanganku kini meraba kulit pahanya yang halus.
Ia membalas meraba selangkanganku. Penisku yang sudah mengeras ia genggam dari balik celana.
“sssshh..mm..” aku mendesah pelan dalam ciuman kami.

‘Ahhhh…….’ Kami mendengar suara memekik dari kejauhan.
Tampaknya para pasangan itu sudah berbuat lebih jauh.

Perlahan Naya mulai menurunkan resleting celanaku. Ia mengeluarkan penisku yang mengeras dari penjara yang membelenggunya. aku tak mau kalah. Kususupkan tanganku di antara celana dalamnya. Kuraba bulu-bulu lembut yang tumbuh disana.

Perlahan jemariku menggesek klitorisnya. Ia mengeliang pelan. Diremasnya batang kemaluanku yang menegang kuat.

Tanganku kini mulai menyusup dibalik kausnya, mengaduk-aduk apa yang ada di balik kaus merah itu. Kuselipkan jemariku di dalam branya.
“sshh…. Toket mba gede banget…” kataku berbisik.
Ia hanya tersenyum. Ia menundukkan badan dan mulai mengulum penisku.

Kurasakan bibir dan lidah itu begitu lincah memainkan batang penisku yang mengacung tegak.

Jemari tanganku mulai memasuki liang vagina yang telah basah itu.
“mba….aku ga tahan nih….”

Ia melepas kulumannya. Sandaran tangan di antara tempat duduk kami naikkan agar ia bisa merebahkan diri.
Aku membuka selangkangannya lebar-lebar.
Kusingkap celana dalam itu tanpa melepasnya. Lubang kenikmatan itu sudah terpampang didepan mata.

Kutindih tubuh Naya dan kumasukkan penisku perlahan.
“mmhh..” ia mendesah.

Kugerakkan penisku perlahan, keluar masuk.
Kunikmati sensasi berhubungan sex di tempat umum yang belum pernah kurasakan.

Mulut Naya terkatub rapat. Ia tidak ingin desahan-desahan liar keluar dari bibirnya.
Aku menyingkap kausnya dan mulai menjilati dadanya.

“mmhh…mmhhh…mhh..” ia mendesah di sela nafasnya
Aku tidak berani untuk menaikkan tempo gerakanku. Khawatir ia akan mendesah keras.

Perlahan-lahan aku memompa penisku.
Detik demi detik yang kami lewati dalam ruangan gelap itu sangat kami nikmati. Perlahan, keringat mulai mengucur. Udara pendingin ruangan tak sanggup menahan kobaran asmara diantara kami. Vaginanya mulai berdenyut. Mengcengkeram lembut kejantananku.

“mm….hh..” ia mendesah begitu pelan, sangat berkebalikan dengan apa yang dilakukan tangannya pada tubuhku. Jemari itu mengcengkeram kuat pundakku. Kedua pahanya merapat kuat. Menjepit pinggangku. Penisku berdenyut kencang, gerakan perlahan ini ternyata membawa kenikmatan tersendiri.

Tubuhya menegang.
“mmmmhh…….mmmmmhh…….” ia mendesah diikuti dengan melelehnya cairan kenikmatan dari vaginanya. aku mengcengkeram kuat payudara Naya dan menarik sedikit penisku sampai bibir vaginanya.

(sfx : Croott..Crooottt……Crooott….)
Spermaku menyembur dalam lubang kenikmatan itu. Semoga saja tidak sampai kerahimnya.

Naya menepuk punggungku, memintaku untuk bangkit.
Kami kembali kepada posisi duduk. Naya mengambil tisu di tas kecil yang dibawanya. Ia membersihkan lelehan spermaku. Tisu itu kemudian dimasukkan kedalam plastik kecil yang tadinya digunakan untuk menyimpan bedak.

“mba…… gapapa nih ML sama aku?” tanyaku berbisik. Aku membereskan baju dan celanaku yang porak poranda.
“gapapa… santai aja…..” katanya.

Aku hanya memandang kearahnya ketika ia membereskan pakaiannya.

Tak sampai dua menit, lampu ruangan itu kembali menyala.
Untunglah kami sudah kembali rapi. Sempat aku memandang ke sekeliling sebelum kami menuruni tangga.
Pasangan-pasangan itu masih sibuk merapikan pakaian mereka.
Kami berjalan menuju pintu keluar.

Beberapa orang berlalu lalang di lorong itu.
Sial, toilet penuh. Orang-orang yang ingin masuk kesana sampai harus mengantri di luar toilet.

“gak jadi ke toilet?” tanya Naya.
“ngak deh…. Males ngantrinya panjang… kita keluar aja dulu…” kataku.

Kami berjalan-jalan mengitari mall itu, tak ada yang cukup menarik untuk menahan mata kami memandang cukup lama.
Langkah kaki menuntun kami sampai di pelataran mall itu.
Sebuah kursi panjang terbuat dari besi terlihat kosong.

Kami berjalan menyusuri pelataran dan duduk disana.

 

Cukup lama kami duduk terdiam, tanpa ada satu pun yang berbicara.
Aku bertanya-tanya, mungkinkah ia sedang memikirkan tentang apa yang kami lakukan didalam.

“mba… kok diem aja si?” aku membuka pembicaraan.
“huh…?” ia menoleh menatap wajahku.

“ngak kok gapapa…..”
“ada yang dipikirin ya?” tanyaku.
“sedikit….”
“cerita aja….kali aku bisa bantu…”
“ga tau Tom…. Ini soal pilihan…….” Ia tertunduk.

Aku memandangi wajah Naya yang kini ekpresinya berubah menjadi sayu.
“soal pacar mba ya?” kataku.
Ia mengangguk.

Aku terdiam, tak melanjutkan lagi pembicaraan kami. Aku sadar, masalah seperti ini tidak mungkin bisa kucari jalan keluarnya. Hanya dirinya yang bisa memutuskan kemana ia akan melangkah.

“mungkin dia lagi check in di suatu tempat sama cewenya yang baru…” katanya.
“sabar mba….. cowo kan gak Cuma dia….”
“kamu mau bilang masih ada kamu gitu ya…..hihihi….” katanya.
“hehehe…… tadinya si, tapi gak jadi deh……” kataku.
Ia hanya tersenyum saja.
Kini ia mengangkat kembali wajahnya, membuang jauh-jauh perasaan gundah dalam hatinya. Ia memandang kelangit biru cerah yang terhampar luas dihadapan kami.

“coba aku bisa jadi awan itu…..” katanya.
“bisa kok…….”
“caranya?”

Aku tersenyum. Kuambil tiket bioskop dari saku celanaku.
Di kunci mobilku terdapat sebuah gantungan yang sebenarnya adalah ballpoint. Aku meraihnya dan menuliskan satu kata di secarik kertas itu. Kulipat kertas tebal itu menjadi dua lalu kuselipkan di leher kaus yang dipakai Naya.

“nih name tag nya jadi……” kataku.
Naya mengambil secarik kertas itu. Disitu tertulis ‘awan’.

“hihi…. Kamu emang paling bisa ngehibur cewe….”
“wettzz…. Siapa dulu…….”
“raja gombal……..hihihi”
“hahaha……”
Aku senang, kini Naya sudah bisa tersenyum lagi.

Langit cerah kini mulai gelap. Awan mendung mulai merapat membentuk formasi.
Kami beranjak dari tempat itu menuju parkiran mobil. Kami naik kedalam mobil. Tepat setelah pintu mobil tertutup rintik hujan mulai turun.
Mobil kunyalakan, kini wiper mobil sudah bergerak kekiri dan kekanan.
Menyapu tetesan air yang membasahi kaca depan. Kuinjak perlahan pedal gas berwarna hitam itu. Deru mesin mobil mulai terdengar. Kami beranjak dari tempat parkir itu. Meninggalkan jejak kenangan indah tentang apa yang terjadi dalam ruang gelap gulita itu.

“mau dianter pulang?” tanyaku.
“ngak ahh.. dirumah rame, males… aku ga suka tempat berisik…”
“trus mau kemana?”
“kerumah kamu aja……”
“ngapain?” tanyaku.
“mau main aja…. Ga boleh ya?”
“bolehh….bolehhh….”

Tujuan sudah ditetapkan, kupacu mobilku menuju rumah.
Sesampainya dirumah mama membukakan pintu untuk kami.
“ehhh siapa ini?” sapa mama ramah.
“kenalin mam….. ini Naya….”
“halo tante…. Kenalin aku Naya…… pacarnya Tomi….”

‘whatttt???’
Mendengar ucapan itu aku langsung menoleh kearah Naya.
“ahhhh…… ayo masuk masuk….. kok ga bilang-bilang mau kesini…. Kan tante bisa masakin makanan buat Naya….”
“ahh.. jangan repot-repot tante…” kata Naya.

Mereka berdua bergandengan masuk kedalam rumah.
Aku masih mengerutkan dahiku, bibirku tersenyum tipis. Entah apa yang dipikirkannya.

“kok kamu ga bilang udah punya pacar Tom….. katanya masi jomblo….”
“eeennnggg……”
“eh…… kita baru aja jadian tante……” Naya menyela perkataanku.
Sekali lagi aku menoleh kearah wajah Naya. Naya juga menoleh kearahku. Ia mengedipkan sebelah matanya.
“i…iya mah…… baru aja tadi jadian……”
Mama memandangku…. Bibirnya tersenyum, namun sorot matanya menunjukkan kecurigaan.

“Tom… sini bantu mama nyiapin minuman… kasian tuh Naya haus……” kata mama.
“iya………., eh sebentar ya…aku kedalam dulu…” kataku.
Naya mengangguk.

Mama berjalan menuju dapur. Aku berjalan mengikutinya dari belakang.
“hmm…. Ketauan ya…. Kemaren kamu pasti ngebayangin dia…..” kata mama berbisik.
“hehe….iya mam….”
“emank uda sejauh mana?”
“apanya mam?”
“ya hubungan kalian…..”
Aduh….. aku harus jawab apa.
Aku menggaruk-garuk kepala.

“yaa….. gitu deh mam…..”
“dasar…..” sepertinya mama sudah mengerti sejauh apa hubungan kami.

“kunci mobilnya mana?”
“mau ngapain mam?” tanyaku.
“mama mau keluar…… biar kalian lebih leluasa….. sini mana!”
“ihhh mama bisa aja……” aku merogoh kantong celanaku dan menyerahkan kunci mobil kepada mama.

Mama kembali berjalan ke ruang tamu. Sementara aku membawakan segelas sirup untuk Naya.
“aduh…. Maaf ya Nay… tante ga bisa nemenin kalian….., tante mau belanja dulu ke supermarket… soalnya tadi hujan….”
“ohhh iya tante… gapapa kok…..” Naya bangkit dari duduknya dan mencium tangan mama.
“hati-hati dijalan mah…..” kataku.

Tak lama, kudengar suara mesin mobilku mulai menjauh.
Pintar juga aktingnya. Ternyata mama memberi keleluasaan untukku melakukan apa saja dirumah. Aku meletakkan gelas yang kupegang. Meja kaca itu berbunyi ketika aku meletakkan gelas diatasnya.
“rumah kamu enak ya….. tenang…..”
“bukanya tenang…. Aku emank seringnya berdua aja sama mama…..”
“lho… papa kamu kemana…?”
“kalo ayah kerja diluar kota… di pengeboran minyak, jadi jarang pulang….”
“ohh…..”
“kok Cuma Ohh…. Diminum dong….”
“iya…… tapi ini ga dikasi obat tidur kan?”
“ya elah…… masa setega itu….. kalo kepengen juga aku bilang….” Kataku.
Naya hanya tersenyum. Ia meminum sepertiga air dalam gelas itu.

“emank udah ga kepingin lagi ya…..?” tanya Naya.
“hmmm….. ngasi kode….. eh itu maksudnya gimana…..aduh… mamaku jadi nyangka kita beneran pacaran…..”
“yaudah si dijalanin aja….. kamu jomblo kan?”
“iya si mba…. Tapi kan……..”
Naya menempelkan jari telunjuknya di bibirku.

“Ssssstttt…. Jangan panggil mba….. panggil aja Naya….ok”
Aku mengangguk.

Jemari tangan Naya begitu lembut menempel dibibirku. Aku mengusapnya perlahan, kemudian kugenggam pergelangan tangannya.
Kami saling mendekatkan wajah.

“mmmmmhhh…….” Naya mendesah ketika bibir kami bertemu.
Kedua tangannya merangkul leherku, menekan kepalaku semakin erat.

Lidah kami bertautan bagai tarian langit. (cuakakakakakaka…….. lebay mode ON)
Saling menyapu. Bagai pisau belati yang sedang diasah. Semakin mempertajam panca indera kami.
Kurasakan betul kehangatan tubuh Naya ketika aku meraba punggungnya.
Dirumah yang sunyi ini kami bebas melakukan apapun.
Aku menyelusupkan tangan kebalik kausnya. Kubuka pengait bra yang berada di punggungnya.
Naya menarik tubuhku merebah. Tangannya kini meraba punggungku.

Rasa geli menjalar keseluruh permukaan kulitku. Belaian tangannya yang lembut menjelajahi seluruh tubuhku.
Aku menyingkap kausnya. Kedua payudara Naya kini terpampang.
Ia mengangkat kedua tangannya, sekaan memintaku melepaskan busana yang ia kenakan.

Kutarik kaus itu perlahan hingga terlepas. Naya bangkit dan memelukku. Ia menarik kausku keatas dan melepaskannya.
Tubuh kami bertemu ketika ia menekan dadaku dengan payudaranya. Hangat sekali, tanganku kini dapat menyentuh kulitnya yang putih dengan leluasa.
Kini ia menindihku. Kepalaku menyandar di pinggir sofa berwarna abu-abu tua.

Aku menyusupkan tanganku diantara tubuh kami. Mencoba mencari keberadaan kancing roknya. Kulepaskan kait itu lalu perlahan kuturunkan rok beserta celana dalam Naya.
“Mmmmhh….. kamu sexy banget Nay…..”
“masa sih……”
“iya lah…. Kulit kamu putih, mulus, badan kamu langsing berisi. Perfect banget……. Gila aja cowo kamu selingkuh…….”
“Ssssttt….. dia bukan cowo aku lagi…..”

Naya bangkit dan melepaskan roknya.
“emang kapan putusnya…….?” Tanyaku.
“tadi di mobil aku sms dia….” Kata Naya. Tangannya dengan cekatan membuka celana panjangku.

Kini kami sudah benar-benar telanjang. Diruang tamu yang tidak seberapa luas itu bibir kami kembali bertemu.
Rintik hujan yang turun dengan lebatnya seakan menuntun hasrat kami untuk saling memberi kehangatan.

Hangatnya api asmara dalam diriku, mengusir dingin yang merasuk dalam.
‘Ohhh maaaannnnnn……… mimpi apa aku semalam…, eh semalam aku ga mimpi apa-apa ya…’

Kucumbui bidadari cantik ini.
Perlahan ciumanku beranjak dari bibirnya yang mungil. Matanya terpejam ketika lidahku bergerak menyusuri lekuk tubuhnya.

Kurebahkan tubuh Naya di sofa.
Kunikmati manisnya asmara ini dengan lidahku.
“mmmmmhhh Ahhhhhhh…Ahhh…” desahan halus itu meluncur dari bibirnya ketika aku mengulum puting yang menegang itu.

“Shhhh….. sayang………” Naya mengelus rambutku.
“kenapa?” aku mendongak memandang wajahnya.
“hihi…. Geli……..” katanya, ia masih terpejam.

Aku melanjutkan permainanku.
Lidahku menyapu seluruh bagian dadanya. Perlahan menjalar, melewati ketiaknya, lengannya, telapak tangannya, sampai jemarinya.
“Mmhhh…….Ahhhhhhh….” ia mendesah ketika aku mengulum jemari tangannya yang lembut.
Tangan kiriku meraba kulitnya yang halus.

Perlahan tapi pasti, tanganku menjelajahi pangkal pahanya. Menelusuri kehangatan menuju lubang kenikmatan itu.

Naya melepaskan jemarinya dari bibirku. Menarik kepalaku dan mulai menjilati leherku.
Payudaranya yang besar menekan erat dadaku. Hangat dan lembut.

“Ahhhhhh….Ahhhhhhh….Ahhh…” ia mendesah.
Jemariku mengusap lembut klitorisnya. Lipatan vagina itu mengapit jariku.
Naya tak tinggal diam. Sebelah tangannya kini mengcengkeram kuat penisku yang sudah menegang.
“sayang…… aku pengen kamu masukin……”
“kok buru-buru amat sih… nikmatin dulu dong….”
“mmmmhh…. Ayo cepetan, aku udah ga tahan…” ia menggelengkan kepala. Rambutnya yang hitam legam berkilau bergerak bagai tirai diterpa angin.

Ia mengarahkan penisku menuju vaginanya.
Vagina itu sudahbasah oleh cairan kenikmatan.

(sfx : Sleppp)
Tubuh kami menyatu. Cengkeraman vaginanya begitu hangat.
“mmmhh…… rapet banget memek kamu sayang….” Ceracauku.
Aku mulai memompa penisku. Perlahan-lahan suara bunyi berdecak menggema di ruangan itu ketika kulit kami beradu.
“Aaaahh…Ahhhh…Ahhhh…” desahannya cukup keras.

Aku menghentikan gerakanku.
“kenapa sayang?”
“sssttt…. Didalam aja yuk… takut kedengeran orang”
“ohhhh… boleh…”
Kami memungut pakaian kami yang berserakan dilantai berwarna putih itu. Aku menggendongnya di belakang punggungku ketika kami berjalan menuju kamar. Payudaranya yang kenyal berayun-ayun ketika aku melangkah.
Kamarku cukup berantakan. Baju-baju kotor berserakan di atas ranjangku.

Kuletakkan tubuhnya di atas ranjang itu. Pakaian-pakaian yang berserakan segera kusapu dengan sebelah lengan.
Belum semua pakaian jatuh kelantai, Naya menarik lenganku.
Kami kembali berpagutan dalam hangatnya persetubuhan ini.

Aku meremas lembut kedua payudaranya.
Kutekan kembali batang penisku menerobos kedalam lubang sempit nan hangat itu.

“mmmmhh…..” ia mendesah.
Kupercepat gerakanku.

Payudara kenyal itu kuremas dengan kasar. Kupilin kedua putingnya yang mengacung tegang.
“Ahhhhhh…….Ahhhhhh…..Ahhhhhh…….” desahan yang keluar dari bibirnya semakin liar.

“ohhh……nikmat banget sayang…..” kataku.
“terus….Ahhh……sayang……entotin aku……Ahhhhh….Ahhh……”

(sfx : rrrrrrttt….)
Ponsel Naya bergetar beberapa kali.
“hape kamu bunyi sayang….”
“biarin…….Ahhhh….Ahhh…..”
Ia sama sekali tak peduli dengan apa yang terjadi, tubuhnya menegang, vaginanya berdenyut kencang. Tampak ia sangat menikmati persetubuhan kami.

“mmmmhh……Ahhhh….aku……mau keluar…..Ahhh” ceracaunya.
Rasa merinding menjalar di punggungku.
“aku…..juga…Ahhhh…Ahhhh…..”

Kami memeluk erat satu sama lain. Seakan tak ingin melepaskan kenikmatan yang sebentar lagi akan datang. Gerakanku semakin cepat. Penisku menghujam kuat kedalam vaginanya.

“Akkhh….Ahhhhh…Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh……” ia melenguh panjang diikuti dengan cengkeraman kasar di pundakku.

(sfx : Croooottt…..Croooottt…..Croooottt……)
Spermaku menyembur deras kedalam rahimnya.
Kami terkulai lemas, tubuhku jatuh dalam pelukan hangat seorang wanita yang benar-benar sempurna.

“maaf…. Aku kelepasan…. Keluar di dalam jadinya…”
“hihi…. Gapapa….. dua hari lagi aku mens…..” katanya.
Syukurlah ia sedang tidak berada dimasa suburnya. Aku lega.

Aku merebahkan diri disampingnya. Naya meletakkan kepalanya di dadaku.
“kamu nyesel ga ketemu aku….” Tanya Naya.
“nyesel kenapa?”
“ya…..aku kan udah ga perawan……” katanya.
“emangnya aku masih perjaka?”
“hayo…… udah sering ya……” Naya mencubit dadaku.
“hehe….. ga juga si…..”
“gombal…….sama siapa aja?”
“sama mantanku…… sama teman….. trus sama……”
“sama siapa?”
“emm…… jangan deh… aku ga enak ngomongnya…..”
Naya kembali mencubitku.
“ihhh….. ayo dong…. Bilang aja sih gapapa…….”
“bener nih…… tapi….”
“tapi apa..?”
“ntar kamu ga mau lagi ketemu sama aku kalo aku bilang…..”
“iya-iya janji deh…….” Ia memelukku. Wajah kami kini berpandangan.
“sama mama…….”
“waduh………. Hahahaha…… nakal juga ya kamu…. Mama sendiri di embat juga…”
“ssshhh… denger dulu……. Abis mama kasian, ayah kan jarang pulang…. Jadinya….”
“Shh…. Iya-iya paham……” katanya.

Ia bangkit dari ranjang itu. Penisku yang melunak dicengkeramnya dengan sebelah tangan.
Wajahnya mendekat. Bibirnya yang lembut kini mengulum penisku yang berlumuran dengan cairan kenikmatan kami.
“mmmmhhh…Sshhhh…….. geli sayang…..” kataku.
Aku menarik perutnya untuk merebah di atas tubuhku. Kedua pahanya kini mengapit kepalaku. Vaginanya yang berwarna kemerahan masih berlumuran dengan cairan kenikmatan itu. Aku menjilatnya perlahan.
“mmmmmmhhh……” desahan itu keluar ketika batang penisku berada dalam kulumannya.
Jilatan demi jilatanku mendarat di lipatan daging itu. Naya menggoyang-goyangkan pinggulnya. Menekan lidahku erat di klitorisnya. Aku menjilatinya dengan liar. kukulum tonjolan daging kecil itu dan kuhisap.
“mmmmmmhhh….mmhhhh……mmmhh..” Naya mendesah hebat sambil terus mengulum penisku. Lidahnya bergerak liar, berdansa dengan batang penisku yang kini kembali mengeras.

Aku memasukkan dua jari kedalam lubang vaginanya. kujilat klitorisnya sambil menggerakkan jemariku keluar masuk.
“mmmmhhh..mmhh….Ahh….aku mau keluar sayang……….” Katanya.
Ia kembali mengulum penisku.
Dengan sebelah tanganku aku meremas buah dadanya yang berayun-ayun.

“Aaaaakkhhhh…..Aaaaaaahhhhh…Aaaaaaaaahhhhhhhhhh….” ia melenguh panjang.
Cairan kenikmatannya meleleh dari lubang itu, menetes membasahi pipiku.

Ia bangkit dari posisinya.
Wajahnya mendekat kewajahku. Lidahnya menyapu pipiku, membersihkan cairan kenikmatannya yang masih bersisa.
Ia kini merebah di atas tubuhku.

Dengan jemarinya yang cekatan, ia mengarahkan penisku menuju lubang kenikmatan itu.
“Akkkhhh….” Ia memekik.
“Aaaahhh…….. sayang…. Mmmhhh….” Aku mendesah ketika ia menggoyangkan pinggulnya. Penisku bergerak keluar masuk dengan cepat. Kudekap erat tubuh Naya.

Kunikmati rasa nikmat yang tak terkira. Permainan Naya cukup liar. ia menghujamkan penisku dengan brutal, sesekali ia menancapkannya sangat dalam dan memutar-mutar pinggulnya.
“Ahhh….sShhhh….kamu hebat banget sayang…”
“mmmhh….. kamu…..juga…Ahhhh..Ahhh…Ahhhhh…enak banget…..” ceracaunya.
Desahan kami bersahutan dalam ruangan itu.

Derit-derit suara per spring bed terdengar seirama dengan gerakan Naya.
Naya bangkit dan bertumpu pada tangannya. Ia terus menghujamkan penisku dalam vaginanya. seakan tanpa lelah, keringat yang bercucuran tidak menghalanginya untuk terus bergerak liar.
Kedua payudaranya yang mengacung kini melompat-lompat.
Aku menariknya untuk kembali merebah diatasku.
Kudekatkan wajah kami dan kucium bibirnya.

Kini aku yang menggerakkan pinggulku. Naik turun, gerakan itu kuulangi dengan irama yang cepat.
Kubiarkan tubuh Naya untuk beristirahat. Aku mengambil alih kendali.
Ciuman Naya mulai beralih keleherku. Kurasakan sapuan lidahnya yang lembut.
Tubuhku mulai menegang.

“Akkkhh…..aku mau keluar lagi……Ahhh…Ahh…”
“keluarin……aja….Ahhh..Ahhh aku juga hampir…..keluaaaaarrrrrr…………” cairan kenikmatan itu menyembur bersamaan dengan kata terakhir yang terucap olehnya.
Aku menghujamkan penisku sedalam mungkin.
(sfx : Croooooooottt…..Ccrrooooootttt…..Crrrrooott…)

Spermaku kembali membasahi lubang vaginanya.
Kami kembali terkulai lemas. Kupeluk erat tubuh Naya yang merebah di atas dadaku.

Nafas kami masih terengah-engah.
Kami mencoba mengatur napas, mengumpulkan kekuatan untuk bangkit.

Beberapa menit berlalu.
Naya bangkit dari pelukanku.

“masih mau lagi ga sayang?” tanya Naya.
“emang kamu masih pengen..?”
Naya menggelengkan kepala.
“tapi kalo kamu masih mau sih ayo….”
“ngak kok… aku udah kecapean….”
“bersihin dulu yuk…..”
Aku mengangguk.

Naya menarik tanganku. Aku bangkit dari ranjang itu dan menuntun Naya menuju kamar mandi.
Guyuran air dari shower itu membasahi tubuh kami. Kami berpelukan dan saling melumurkan sabun.
Tak lama kami menyudahi aktivitas itu.
Aku beranjak keluar kamar mandi dan mengambilkan sehelai handuk untuk Naya.

Tak lama kami segera mengenakan pakaian kami.
Saat itu kudengar deru mobil mama telah sampai di gerbang rumah kami.

Kami segera berjalan menuju ruang tamu.
Ternyata hujan sudah reda.

Aku keluar menyambut mama yang membawa dua kantong plastik besar. Banyak juga yang ia beli, rupanya ia tak sekedar akting.
“aduh…. Maaf ya Nay…… gimana betah kan nungguin tante?”
“iya tante…. Gapapa…..”
“bantuin tante masak yuk…. Kamu bisa masak?”
“bisa tante…sedikit….”

Aku senang, mereka cepat akrab. Kini mereka sedang asyik memasak di dapur, sementara aku terdiam duduk di sofa ruang tengah. Rasa lelah yang menghampiriku tak bisa kubendung, tak kusadari aku tertidur.

Satu jam berlalu, Naya membangunkanku.
Bau harum masakan tercium jelas dari arah dapur. Rupanya mereka sudah selesai memasak.
“mmmh…. Jam berapa?”
“jam 3 sore sayang…. Makan dulu yuk… dipanggil sama mama kamu….”
Aku mengucek mataku ketika aku bangkit dan berjalan bersama Naya.

Kami makan bersama, terihat seperti satu keluarga yang bahagia.
Sesudah makan Naya pamit untuk pulang. Mama mencium pipi kanan dan kiri Naya.

Kami bergegas masuk kedalam mobil, terlihat mama melambaikan tangannya kepada kami.
Naya membalas lambaian tangan itu dan tersenyum.

Dalam perjalanan menuju rumah Naya, kami berbicang-bincang tentang hubungan kami.
Yup…. Saat itu aku mengutarakan perasaanku kepadanya. Betapa aku kagum kepada dirinya, ia baik, pintar, cantik, sempurna. Saat itulah kami benar-benar resmi berpacaran.

Berpacaran dengan wanita yang lebih tua, bagiku bukanlah suatu masalah. Karena hal terindah dalam sebuah hubungan bukanlah usia…. Tapi cinta.

~ TAMAT ~

Penulis Cerpen Seks: Megatron21

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*